143. Terlalu Lama Menatap

Romance Series 382

BAB 143
TERLALU LAMA MENATAP

Setelah selesai membersihkan diri di danau, Darrien berjalan perlahan kembali menuju Fiona.

Fiona masih duduk di tepi danau.

Namun begitu ia melihat Darrien mendekat—

tatapannya kembali berhenti.

Terutama pada matanya.

Mata yang sebelumnya selalu terlihat berbeda karena pengaruh segel kini tampak jauh lebih jelas.

Tatapan itu membuat Fiona tanpa sadar terdiam.

Darrien semakin dekat.

Fiona masih menatapnya.

Sampai akhirnya—

“Sudah selesai menatap?”

Fiona tersentak.

“Apa?”

Darrien berhenti tepat di hadapannya.

“Kau terus menatapku.”

Fiona langsung memalingkan wajah.

“Aku tidak.”

Darrien mengangkat alis.

“Tidak?”

“Tidak.”

“Kau yakin?”

Fiona mengangguk cepat.

“Yakin.”

Darrien tersenyum.

Kemudian ia meraih tangan Fiona.

Fiona terkejut ketika Darrien menariknya perlahan ke dalam pelukannya.

“Darrien…”

Darrien menunduk sedikit.

“Kalau begitu…”

Ia menatap mata Fiona.

“…kenapa kau selalu melihatku?”

Fiona terdiam.

Wajahnya perlahan memerah.

“Aku hanya…”

Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

Darrien tersenyum.

“Seperti apa yang kau lihat?”

Fiona menatapnya sebentar.

Kemudian langsung memalingkan wajah.

“Tidak ada.”

Darrien tertawa kecil.

“Telingamu merah.”

Fiona langsung menutup telinganya dengan kedua tangan.

“Jangan lihat!”

“Kenapa?”

“Karena…”

Fiona semakin malu.

Darrien mendekat sedikit.

“Karena apa?”

Fiona tidak menjawab.

Darrien akhirnya tertawa.

“Aku tidak menyangka kau bisa semalu ini.”

Fiona memukul dadanya pelan.

“Diam.”

Darrien menangkap tangannya.

Kemudian ia menggenggamnya dengan lembut.

“Kalau kau benar-benar tidak menyukaiku…”

Ia berhenti sejenak.

“…kau tidak akan terus melihatku.”

Fiona terdiam.

Darrien tersenyum.

“Benar?”

Fiona menggigit bibirnya pelan.

Kemudian akhirnya mengangguk kecil.

“Sedikit.”

Darrien mengangkat alis.

“Sedikit?”

Fiona mengangguk.

“Sedikit…”

Darrien mendekat.

“Kalau begitu aku harus membuatmu melihat lebih lama.”

Fiona langsung menatapnya.

“Jangan!”

Darrien tertawa.

Fiona ikut tertawa.

Kemudian ia menyandarkan kepalanya di dada Darrien.

“Walaupun wajahmu berubah…”

Ia berkata pelan.

“…kau tetap Darrien.”

Darrien mengusap rambutnya.

“Dan kau tetap Fiona.”

Mereka terdiam sejenak.

Angin lembut bertiup melewati danau.

Fiona kemudian mengangkat wajahnya.

“Darrien.”

“Hm?”

“Kalau nanti semua orang mengetahui wajahmu…”

Ia berhenti.

“Kau tidak takut?”

Darrien menatapnya.

“Dulu mungkin.”

“Sekarang?”

Darrien menggenggam tangannya.

“Sekarang aku punya seseorang yang tetap melihatku sebagai diriku sendiri.”

Fiona tersenyum.

“Siapa?”

Darrien menatapnya.

“Kau.”

Fiona kembali memerah.

“Jangan mengatakan hal seperti itu tiba-tiba.”

“Kenapa?”

“Karena…”

Ia menunduk.

“…membuatku malu.”

Darrien tertawa kecil.

“Kalau begitu aku akan mengatakannya lebih sering.”

Fiona menatapnya dengan wajah kesal.

“Darrien!”

Tawa mereka terdengar di tepi danau.

Untuk beberapa saat—

tidak ada kerajaan.

Tidak ada vampir.

Tidak ada segel.

Tidak ada misteri.

Hanya dua orang yang menikmati waktu bersama.

Dan tanpa mereka sadari—

tanda kecil berbentuk sepasang sayap di belakang bahu Darrien masih terlihat samar.

Menunggu saatnya seseorang mengenalinya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience