Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 379 — HILANG DARI INDERA
Latihan antara Fiona dan Darrien terus berlanjut.
Tidak ada yang menyadari berapa lama mereka sudah berada di dalam barrier.
Yang mereka tahu—
kecepatan keduanya terus meningkat.
Setiap kali salah satu dari mereka menemukan batas baru—
yang lain ikut mengejarnya.
Tidak ada yang ingin berhenti.
Tidak ada yang ingin mengalah.
Namun perlahan—
sesuatu yang aneh mulai terjadi.
Jejak magicure mereka semakin tipis.
Bukan karena magicure mereka melemah.
Justru sebaliknya.
Magicure mereka menjadi semakin padat dan terkendali.
Begitu terkendali—
hingga hampir tidak meninggalkan jejak.
***
Darrien bergerak.
Tidak ada suara.
Tidak ada bayangan.
Tidak ada perubahan udara yang jelas.
Ia hanya—
menghilang.
Fiona juga menghilang.
Tidak ada benturan.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada tanda bahwa keduanya masih berada di dalam barrier.
Namun—
mereka masih bertarung.
Mengandalkan magic sense.
Mengandalkan insting.
Mengandalkan aliran magicure yang begitu halus hingga bahkan udara di sekitarnya tidak banyak berubah.
***
Di luar barrier—
Ace berdiri dengan mata menyipit.
“…”
Ia memandang ke dalam.
Kosong.
“Apakah mereka masih ada?”
Rowan mengangguk.
“Seharusnya.”
Ace menoleh.
“Seharusnya?”
Rowan terdiam.
“…Aku tidak yakin.”
Elarion mencoba menggunakan magic sense.
Ia memejamkan mata.
Beberapa detik.
Kemudian—
membuka kembali.
“Tidak.”
Elyon menatapnya.
“Tidak bisa?”
Elarion menggeleng.
“Aku tidak bisa merasakan mereka.”
Ace langsung melihat Kevin.
“Kevin?”
Kevin masih berdiri diam.
Tatapannya tajam.
Ia memperluas magic sense-nya.
Lebih jauh.
Lebih dalam.
Ia mencari jejak Darrien.
Tidak ada.
Ia mencari Fiona.
Tidak ada.
Kevin membuka matanya.
Untuk pertama kalinya—
ekspresinya benar-benar serius.
“Mereka menghilangkan seluruh kehadiran mereka.”
Rowan menelan ludah.
“Seluruhnya?”
Kevin mengangguk.
“Bukan hanya menyembunyikan aura.”
“Bahkan aliran magicure mereka hampir tidak meninggalkan jejak.”
Ace menatap barrier.
“Jadi…”
Ia menunjuk ke dalam.
“…kita benar-benar tidak tahu mereka ada di mana?”
Kevin mengangguk.
“Benar.”
Hening.
Ace kemudian berbisik,
“Ini agak menyeramkan.”
Rowan mengangguk.
“Sedikit.”
Elarion tertawa kecil.
“Bukankah ini justru perkembangan yang mereka cari?”
Elyon mengangguk.
“Ya.”
Ia memandang barrier.
“Mereka tidak lagi bertarung dengan penglihatan.”
“Mereka bertarung menggunakan indra mereka sendiri.”
***
Di dalam barrier—
Darrien berdiri.
Atau setidaknya—
begitulah yang ia pikirkan.
Ia tidak dapat melihat Fiona.
Namun ia bisa merasakan sesuatu.
Sangat tipis.
Hampir tidak ada.
Sebuah perubahan kecil pada aliran magicure di udara.
Darrien tersenyum.
“Ketemu.”
Ia bergerak.
**WHOOSH!**
Fiona menghindar.
Namun—
Darrien sudah memprediksi arah gerakannya.
Fiona kembali menghilang.
Darrien ikut menghilang.
Tidak ada satu pun dari mereka yang dapat dilihat.
Namun—
suara langkah kecil terdengar.
Kemudian berhenti.
Hening.
Kemudian—
**BOOM!**
Sebuah benturan kecil muncul di tengah barrier.
Keduanya muncul hanya sepersekian detik.
Kemudian menghilang lagi.
***
Di luar—
Ace terkejut.
“Mereka muncul!”
Rowan langsung melihat ke tengah barrier.
Namun ketika ia melihat—
mereka sudah menghilang lagi.
“…Tidak jadi.”
Ace menghela napas.
“Kenapa aku merasa mereka sedang mempermainkan kita?”
Elarion tertawa.
“Karena mungkin memang begitu.”
Kevin justru tersenyum.
“Bagus.”
Ace menatapnya.
“Bagus?”
Kevin mengangguk.
“Ini adalah hasil dari latihan mereka.”
Ia memandang barrier.
“Ketika seorang penyihir tidak lagi membutuhkan mata untuk menemukan lawannya…”
“maka magic sense mereka telah mencapai tingkat lain.”
***
Latihan terus berlanjut.
Menit demi menit.
Tidak ada yang tahu berapa lama.
Hanya suara angin yang bergerak melewati pepohonan.
Sesekali—
sebuah gelombang magicure kecil muncul.
Kemudian menghilang.
Tidak ada sosok.
Tidak ada bayangan.
Tidak ada suara.
Hanya keberadaan yang sesekali terasa—
lalu hilang lagi.
Sampai akhirnya—
bahkan Kevin tidak bisa lagi memastikan posisi mereka.
Ia membuka matanya.
“…”
Ace menatapnya.
“Bagaimana?”
Kevin diam beberapa saat.
Kemudian menjawab,
“Tidak tahu.”
Ace dan Rowan saling pandang.
Mereka langsung tertawa.
“Bahkan Kevin tidak tahu!”
Kevin menatap mereka.
“Jangan terlalu senang.”
Ace langsung diam.
Rowan juga.
Kevin kembali melihat barrier.
“Kalau mereka bisa mencapai tingkat ini dalam waktu sesingkat ini…”
Ia tersenyum kecil.
“…maka Darrien benar-benar berkembang.”
Elyon mengangguk.
“Dan Fiona juga.”
Elarion tersenyum.
“Pasangan yang merepotkan.”
***
Di dalam barrier—
Darrien dan Fiona kembali muncul.
Hanya sesaat.
Mereka saling memandang.
Kemudian—
keduanya tersenyum.
Tidak ada kata-kata.
Tidak perlu.
Mereka sudah memahami satu sama lain melalui magic sense.
Darrien mengangkat tangannya.
Fiona mengambil posisi.
Kemudian—
keduanya menghilang kembali.
Kali ini—
bahkan tidak ada sisa magicure yang tertinggal.
Di luar barrier—
lima orang berdiri dalam keheningan.
Tidak ada yang bisa merasakan mereka.
Tidak ada yang bisa melihat mereka.
Tidak ada yang tahu posisi mereka.
Hanya satu hal yang pasti—
**Darrien dan Fiona masih berada di sana.**
Dan latihan mereka—
belum selesai.
