403. Hari Yang Buruk Di Veyth

Romance Completed 594

BAB 403 — HARI YANG BURUK DI VEYTH

Sementara itu—

jauh di dalam Shadowcresent…

Fiona masih tertidur.

Tidak ada suara dari luar kamar.

Tidak ada perlawanan.

Tidak ada Pure Light yang kembali menyala.

Hanya napasnya yang terdengar pelan dan teratur.

Untuk sementara—

ia tidak mengetahui apa pun tentang dunia di luar sana.

Tidak mengetahui bahwa seluruh Veyth sedang berada dalam kekacauan.

Dan tidak mengetahui—

bahwa seseorang telah mulai memperhatikannya lebih dari yang seharusnya.

***

VEYTH KINGDOM.

Hari itu—

seharusnya menjadi hari biasa.

Matahari telah terbit seperti biasanya.

Para penjaga telah melakukan pergantian tugas.

Para pelayan telah membuka pintu-pintu aula.

Para pejabat telah membawa laporan mereka.

Namun—

tidak ada satu pun yang benar-benar terasa normal.

Sejak pagi—

suasana istana terasa berat.

Terlalu berat.

Para pelayan yang biasanya berbicara dengan santai berjalan lebih cepat.

Para penjaga berdiri lebih tegak dari biasanya.

Dan setiap kali seseorang melihat ke arah ruang kerja Raja—

mereka segera menundukkan kepala.

Tidak ada yang ingin menjadi orang pertama yang bertanya.

Karena semua orang sudah mengetahui satu hal.

Putri Fiona—

belum kembali.

***

Di dalam ruang kerja Raja—

Edward berdiri di depan meja.

Tidak ada laporan yang benar-benar ia baca.

Beberapa lembar dokumen masih terbuka di hadapannya.

Namun pikirannya berada di tempat lain.

Shadowcresent.

Raizen.

Dan Fiona.

Gloria berdiri di dekat jendela.

Tangannya kembali menggenggam ujung gaunnya.

Ia sudah melakukan itu sejak mereka kembali.

Tanpa sadar.

Edward menatapnya.

“Gloria.”

Gloria menoleh.

“Ya?”

“Duduklah.”

“Aku tidak bisa.”

Edward terdiam.

Gloria menatap keluar jendela.

“Kalau aku duduk…”

Ia menarik napas.

“…aku akan terus memikirkan Fiona.”

Edward tidak menjawab.

Karena ia juga melakukan hal yang sama.

***

Pintu ruang kerja terbuka.

Darrien masuk.

Tidak ada salam.

Tidak ada percakapan.

Ia hanya berjalan masuk dan berdiri di tengah ruangan.

Edward menatapnya.

“Darrien.”

Darrien mengangkat wajah.

“Apakah ada kabar?”

Edward menggeleng.

“Belum.”

Hening.

Darrien menutup matanya sebentar.

Kemudian menarik napas.

“Tidak ada?”

“Tidak.”

Darrien mengepalkan tangannya.

“Aku harus kembali.”

Edward langsung menjawab.

“Belum.”

Darrien menatap ayahnya.

“Kenapa?”

“Karena kita bahkan tidak tahu bagaimana cara masuk kembali ke Shadowcresent.”

Darrien terdiam.

Edward melanjutkan,

“Dan kita tidak tahu kemampuan apa lagi yang dimiliki Raizen.”

“Aku tidak peduli.”

“Aku tahu.”

Edward berdiri.

“Tapi aku adalah Rajamu dan juga merupakan Ayahmu.”

Tatapan mereka bertemu.

“Dan aku tidak akan membiarkanmu masuk ke wilayah yang bahkan tidak kita pahami hanya karena kemarahan.”

Darrien terdiam.

Namun wajahnya masih keras.

“Aku hanya ingin Fiona kembali.”

Edward menatap putranya.

“Aku juga.”

***

Pintu kembali terbuka.

Kevin masuk.

Ia membawa beberapa catatan.

Namun ekspresinya jauh lebih serius daripada biasanya.

“Bagaimana?”

Edward bertanya.

Kevin meletakkan catatan di atas meja.

“Tidak ada hasil.”

Darrien menoleh.

“Tidak ada?”

Kevin menggeleng.

“Kami mencoba mencocokkan apa yang kita rasakan di Shadowcresent dengan catatan magicure lama.”

Ia berhenti.

“Tidak ada yang cocok.”

Elarion yang datang di belakangnya ikut berbicara.

“Bukan hanya tidak cocok.”

Semua mata tertuju kepadanya.

Elarion menatap catatan tersebut.

“Sebagian besar catatan tentang vampire yang kita miliki bahkan terlalu dangkal untuk digunakan.”

Ace menghela napas.

“Hebat.”

Rowan menyandarkan tubuhnya ke dinding.

“Jadi kita menghadapi sebuah kerajaan yang bahkan tidak kita pahami…”

Elyon menyelesaikan kalimatnya.

“…dan Raja yang kekuatannya bahkan tidak bisa kita ukur.”

Tidak ada yang membantah.

***

Kevin kemudian menatap Darrien.

“Kalau kau ingin kembali ke sana…”

Darrien langsung menjawab.

“Aku akan.”

Kevin mengangguk.

“Aku tahu.”

Kemudian—

Kevin berkata dengan tenang,

“Karena itu kau akan berlatih.”

Darrien menatapnya.

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Darrien tidak membantah.

Untuk pertama kalinya—

bahkan latihan Kevin yang biasanya terasa seperti penyiksaan tidak membuatnya mengeluh.

Ia hanya mengangguk.

“Baik.”

Kevin memperhatikannya beberapa detik.

Kemudian berkata,

“Kalau begitu bersiaplah.”

Darrien berbalik.

Namun sebelum keluar—

ia berhenti.

Tangannya menyentuh gagang pintu.

“Aku akan membawanya kembali.”

Tidak ada seorang pun yang menjawab.

Namun semua orang tahu—

Darrien tidak sedang membuat janji kosong.

***

Di luar ruang kerja—

istana tetap berjalan.

Namun hari itu berbeda.

Para pelayan berbisik.

Para penjaga bertanya-tanya.

Para bangsawan yang berada di istana mulai mendengar kabar mengenai kejadian di Shadowcresent.

Satu demi satu—

pertanyaan mulai muncul.

Siapa Raizen?

Apa itu Shadowcresent?

Mengapa Veyth tiba-tiba berhadapan dengan Klan Vampire?

Dan yang paling penting—

di mana Fiona?

Namun tidak ada jawaban.

Karena bahkan Raja Veyth sendiri—

belum memiliki jawabannya.

***

Sementara itu—

di tempat yang jauh dari Veyth…

Fiona masih tertidur.

Tenang.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Rambutnya terurai di atas bantal.

Segel hitam masih melingkari kedua pergelangan tangannya.

Pure Light-nya tidak dapat keluar.

Namun di balik kesunyian itu—

sesuatu perlahan bergerak di dalam tubuhnya.

Sangat kecil.

Hampir tidak terasa.

Sebuah cahaya tipis.

Seperti sinar bulan yang tertutup awan.

Kemudian menghilang kembali.

Fiona tidak menyadarinya.

Raizen juga belum melihatnya.

***

Malam mulai mendekati Veyth.

Hari yang panjang akhirnya hampir berakhir.

Namun bagi Darrien—

hari itu belum selesai.

Ia berdiri sendirian di halaman latihan.

Pedangnya berada di tangannya.

Tatapannya kosong ke arah langit.

Ia mengingat satu hal.

Barrier itu.

Tangan Fiona yang hampir meraihnya.

Kemudian—

ia menggenggam pedangnya lebih erat.

“Raizen…”

Suaranya rendah.

“Aku akan datang.”

Di kejauhan—

Kevin berdiri sambil mengawasinya.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Namun dalam pikirannya—

ia tahu.

Mulai hari itu—

latihan Darrien akan berubah.

Karena sekarang—

Darrien tidak lagi berlatih untuk menjadi lebih kuat.

Ia berlatih karena seseorang yang dicintainya berada di tempat yang tidak mampu ia jangkau.

Dan di antara mereka—

berdiri sebuah kerajaan.

Seorang Vampire King.

Dan sebuah barrier yang belum mampu ia hancurkan.

***

Sementara itu—

di Shadowcresent…

Fiona masih tertidur.

Dan untuk malam ini—

ia hanya memiliki satu keyakinan yang tersisa.

Bahkan dalam tidurnya—

namanya masih berada di ujung bibirnya.

“...Darrien.”

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience