Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 476 — JIKA DIA TIDAK MENGINGAT
Darrien membeku.
Matanya melebar.
Untuk beberapa saat, ia bahkan lupa bagaimana cara bernapas.
"Kecuali..."
Suara Grandmaster Darrien masih terdengar jelas di kepalanya.
"...dia mengingatnya."
Darrien berkedip perlahan.
Seolah-olah otaknya sedang berusaha memahami kalimat yang baru saja didengarnya.
"Apa...?"
Suaranya keluar sangat pelan.
Ia tidak yakin apakah dirinya salah mendengar.
"Apa yang kau katakan...?"
Grandmaster Darrien tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap Darrien.
Tatapan tenangnya justru membuat Darrien semakin gelisah.
Darrien perlahan mundur satu langkah.
Kakinya terasa berat.
"Segel..."
Ia menelan ludah.
"...di dalam diri Fiona?"
Tangannya bergerak tanpa sadar.
Jari-jarinya mengepal di sisi tubuh.
Pikirannya mulai dipenuhi berbagai pertanyaan.
Segel apa?
Siapa yang memasangnya?
Kapan?
Dan yang paling penting—
mengapa?
Darrien mencoba berbicara lagi.
"Siapa yang..."
Suaranya terhenti.
Ia mengerutkan kening.
"Siapa yang melakukan itu?"
Hening.
Grandmaster Darrien masih tidak menjawab.
Darrien menatapnya semakin tajam.
Kemudian sebuah nama muncul di dalam pikirannya.
Nama yang sejak awal sudah berada di sana.
Nama yang selama ini ia benci.
Nama yang sekarang terasa jauh lebih mengerikan daripada sebelumnya.
"Raizen..."
Kedua tangan Darrien perlahan naik menuju kepalanya.
Jari-jarinya mencengkeram rambutnya.
Napasnya menjadi semakin berat.
"Raizen..."
Ia mengulang nama itu dengan suara bergetar.
Kemudian tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Darrien mencoba menahannya.
Namun lututnya akhirnya menyentuh rerumputan.
Ia jatuh berlutut.
Kepalanya tertunduk.
Kedua tangannya masih berada di kepalanya.
"Apa yang dia lakukan pada Fiona...?"
Suaranya hampir seperti bisikan.
Namun penuh kepanikan.
"Apa yang sebenarnya dia lakukan padanya...?"
Darrien mengangkat wajahnya kembali.
Matanya mulai memerah.
"Apa yang dia coba lakukan dengan menyegel ingatannya tentang kita?"
Tidak ada jawaban.
Grandmaster Darrien hanya berdiri beberapa langkah di depannya.
Tenang.
Diam.
Namun sorot matanya perlahan berubah.
Ia bisa melihat sesuatu yang bahkan Darrien sendiri tidak ingin akui.
Ketakutan.
Bukan takut kepada Raizen.
Bukan takut akan kematian.
Melainkan takut bahwa Fiona mungkin benar-benar tidak akan pernah mengingatnya lagi.
Darrien menundukkan kepala.
Tangannya perlahan turun.
"Aku..."
Suaranya serak.
"...baru saja menemukannya lagi."
Ia tertawa kecil.
Namun tawa itu terdengar pahit.
"Setelah semua yang terjadi..."
Ia mengusap wajahnya dengan satu tangan.
"...aku bahkan belum sempat benar-benar membawanya kembali."
Darrien menarik napas.
Namun napas itu bergetar.
Grandmaster Darrien akhirnya berbicara.
"Itulah sebabnya aku mengatakan kau masih terlalu lemah."
Darrien diam.
"Pada keadaanmu sekarang..."
Grandmaster Darrien berhenti sebentar.
"...mungkin diperlukan bertahun-tahun untuk menyelamatkannya."
Darrien langsung mengangkat kepala.
"Tidak."
Jawabannya cepat.
Hampir seperti refleks.
"Aku tidak mau."
Tangannya mengepal.
"Aku tidak mau menunggu selama itu."
Ia bangkit sedikit dari posisi berlutut, tetapi tubuhnya masih terasa berat.
"Aku tidak mau bertahun-tahun hanya untuk membawanya kembali kepadaku."
Grandmaster Darrien memperhatikannya.
Darrien menundukkan kepala lagi.
Kemudian sebuah bayangan buruk muncul dalam pikirannya.
Fiona.
Berada di Shadowcresent.
Bersama Raizen.
Tanpa mengingatnya.
Hari demi hari.
Bulan demi bulan.
Tahun demi tahun.
Darrien menggigit bibirnya.
"Siapa tahu..."
Ia berhenti.
Dadanya terasa semakin sesak.
"Siapa tahu apa yang akan terjadi nanti."
Suaranya mulai pecah.
"Siapa tahu..."
Ia menelan ludah.
"...apa yang akan dilakukan vampire itu kepadanya."
Tangannya gemetar.
"Aku tidak tahu apa yang dia lakukan saat aku tidak ada di sana."
Ia memejamkan mata.
"Aku bahkan tidak tahu apakah Fiona baik-baik saja."
Air mata mulai menggenang.
Namun Darrien masih mencoba menahannya.
Grandmaster Darrien melihatnya tanpa berkata apa-apa.
Kemudian pertanyaan berikutnya datang.
"Apa yang akan kau lakukan jika kau berdiri di hadapan vampire itu sekarang?"
Darrien terdiam.
"Kau akan melawannya?"
Hening.
"Kau yakin bisa mengalahkannya dengan kekuatanmu yang sekarang?"
Darrien menatap tanah.
Tidak ada jawaban.
Karena ia sudah mengetahui jawabannya.
Tidak.
Ia belum mampu.
Grandmaster Darrien melanjutkan.
"Dan bahkan jika kau mampu..."
Ia berhenti.
"...apa kau yakin kemenanganmu akan mengembalikan Fiona?"
Darrien mengangkat matanya sedikit.
"Kalau kau menghancurkan Raizen..."
Tatapan Grandmaster Darrien menjadi lebih dalam.
"...apakah Fiona akan langsung mengingatmu?"
Darrien terdiam.
"Atau..."
Grandmaster Darrien menarik napas perlahan.
"...apakah dia masih akan melihatmu sebagai orang asing?"
Kalimat itu menghantam Darrien lebih keras daripada serangan apa pun.
Tubuhnya perlahan membungkuk.
Kedua tangannya jatuh ke sisi tubuhnya.
Ia tidak lagi mencoba menjawab.
Karena untuk pertama kalinya...
ia menyadari bahwa kekuatan saja mungkin tidak cukup.
Bahkan jika ia berhasil mengalahkan Raizen—
itu belum berarti Fiona akan kembali kepadanya.
Darrien menatap rerumputan.
Tetes air mata jatuh.
Satu.
Kemudian satu lagi.
Ia tidak mengusapnya.
Tidak ada suara tangisan.
Hanya napasnya yang semakin berat.
"Aku..."
Suaranya bergetar.
"...harus menemukan jalan."
Grandmaster Darrien tetap diam.
"Aku pasti bisa menemukan cara."
Darrien mengepalkan tangannya di atas rumput.
"Ada jalan."
Ia mengulanginya seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri.
"Harus ada."
Air mata terus mengalir.
Namun kali ini Darrien tidak lagi berusaha menyembunyikannya.
"Aku tidak bisa hanya menunggu."
Suaranya semakin pelan.
"Aku tidak bisa melihat Fiona..."
Ia berhenti.
Rahangnya bergetar.
"...melupakan semuanya."
Satu tetes air mata jatuh dari dagunya.
Darrien menutup matanya.
"Kenangan kami..."
Ia menarik napas panjang.
"...semuanya."
Jarinya mencengkeram rumput.
"Aku tidak ingin semua itu hilang."
Suara Darrien hampir tidak terdengar.
"Aku ingin dia mengingat."
Ia membuka mata kembali.
Tatapannya penuh air.
"Aku ingin Fiona kembali."
Kemudian—
suaranya pecah.
"Aku ingin dia kembali kepadaku."
Darrien menundukkan kepala.
Bahu dan tubuhnya bergetar kecil.
Namun ia tidak menangis keras.
Ia hanya membiarkan air mata jatuh.
Diam-diam.
Seolah-olah bahkan di saat seperti ini pun...
sebagian dirinya masih ingin mempertahankan sedikit harga dirinya.
"Ada jalan..."
Bisiknya lagi.
"Harus ada cara agar aku bisa membantunya mendapatkan kembali ingatannya."
Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
Namun air mata yang baru kembali muncul.
"Aku akan menemukannya."
Grandmaster Darrien menatapnya.
Untuk pertama kalinya, sorot matanya benar-benar menunjukkan kesedihan.
Namun ia tidak mengatakan apa pun.
Tidak menenangkan.
Tidak menyentuh.
Tidak memberi jawaban.
Ia hanya berdiri di sana.
Membiarkan Darrien menangis.
Karena mungkin...
dirinya dari masa lalu sudah tahu bahwa ada beberapa luka yang tidak dapat disembuhkan dengan kata-kata.
Dan ada beberapa jawaban...
yang hanya bisa diberikan setelah seseorang siap menerimanya.
Darrien masih berlutut di tepi danau.
Air mata terus mengalir di pipinya.
Sementara Grandmaster Darrien hanya memandangnya dalam diam.
Dua sosok.
Satu dari masa lalu.
Satu dari masa kini.
Dan keduanya...
mencintai wanita yang sama.
