Series
382
BAB 228
Tekanan di dalam battlefield berubah.
Darrien langsung merasakannya.
Udara di sekelilingnya terasa lebih berat.
Namun yang paling membuatnya waspada—
Kevin tidak lagi berdiri dengan santai seperti sebelumnya.
Posisinya berubah.
Kakinya sedikit merendah.
Tangannya berada di depan tubuh.
Tatapannya menjadi jauh lebih tajam.
Darrien menelan ludah.
“…”
Kevin tersenyum tipis.
“Sekarang kita naik satu tingkat.”
Darrien mengangkat alis.
“Satu tingkat?”
“Ya.”
Darrien menarik napas.
“Seberapa jauh?”
Kevin tidak menjawab.
Ia hanya melangkah maju.
**BOOM!**
Dalam sekejap—
Kevin menghilang.
Darrien langsung memutar tubuh.
Terlambat.
**BAM!**
Serangan Kevin menghantam pertahanannya.
Darrien terdorong beberapa meter.
“Ugh!”
Ia menahan keseimbangannya.
Fiona langsung berdiri lebih tegak di luar barrier.
“Darrien!”
Darrien mengangkat tangan.
“Aku tidak apa-apa!”
Kevin sudah berada di depannya lagi.
“Jangan melihat tempat aku berada.”
Darrien mengerutkan kening.
“Lalu?”
“Baca gerakanku sebelum aku bergerak.”
Darrien menarik napas.
Kevin maju lagi.
Kali ini Darrien tidak menunggu.
Ia mengubah posisinya lebih dahulu.
**WHOOSH!**
Kevin muncul di sampingnya.
Darrien sudah menghindar.
Namun Kevin langsung mengubah arah.
Darrien mengangkat lengannya.
**BAM!**
Benturan kembali terjadi.
Darrien mundur.
“Cepat sekali…”
Kevin tersenyum.
“Baru mulai.”
Darrien mengertakkan gigi.
***
Di luar barrier—
Ace dan Rowan yang biasanya masih suka bercanda mulai diam.
Ace menatap arena.
“Dia meningkatkan kecepatannya.”
Rowan mengangguk.
“Jauh.”
Fiona menggenggam tangannya sendiri.
Namun kali ini dia tidak mencoba memberikan bantuan.
Dia hanya memperhatikan.
Setiap gerakan Kevin.
Setiap perubahan arah.
Setiap cara Darrien bertahan.
Elarion juga memperhatikan dengan serius.
“Lihat kakinya.”
Fiona menoleh.
“Apa?”
“Kevin hampir tidak menggunakan gerakan besar.”
Elarion menunjuk ke arena.
“Dia hanya memindahkan berat tubuhnya sedikit.”
“Karena itu Darrien terlambat membaca arahnya.”
Fiona kembali melihat arena.
“Oh…”
Matanya mulai mengikuti gerakan Kevin.
Bukan hanya Darrien yang sedang belajar.
Fiona juga belajar.
***
Di dalam battlefield—
Darrien kembali berdiri.
Napasnya masih teratur.
Namun pikirannya bekerja cepat.
**Jangan ikuti tubuhnya.**
**Baca perpindahan berat tubuhnya.**
Ia mengingat perkataan Elarion.
Kevin maju.
Darrien tidak bergerak.
Kevin mengubah arah.
Darrien masih menunggu.
Kemudian—
Kevin menyerang.
Darrien menghindar.
Serangan itu lewat beberapa sentimeter dari wajahnya.
Kevin tersenyum.
“Bagus.”
Darrien tidak membuang kesempatan.
Ia memutar tubuh.
Serangan balik.
**BAM!**
Kevin menahan serangannya.
Namun kali ini—
Darrien tidak berhenti.
Ia mengubah ritme.
Serangan kedua.
Ketiga.
Keempat.
Kevin menangkis semuanya.
Darrien melompat mundur.
Keduanya kembali berjarak.
Darrien tersenyum.
“Sekarang aku mulai bisa melihatnya.”
Kevin mengangguk.
“Ya.”
Darrien sedikit terkejut.
Kevin kemudian berkata,
“Karena kau akhirnya berhenti mengejar.”
Darrien terdiam.
“Kau mulai menunggu.”
“Lalu membaca.”
Darrien mengepalkan tangannya.
“Jadi itu yang kau inginkan sejak awal?”
Kevin tersenyum tipis.
“Sekarang kau mulai mengerti.”
Kemudian—
Kevin menghilang lagi.
Darrien langsung bersiap.
Namun kali ini kecepatannya jauh lebih tinggi.
**BOOM!**
Darrien nyaris terkena.
Ia menghindar.
Kevin menyerang dari arah lain.
Darrien memutar tubuh.
Serangan berikutnya datang dari belakang.
Darrien menunduk.
Serangan melewati kepalanya.
Ia langsung membalas.
**BAM!**
Kevin menahan serangan itu.
Darrien tersenyum.
“Dapat!”
Kevin tersenyum balik.
“Belum.”
Tiba-tiba—
Kevin menggunakan momentum Darrien sendiri.
Tubuh Darrien terlempar.
“WOAH!”
Ia jatuh berguling beberapa meter sebelum menghentikan dirinya.
Fiona langsung menahan napas.
Namun Darrien segera bangkit.
Ia mengusap sudut bibirnya.
Kemudian tertawa kecil.
“Begitu rupanya.”
Kevin menatapnya.
“Masih mau lanjut?”
Darrien berdiri tegak.
“Tentu.”
Ia mengepalkan kedua tangannya.
“Kalau aku berhenti sekarang…”
Darrien tersenyum.
“…aku tidak akan pernah tahu seberapa jauh aku bisa berkembang.”
Kevin mengangguk puas.
“Jawaban yang benar.”
Di luar barrier—
Fiona tersenyum.
Elarion juga terlihat puas.
Ace dan Rowan kembali saling pandang.
Ace berbisik,
“Dia mulai gila.”
Rowan mengangguk.
“Sepertinya.”
Fiona mendengar mereka.
“Bukan gila.”
Ia tersenyum.
“Dia sedang belajar.”
Di dalam arena—
Kevin kembali mengambil posisi.
“Kalau begitu…”
Auranya kembali meningkat.
Darrien langsung membelalak.
“Tunggu.”
Kevin tersenyum.
“Kita belum selesai.”
Darrien menatapnya tidak percaya.
“Bukankah ini sudah mode upgrade?”
“Ya.”
“Lalu kenapa auramu masih naik?”
Kevin menjawab dengan tenang.
“Karena…”
Ia melangkah maju.
“…ini baru upgrade pertama.”
Darrien:
“…”
Fiona menutup mulutnya.
Ace dan Rowan langsung tertawa.
Elarion hanya menghela napas.
Dan Kevin—
akhirnya kembali menyerang.
**BOOM!**
Revenge training berlanjut.
Share this novel