Series
94
BAB 65
TUJUH HARI UNTUK MELARIKAN DIRI
Tujuh hari.
Itulah waktu yang tersisa sebelum pernikahan.
Fiona berdiri di depan jendela kamarnya sambil memandang halaman kediaman Ardika.
Selama beberapa hari terakhir, ia tidak lagi meminta untuk pulang.
Tidak lagi berdebat dengan para pelayan.
Tidak lagi mencoba membuka pintu setiap kali penjaga berganti.
Ia menjadi tenang.
Terlalu tenang.
Dan justru karena itulah Marcus mulai memperhatikannya lebih hati-hati.
***
Pagi itu, seorang pelayan datang membawa sarapan.
“Nona.”
Fiona menoleh.
“Letakkan saja di sana.”
Pelayan tersebut menurut.
Fiona kemudian bertanya dengan santai,
“Jam berapa dapur mulai menyiapkan makanan?”
Pelayan itu mengerutkan kening.
“Dapur?”
“Ya.”
“Sekitar sebelum matahari terbit.”
Fiona mengangguk.
“Pantas saja aku sering mendengar suara dari bawah.”
Pelayan itu tidak curiga.
Namun Fiona menyimpan informasi tersebut.
Sebelum matahari terbit.
Hari pertama.
***
Siang hari, Fiona meminta berjalan-jalan di taman.
Dua penjaga mengikutinya.
Ia tidak mencoba melarikan diri.
Ia hanya berjalan.
Melihat bunga.
Melihat kolam.
Melihat dinding.
Menghitung pintu.
Menghitung penjaga.
Gerbang utama memiliki terlalu banyak pengawal.
Tidak mungkin.
Gerbang samping digunakan para pelayan.
Dua penjaga.
Masih sulit.
Bagian belakang kediaman memiliki tembok tinggi.
Fiona menatapnya cukup lama.
Tidak.
Ia tidak bisa memanjatnya tanpa bantuan.
Kemudian matanya tertuju pada sebuah bangunan kecil di dekat belakang kediaman.
“Bangunan apa itu?”
Salah satu penjaga menjawab,
“Gudang.”
“Untuk apa?”
“Persediaan dapur.”
Fiona mengangguk.
Ia kembali berjalan.
Namun dalam pikirannya—
Gudang.
Hari kedua.
***
Hari berikutnya, Fiona pergi ke dapur.
Para pelayan terkejut melihatnya.
“Nona?”
“Aku lapar.”
“Kami bisa membawakan makanan ke kamar.”
“Aku bosan di kamar.”
Tidak ada yang berani menolaknya.
Fiona duduk sambil memakan kue.
Namun matanya terus bergerak.
Pintu belakang dapur.
Keranjang.
Kotak.
Gerobak.
Beberapa pedagang datang membawa bahan makanan.
Mereka masuk melalui gerbang samping.
Fiona menggigit kuenya perlahan.
Menarik.
Salah satu gerobak kembali keluar dalam keadaan kosong.
Tidak ada penjaga yang memeriksa bagian dalamnya.
Fiona menunduk agar tidak terlihat tersenyum.
Hari ketiga.
***
Hari keempat.
Fiona pergi ke kandang kuda.
“Aku ingin melihat kuda.”
Penjaga yang mengikutinya menghela napas.
Namun mereka membiarkannya.
Ada lebih dari sepuluh kuda.
Beberapa kereta.
Dan satu pintu kecil di belakang kandang.
Fiona mendekatinya.
“Ke mana jalan ini?”
Seorang penjaga kandang menjawab,
“Jalan lama menuju pasar.”
“Masih digunakan?”
“Kadang-kadang.”
Fiona mengangguk.
Ia tidak bertanya lagi.
Namun jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Jalan lama.
Pasar.
Hari keempat.
***
Malam itu, Fiona duduk di tempat tidur.
Ia mengambil sebuah kertas kecil.
Kemudian mulai menggambar.
Kamar.
Lorong.
Tangga.
Dapur.
Gudang.
Kandang.
Gerbang.
Ia tidak tahu apakah gambarnya benar-benar akurat.
Namun cukup.
Fiona menatapnya.
“Masih tiga hari…”
Ia harus memilih.
Gerobak dapur terlalu berisiko.
Gerbang samping dijaga.
Tembok terlalu tinggi.
Namun kandang…
Fiona mengetuk kertas dengan jarinya.
Pintu belakang kandang menuju jalan lama.
Itu kemungkinan terbaik.
Tetapi ada masalah.
Setelah keluar—
ke mana ia harus pergi?
Fiona tahu nama kota tempat Darrien tinggal.
Ia tahu arah secara umum.
Namun ia tidak tahu jalan pulang dengan pasti.
Jika salah memilih jalan…
ia bisa tersesat.
Lebih buruk lagi—
keluarga Ardika pasti akan mencarinya.
Fiona menyentuh bunga kecil yang masih disimpannya.
“Darrien…”
Ia menarik napas.
“Aku harus mencoba.”
***
Hari kelima.
Lola datang ke kamar Fiona.
Ia menutup pintu.
“Kau sedang merencanakan sesuatu.”
Fiona membeku.
“Apa?”
Lola menyilangkan tangan.
“Kau berhenti mengeluh.”
“Itu aneh?”
“Sangat.”
Fiona menatapnya.
Lola berjalan mendekat.
Kemudian melihat sebuah sudut kertas yang tersembunyi di bawah bantal.
Fiona segera menutupinya.
Lola mengangkat alis.
“Kau mau melarikan diri.”
Fiona tidak menjawab.
Lola duduk di sampingnya.
“Aku tidak akan memberitahu siapa pun.”
Fiona menatapnya curiga.
“Kenapa?”
Lola tertawa kecil.
“Karena kalau kau pergi…”
Ia menunjuk dirinya sendiri.
“…mereka tidak punya pilihan selain menghadapi masalah yang mereka buat.”
Fiona hampir tersenyum.
“Kau benar-benar tidak ingin menikah.”
“Benar.”
“Clark tidak terlalu buruk.”
Lola menatapnya.
“Kau sudah bertemu dengannya?”
Fiona mengangguk.
“Sedikit.”
“Bagaimana?”
Fiona berpikir.
“Dia suka melihat orang makan kue.”
Lola terdiam.
“Apa?”
Fiona mengangkat bahu.
“Aku juga tidak mengerti.”
Lola tertawa.
Untuk pertama kalinya, keduanya tertawa bersama.
Namun kemudian Lola kembali serius.
“Kapan?”
Fiona menatap pintu.
“Belum tahu.”
“Pernikahan tinggal dua hari lagi setelah besok.”
“Aku tahu.”
Lola menggigit bibir.
Kemudian ia berkata pelan,
“Kalau kau benar-benar ingin pergi…”
Fiona menatapnya.
“…jangan gunakan gerbang.”
Fiona langsung diam.
Lola mendekat sedikit.
“Ada jalan lama di belakang kandang.”
Fiona menahan ekspresinya.
“Aku tahu.”
Lola tersenyum.
“Bagus.”
“Tapi pintunya dikunci.”
“Aku tahu.”
Lola memasukkan tangan ke sakunya.
Kemudian—
**ting.**
Sebuah kunci kecil jatuh di atas tempat tidur.
Fiona membeku.
Ia menatap kunci tersebut.
Kemudian menatap Lola.
“Ini…”
“Kunci pintu belakang kandang.”
Fiona tidak langsung mengambilnya.
“Kenapa kau membantuku?”
Senyum Lola perlahan menghilang.
“Karena kau berada di sini karena aku.”
Fiona menggeleng.
“Bukan.”
“Sebagian.”
Lola menatap tangannya.
“Aku berpura-pura sakit karena aku tidak ingin menikah.”
“Ayah dan Ibu panik.”
“Lalu mereka menemukanmu.”
Ia mengangkat wajah.
“Aku memang tidak menyuruh mereka menculikmu.”
“Tapi aku juga tidak menghentikan mereka.”
Fiona terdiam.
Lola mendorong kunci itu ke arahnya.
“Pergilah.”
Fiona akhirnya mengambilnya.
“Kalau mereka tahu kau membantuku…”
“Aku putri mereka.”
Lola mengangkat bahu.
“Apa yang akan mereka lakukan?”
Fiona hampir tertawa.
Namun sebelum Lola pergi, Fiona bertanya,
“Kalau aku berhasil keluar…”
Lola berhenti.
“Apa?”
Fiona menggenggam kunci.
“Apa yang akan terjadi padamu?”
Lola terdiam cukup lama.
Kemudian tersenyum tipis.
“Itu masalahku.”
Pintu terbuka.
Lola keluar.
Fiona tetap duduk di tempat tidur.
Kunci kecil berada di telapak tangannya.
Untuk pertama kalinya sejak dibawa ke kediaman Ardika…
jalan keluar benar-benar berada di tangannya.
***
Namun di ujung lorong—
Marcus berdiri.
Ia melihat Lola keluar dari kamar Fiona.
Kemudian melihat ekspresi gadis itu.
Marcus tidak mengatakan apa-apa.
Lola melewatinya.
“Tuan Marcus.”
“Nona.”
Lola terus berjalan.
Marcus kemudian menatap pintu kamar Fiona.
Ia telah mengawasi gadis itu selama beberapa hari.
Kunjungan ke dapur.
Taman.
Gudang.
Kandang.
Pertanyaan-pertanyaan kecil.
Marcus menghela napas.
“Jadi akhirnya…”
Ia sudah tahu.
Fiona sedang mencari jalan keluar.
Namun ia belum tahu satu hal.
**Kapan.**
***
Malam itu, Fiona menyembunyikan kunci di dalam pakaiannya.
Ia tidak akan pergi malam ini.
Terlalu mudah ditebak.
Besok juga belum tentu.
Ia harus menunggu saat ketika kediaman paling sibuk.
Saat para penjaga kehilangan perhatian.
Saat semua orang memikirkan pernikahan.
Fiona berbaring.
Untuk pertama kalinya selama berminggu-minggu, ia tersenyum.
“Darrien…”
Tangannya menggenggam bunga kecil di bawah selimut.
“Tunggu aku.”
Ia tidak tahu bahwa di jalan menuju wilayah Ardika…
Darrien juga semakin dekat.
Sementara jarak di antara mereka perlahan mengecil—
Fiona hanya membutuhkan satu kesempatan.
Satu pintu.
Satu kunci.
Dan keberanian untuk berlari tanpa menoleh ke belakang.
Share this novel