383. Dua Hati, Satu Tujuan

Romance Completed 594

BAB 383 — DUA HATI, SATU TUJUAN

POV DARRIEN

Aku berjalan meninggalkan area latihan bersama Fiona.

Tubuhku masih terasa lelah.

Namun anehnya—

aku tidak merasa ingin beristirahat.

Pikiranku masih sibuk dengan apa yang baru saja terjadi.

Kecepatan.

Magic sense.

Silent chant.

Dan cara bergerak tanpa meninggalkan jejak.

Semua itu terasa semakin alami.

Seolah-olah tubuhku pernah melakukan hal yang sama ribuan kali.

Aku mengangkat tanganku.

Magicure gelap mengalir tipis di antara jari-jariku.

Aku memperhatikannya.

Tidak ada rasa asing lagi.

Justru—

terasa seperti sesuatu yang seharusnya memang berada di sana.

Aku menghela napas.

“Grandmaster…”

Fiona yang berjalan di sampingku menoleh.

“Masih memikirkannya?”

“Ya.”

Aku tersenyum kecil.

“Semakin banyak yang kulihat dalam mimpi, semakin banyak yang terasa familiar.”

Fiona tidak langsung menjawab.

Ia hanya berjalan di sampingku.

Aku menoleh kepadanya.

“Kau sudah tahu semua ini sejak awal?”

Fiona tersenyum.

“Tidak semuanya.”

“Benarkah?”

“Benar.”

Ia memandang ke depan.

“Namun aku tahu kemampuanmu dahulu.”

Aku terdiam.

Dahulu.

Kata itu terasa aneh.

Aku belum mengingat semuanya.

Namun tubuhku seolah-olah tidak membutuhkan ingatan untuk mengenali kekuatan itu.

Aku kembali melihat tanganku.

“Aku ingin mempelajarinya.”

Fiona mengangguk.

“Pelan-pelan.”

“Aku tahu.”

Aku tersenyum.

“Lagipula aku masih punya Kevin.”

Fiona langsung tertawa.

Aku menghela napas.

“Jangan tertawa.”

“Aku tidak menertawakanmu.”

“Kau jelas menertawakanku.”

“Sedikit.”

Aku menatapnya.

Kemudian ikut tertawa.

***

POV FIONA

Darrien sudah berubah.

Bukan menjadi orang yang berbeda.

Justru—

ia mulai menjadi dirinya sendiri.

Kemampuan yang dulu pernah ia miliki perlahan muncul kembali.

Namun kali ini tanpa memaksa ingatan.

Aku bisa merasakan perubahan magicure-nya.

Lebih dalam.

Lebih tenang.

Lebih terkendali.

Dan yang paling menarik—

ia mulai memahami magic sense seperti dahulu.

Aku memandangnya diam-diam.

Darrien sedang berjalan sambil memikirkan sesuatu.

Kemudian tiba-tiba—

ia menghilang.

Aku berhenti.

Beberapa detik kemudian—

ia muncul kembali di sampingku.

Aku mengangkat alis.

“Untuk apa?”

Darrien tersenyum.

“Memastikan kau masih di sini.”

Aku tertawa.

“Kau benar-benar trauma setelah tidak bisa menemukanku tadi.”

“Bukan trauma.”

“Lalu?”

“Waspada.”

Aku menatapnya.

“Bedanya?”

Darrien berpikir.

“…Tidak tahu.”

Aku tertawa lagi.

Dia memang masih Darrien yang sama.

Hanya saja—

sekarang dia mulai bergerak seperti Grandmaster yang dulu.

***

Kami berjalan menuju taman istana.

Darrien tiba-tiba berhenti.

Ia memandang ke arah pepohonan.

“Ada sesuatu.”

Aku ikut berhenti.

“Apa?”

“Magicure.”

Aku memperhatikan ekspresinya.

Dia sedang menggunakan magic sense.

Beberapa detik kemudian—

seekor burung kecil keluar dari balik dedaunan.

Darrien menatapnya.

Kemudian tertawa kecil.

“Hanya burung.”

Aku tersenyum.

“Magic sense-mu berkembang.”

“Ya.”

Dia terlihat puas.

Aku kemudian berkata,

“Tapi jangan terlalu percaya diri.”

Darrien menatapku.

“Kenapa?”

“Karena masih ada satu orang yang bisa menghilang darimu.”

Aku tersenyum.

Darrien langsung memahami maksudku.

“Fiona…”

Aku tertawa.

“Besok mungkin aku akan melakukannya lagi.”

Darrien menghela napas.

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Karena aku akan mencarimu.”

Aku menatapnya.

Tatapannya serius.

Namun kemudian—

senyum kecil muncul di wajahnya.

“Aku akan menemukanmu.”

Aku tersenyum.

“Kalau begitu…”

Aku berjalan lebih dulu.

“…coba saja.”

Darrien mengikuti.

***

POV DARRIEN

Aku melihat punggung Fiona.

Entah kenapa—

aku merasa sangat tenang.

Aku masih belum memahami semua yang terjadi.

Mimpi-mimpi itu masih menyimpan terlalu banyak pertanyaan.

Grandmaster.

Saintess.

Masa lalu.

Magicure.

Namun untuk sekarang—

aku tidak perlu mengetahui semuanya.

Aku hanya perlu belajar.

Sedikit demi sedikit.

Dan jika Fiona terus membantuku—

aku yakin suatu hari nanti aku akan memahami semuanya.

Aku tersenyum.

Kemudian mempercepat langkah.

Fiona menoleh.

“Kenapa?”

“Tidak ada.”

Aku berjalan di sampingnya.

“Hanya ingin memastikan aku tidak tertinggal.”

Fiona tertawa kecil.

“Bukankah kau tadi mengatakan ingin mengejarku?”

“Ya.”

“Kalau begitu…”

Ia tersenyum.

“Kejar aku.”

Aku menatapnya.

Kemudian—

tersenyum.

“Dengan senang hati.”

Dan untuk sesaat—

tidak ada masa lalu.

Tidak ada mimpi.

Tidak ada misteri.

Hanya kami berdua.

Berjalan bersama.

Sementara magicure kami mengalir tenang di antara udara Veyth.

Namun jauh di dalam diri Darrien—

sesuatu terus berubah.

Dan perlahan—

kekuatan yang pernah tertidur selama ribuan tahun mulai membuka matanya kembali.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience