225. Suara Yang Menembus Mimpi

Romance Series 382

BAB 225

Beberapa saat setelah Fiona menceritakan semuanya—

suasana di dalam kamarnya kembali tenang.

Fiona masih duduk di tempat tidurnya.

Darrien berada di sampingnya.

Elarion, Rowan, dan Ace masih berada di sekitar meja bundar.

Fiona tiba-tiba melihat ke arah jendela.

Cahaya matahari sudah cukup terang.

Ia mengerutkan kening.

“Sekarang jam berapa?”

Darrien melirik keluar jendela.

“Sudah hampir waktu makan siang.”

Fiona langsung terdiam.

“Hampir makan siang?”

Darrien mengangguk.

“Ya.”

Fiona mengingat kembali apa yang terjadi di dalam mimpinya.

Ia menatap Darrien.

“Tunggu…”

“Ada yang aneh.”

“Apa?”

Fiona mengerutkan kening.

“Ketika aku berada di sana…”

“Di dalam mimpi itu…”

Ia menunjuk dirinya sendiri.

“Waktu di sana sudah seperti sore.”

“Langit bahkan sudah mulai gelap.”

Darrien memperhatikannya.

Fiona melanjutkan,

“Tapi sekarang baru hampir siang?”

Elarion ikut mengangkat kepalanya.

Fiona kemudian menatap Darrien lebih serius.

“Dan satu lagi.”

“Apa?”

“Aku mendengar suaramu.”

Darrien terdiam.

“Suaramu terdengar jelas di dalam mimpiku.”

Fiona menatap matanya.

“Kau memanggil namaku.”

“Lalu kau bilang aku harus bangun.”

Darrien mengangkat alis.

“Benarkah?”

Fiona mengangguk.

“Bagaimana suaramu bisa masuk ke dalam mimpiku?”

Darrien diam beberapa saat.

Kemudian mengangkat bahu.

“Bagaimana aku tahu?”

Fiona memelototinya.

“Kau yang memanggilku.”

“Dan kau berharap aku tahu bagaimana caranya?”

Darrien menunjuk dirinya sendiri.

“Aku bahkan tidak tahu aku bisa melakukan itu.”

Fiona menghela napas.

“Baik…”

Darrien tersenyum kecil.

“Yang satu ini harus kau cari jawabannya sendiri.”

Fiona mengangguk pelan.

“Baik.”

Ia kemudian tiba-tiba teringat sesuatu.

“Tunggu.”

Ia menoleh kepada Darrien.

“Kau tidak latihan hari ini?”

Ruangan langsung hening.

Darrien mengalihkan pandangan.

Fiona mengerutkan kening.

“Bukankah latihanmu seharusnya sudah dimulai sejak pagi?”

Rowan menahan senyum.

Ace juga terlihat berusaha keras agar tidak tertawa.

Fiona melihat keduanya.

“Kenapa kalian begitu?”

Ace akhirnya tidak tahan.

“Karena…”

Ia melirik Darrien.

“Sepertinya seseorang tidak bisa berkonsentrasi ketika seseorang yang biasanya menjadi penyemangatnya tidak ada.”

Rowan langsung tertawa.

“Benar.”

“Begitu Fiona tidak muncul…”

Ace melanjutkan,

“Darrien mulai kehilangan fokus.”

Darrien langsung menatap mereka.

“Diam.”

Rowan tertawa semakin keras.

“Lalu?”

Ace mengangkat bahu.

“Kevin menghajarnya.”

Fiona membulatkan mata.

“Benarkah?”

Darrien menghela napas.

“Latihannya berhenti di tengah.”

Fiona menatapnya.

“Kau kalah?”

Darrien terdiam.

“…Sedikit.”

Rowan langsung tertawa.

“Sedikit katanya.”

Ace menambahkan,

“Padahal Kevin bahkan belum benar-benar mulai.”

Darrien melirik keduanya dengan tatapan tajam.

“Apakah kalian ingin ikut berlatih?”

Keduanya langsung diam.

“Tidak.”

“Tidak, terima kasih.”

Elarion akhirnya tertawa kecil.

“Setidaknya sekarang kita tahu satu hal.”

Darrien menoleh.

“Apa?”

Elarion tersenyum.

“Keberadaan Fiona ternyata cukup berpengaruh terhadap konsentrasimu.”

Wajah Darrien langsung berubah.

Fiona juga ikut tertawa.

“Jadi…”

Ia menatap Darrien.

“Selama ini aku memang cheerleader-mu?”

Darrien menghela napas.

“Jangan mulai.”

Fiona tertawa lebih keras.

Dan untuk beberapa saat—

misteri tentang mimpi, Lunaris, gelang, dan suara yang mampu menembus alam mimpi terlupakan.

Setidaknya—

sampai mereka mulai memikirkan semuanya lagi.

Karena satu pertanyaan masih belum memiliki jawaban.

**Bagaimana suara Darrien bisa mencapai Fiona di dalam dunia mimpinya?**

********

Elarion akhirnya berdiri dari kursinya.

“Baiklah.”

Ia menatap Fiona.

“Kurasa sekarang sudah waktunya makan siang.”

Fiona berkedip.

“Makan siang?”

Elarion mengangguk.

“Ya.”

Fiona tiba-tiba terlihat sedikit malu.

“Aku bahkan belum sarapan…”

Darrien menatapnya.

Rowan dan Ace saling berpandangan.

Kemudian—

ketiganya tertawa.

Fiona langsung mengembungkan pipinya.

“Apa?”

Ace menahan tawanya.

“Sleeping Beauty.”

Rowan langsung menambahkan,

“Bangun menjelang makan siang.”

Fiona memelototi mereka.

“Aku tidak sengaja tidur selama itu!”

Darrien tersenyum kecil.

“Tidak ada yang menyalahkanmu.”

Fiona langsung menoleh kepadanya.

“Kau juga tertawa.”

Darrien segera memalingkan wajah.

“Aku tidak.”

“Kau tertawa.”

Elarion tertawa kecil.

“Sudahlah.”

“Kalau begitu, mari kita makan.”

***

Tidak lama kemudian—

mereka meninggalkan kamar Fiona.

Namun kali ini, mereka tidak menuju ruang makan kerajaan.

Ace dan Rowan membawa mereka menuju area makan yang biasa digunakan para penjaga.

Fiona sedikit terkejut.

“Kita makan di sini?”

Ace mengangguk.

“Sesekali.”

“Tidak setiap waktu kita harus makan di ruang makan kerajaan.”

Rowan tersenyum.

“Lagipula, tempat ini lebih santai.”

Fiona mengangguk.

“Benar juga.”

Mereka terus berjalan.

Namun ketika memasuki area makan—

langkah mereka perlahan berhenti.

Fiona melihat seseorang duduk sendirian di salah satu meja.

Kevin.

Ia sedang menikmati makan siangnya dengan tenang.

Sendirian.

Tidak ada Rowan.

Tidak ada Ace.

Dan tidak ada siapa pun di sekitarnya.

Fiona menatapnya.

Darrien juga berhenti.

Ace dan Rowan saling berpandangan.

Elarion hanya mengangkat alis.

Untuk beberapa detik—

tidak ada seorang pun yang berbicara.

Kevin masih makan dengan tenang.

Seolah-olah ia belum menyadari kedatangan mereka.

Darrien akhirnya bergumam,

“…”

Fiona menoleh kepadanya.

“Apa?”

Darrien menghela napas.

“Tidak apa-apa.”

Namun tatapannya masih tertuju pada Kevin.

Entah kenapa—

melihat Kevin duduk sendirian setelah latihan pagi yang berhenti di tengah membuat Darrien merasa sedikit curiga.

Mereka semua masih berdiri di tempat.

Kemudian—

Kevin akhirnya mengangkat kepalanya.

Tatapannya bertemu dengan mereka.

“…”

Keheningan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience