287. Jejak Yang Tertinggal

Romance Series 382

BAB 287 — JEJAK YANG TERTINGGAL

Semuanya masih terdengar normal.

Tawa kecil.

Percakapan ringan.

Suara orang-orang di luar kios.

Namun Darrien—

tidak lagi mendengarkan percakapan di sekitarnya.

Tatapannya masih tertuju pada pintu dapur.

Entah mengapa—

dadanya terasa tidak nyaman.

Sebuah perasaan buruk perlahan muncul.

Tidak jelas.

Tidak kuat.

Namun cukup untuk membuat nalurinya bergerak.

“Fiona…”

Darrien berdiri.

Elyon langsung menoleh.

“Ada apa?”

Darrien tidak menjawab.

Ia berjalan cepat menuju pintu dapur.

Kemudian semakin cepat.

Tangannya langsung meraih gagang pintu.

**BAAM!**

Pintu terbuka keras.

Semua orang di aula langsung terdiam.

Darrien masuk.

“Fiona?”

Tidak ada jawaban.

Ia melihat sekeliling.

Tidak ada Fiona.

Tidak ada Giselle.

Dapur itu kosong.

Peralatan masih berada di tempatnya.

Beberapa bahan masih tersusun di meja.

Sebuah wadah bahkan masih terbuka.

Namun—

tidak ada seorang pun.

Darrien berdiri diam.

“Fiona?”

Kali ini suaranya lebih rendah.

Masih tidak ada jawaban.

Ia bergerak menuju bagian belakang.

Pintu lain terbuka.

Kosong.

Tidak ada jalan keluar yang jelas.

Tidak ada jejak perkelahian.

Tidak ada darah.

Tidak ada kerusakan.

Hanya—

sisa energi magis yang sangat tipis.

Darrien berhenti.

Matanya menyipit.

Ia merasakan udara di sekitarnya.

Satu kali.

Dua kali.

Kemudian—

ia menemukan arahnya.

Belakang kios.

Menuju hutan.

“Elyon.”

Elyon langsung mendekat.

“Apa?”

“Masih ada sisa sihir.”

Elyon memejamkan mata.

Ia mencoba merasakannya.

Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah.

“Benar.”

Kevin juga datang.

“Seberapa jauh?”

Darrien tidak menjawab.

Ia sudah berjalan menuju pintu belakang.

Langkahnya cepat.

Semakin cepat.

“Darrien.”

Elyon mencoba menghentikannya.

Namun Darrien sudah membuka pintu.

Angin dari luar langsung menerpa wajahnya.

Hutan terbentang di belakang kios.

Gelap.

Sunyi.

Darrien menatap jauh ke dalam pepohonan.

Tangannya perlahan mengepal.

Tidak ada kepanikan di wajahnya.

Belum.

Namun ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

**ketenangan yang terlalu dalam.**

“Dia dibawa pergi.”

Kevin menatapnya.

“Jangan bertindak gegabah.”

Darrien menoleh.

“Aku tahu.”

Jawabannya singkat.

Namun napasnya mulai berubah.

Perlahan.

Teratur.

Tarik.

Buang.

Tarik.

Buang.

Sesuatu yang telah dilatih Kevin selama berbulan-bulan.

Bukan untuk menghilangkan emosinya.

Tetapi untuk membuatnya tetap mampu berpikir ketika emosinya berada di titik tertinggi.

Darrien kembali melihat hutan.

“Aku akan menemukan dia.”

Elyon mengangguk.

“Kita semua akan mencarinya.”

Darrien tidak menjawab.

Tatapannya tetap berada di antara pepohonan.

Di sana—

sisa sihir Giselle masih sangat samar.

Namun cukup.

Sebuah jejak.

Satu-satunya petunjuk yang mereka miliki.

Dan Darrien mengikutinya.

***

Jauh dari Pasar Cahaya—

Fiona perlahan membuka matanya.

Pandangan pertamanya kabur.

Kepalanya terasa berat.

Ia mencoba bergerak.

**KLANG!**

Sesuatu menahan tubuhnya.

Fiona terkejut.

Ia melihat ke bawah.

Batang-batang logam mengelilinginya.

Sebuah kandang.

Namun bukan kandang biasa.

Simbol-simbol sihir terukir di setiap batang.

Cahaya redup mengalir di sepanjang permukaannya.

Fiona mencoba menyentuhnya.

Begitu jarinya mendekat—

sebuah gelombang kecil mendorong tangannya kembali.

“Apa…?”

Ia menoleh ke sekeliling.

Tempat itu tidak dikenalnya.

Hutan.

Kabut tipis.

Tanah lembap.

Udara dingin.

Tidak ada tanda-tanda Pasar Cahaya.

Tidak ada kios.

Tidak ada Darrien.

Jantung Fiona berdetak lebih cepat.

Kemudian—

sebuah suara terdengar.

“Sudah bangun?”

Fiona membeku.

Ia mengangkat kepala.

Di luar kandang—

wanita yang ia kenal dari pasar berdiri dengan tenang.

Pemilik kios.

Namun kini ada sesuatu yang berbeda.

Sangat berbeda.

Fiona menatapnya dengan bingung.

“Kenapa…”

Ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya.

Dua sosok lain berdiri di samping wanita tersebut.

Keduanya memiliki penampilan yang sangat berbeda dari para manusia biasa yang Fiona temui di Lunaris.

Tampan.

Tenang.

Namun aura mereka—

dingin.

Berat.

Dan membuat naluri Fiona memperingatkannya untuk menjauh.

Fiona menatap keduanya.

Kemudian tubuhnya perlahan menegang.

Tatapan itu.

Ada sesuatu dalam tatapan mereka yang mengingatkannya pada seseorang.

Seseorang yang pernah membuatnya merasa sangat takut.

Musaka.

Napas Fiona tertahan.

“…”

Ia mundur sedikit sampai punggungnya menyentuh jeruji kandang.

Matanya mulai dipenuhi ketakutan.

Wanita itu hanya tersenyum.

Sementara dua vampire di sampingnya terus menatap Fiona dalam diam.

Fiona tidak tahu di mana dirinya.

Tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di sana.

Dan yang paling membuatnya takut—

ia tidak tahu apa yang mereka inginkan darinya.

Namun satu hal mulai terasa jelas.

Ia telah jatuh ke tangan orang yang salah.

Dan jauh di Lunaris—

Darrien baru saja menemukan jejak pertama.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience