252. Malam Yang Berakhir

Romance Series 382

BAB 252

Bulan telah naik tinggi di langit.

Cahayanya menggantung di atas istana Veyth, memantul pada kristal-kristal yang menghiasi menara dan dinding istana.

Crystal Hall yang sejak sore dipenuhi suara musik dan percakapan—

perlahan mulai tenang.

Satu per satu tamu mulai meninggalkan aula.

Para pelayan sibuk mengantar para bangsawan menuju kereta mereka.

Beberapa tamu masih berdiri di dekat pintu, berbincang untuk terakhir kalinya sebelum pulang.

Ada yang membicarakan perdagangan.

Ada yang membicarakan keluarga kerajaan.

Ada pula yang masih membicarakan penemuan pewaris Veyth.

Namun hampir semua memiliki satu kesamaan—

mereka lelah.

Sangat lelah.

Setelah berjam-jam berdiri, duduk, berpindah tempat, bertemu bangsawan lain, tersenyum, membungkuk, berbicara, lalu mengulangi percakapan yang hampir sama dengan orang yang berbeda—

akhirnya mereka ingin tidur.

***

“Selamat malam, Yang Mulia.”

“Terima kasih atas jamuannya.”

“Merupakan kehormatan menghadiri perayaan Veyth.”

Edward dan Gloria berdiri di dekat pintu utama.

Mereka terus tersenyum.

Terus menyambut.

Terus mengucapkan salam perpisahan.

Namun setelah tamu kesekian puluh pergi—

Gloria akhirnya menghela napas.

“Berapa lama lagi?”

Edward melirik ke arah aula.

“Tidak banyak.”

Gloria tersenyum lelah.

“Aku harap begitu.”

Edward tertawa kecil.

“Bukankah kau menikmati pestanya?”

“Tentu.”

Gloria mengangguk.

“Tapi tersenyum selama berjam-jam juga melelahkan.”

Edward tertawa.

“Benar juga.”

***

Di sisi lain—

Fiona sudah tidak peduli lagi dengan formalitas.

Ia duduk santai di salah satu kursi.

Darrien berada di sampingnya.

Ace dan Rowan juga sudah terlihat jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya.

Elarion menutup bukunya.

Akhirnya.

Ia menghela napas.

“Sudah selesai?”

Fiona melihat sekeliling.

“Sepertinya.”

Ace bersandar.

“Syukurlah.”

Rowan mengangguk.

“Aku mulai lupa bagaimana rasanya duduk tanpa harus terlihat sopan.”

Fiona tertawa kecil.

“Kalian terlalu banyak mengeluh.”

Ace menatapnya.

“Kau bisa mengatakan itu karena kau menghabiskan sebagian besar waktu dengan makan.”

Fiona terdiam.

Kemudian menunjuk dirinya sendiri.

“Aku bersosialisasi.”

Rowan mengangkat alis.

“Dengan makanan?”

“Ya.”

Darrien tertawa.

Elarion menggeleng.

“Tidak ada gunanya berdebat.”

***

Darrien kemudian berdiri.

Ia melihat ke arah pintu.

“Sepertinya semua orang mulai pergi.”

Fiona mengangguk.

“Ya.”

Darrien kemudian menatap kedua orang tuanya.

Edward dan Gloria masih sibuk mengantar para tamu.

Ia tersenyum kecil.

“Besok mereka pasti tidur sampai siang.”

Fiona tertawa.

“Termasuk kau?”

Darrien menggeleng.

“Aku tidak tahu.”

Elarion langsung berkata,

“Kau baru selesai latihan berhari-hari.”

Darrien terdiam.

Ace menambahkan,

“Dan menghadiri pesta sepanjang malam.”

Rowan mengangguk.

“Kalau kau masih bisa bangun pagi besok, aku akan terkejut.”

Darrien menghela napas.

“Baiklah.”

Fiona tersenyum.

“Tidurlah.”

Darrien menatapnya.

“Kau juga.”

Fiona mengangguk.

“Ya.”

***

Sementara itu—

di bagian lain Crystal Hall,

rombongan Lunaris telah selesai mempersiapkan keberangkatan.

King Zeith berdiri bersama Queen Seraphine.

Beberapa pengawal Lunaris telah berada di dekat lingkaran teleportasi.

Elyon berdiri di samping mereka.

Edward dan Gloria datang untuk mengantar.

Edward menundukkan kepala.

“Terima kasih telah datang.”

Zeith tersenyum.

“Justru kami yang berterima kasih karena telah menerima kami.”

Gloria tersenyum.

“Kehadiran kalian membuat perayaan ini semakin berarti.”

Seraphine mengangguk.

“Kami juga senang dapat menyaksikan Veyth menemukan kembali pewarisnya.”

Edward tertawa kecil.

“Sepertinya semua orang lebih bahagia daripada putraku sendiri.”

Zeith tersenyum.

“Dia terlihat cukup bahagia.”

Gloria menatap Darrien dari kejauhan.

“Ya.”

Kemudian ia tersenyum.

“Terutama karena ada seseorang di sisinya.”

Tatapan Seraphine secara otomatis mengikuti arah pandang Gloria.

Fiona.

Seraphine tersenyum.

“Benar.”

***

Zeith kemudian berkata,

“Jangan lupa.”

Edward menoleh.

“Apa?”

“Undangan kami.”

Edward tersenyum.

“Tentu.”

Seraphine menambahkan,

“Kami akan menunggu Fiona.”

Gloria mengangguk.

“Dan Darrien.”

Zeith tertawa kecil.

“Kalau dia diizinkan.”

Edward melirik putranya.

“Sepertinya dia sudah meminta izin.”

Darrien yang mendengar dari kejauhan langsung menoleh.

“Ayah!”

Edward tertawa.

Gloria ikut tersenyum.

Seraphine berkata,

“Kalau begitu…”

Ia menatap Fiona.

“Kami menunggu kalian di Lunaris.”

Fiona berdiri.

Ia menundukkan kepala dengan sopan.

“Terima kasih atas undangannya.”

Seraphine tersenyum hangat.

“Jangan terlalu formal denganku.”

Fiona berkedip.

“Baik.”

Seraphine tertawa kecil.

“Kalau begitu, sampai bertemu di Lunaris.”

Fiona mengangguk.

“Sampai bertemu.”

***

Elyon belum mengatakan apa-apa.

Ia hanya berdiri di samping King Zeith dan Queen Seraphine.

Kemudian—

tatapannya bertemu dengan Fiona.

Fiona tersenyum kecil.

“Selamat jalan, Elyon.”

Elyon membalas senyum itu.

“Sampai bertemu lagi.”

Fiona mengangguk.

“Di Lunaris.”

“Di Lunaris.”

Darrien memperhatikan mereka.

Kemudian ia tersenyum kecil.

“Sepertinya semua orang sudah tidak sabar.”

Elyon tertawa pelan.

“Mungkin.”

***

King Zeith akhirnya melangkah menuju lingkaran teleportasi.

Queen Seraphine mengikuti.

Elyon menjadi yang terakhir.

Sebelum memasuki lingkaran—

ia berhenti.

Menoleh sekali lagi ke arah Crystal Hall.

Tatapannya kembali menemukan Fiona.

Hanya sesaat.

Kemudian ia berbalik.

Cahaya teleportasi mulai muncul.

Kilatan putih perlahan memenuhi area tersebut.

Edward dan Gloria berdiri bersama Darrien dan yang lainnya.

Seraphine mengangkat tangannya sedikit.

“Sampai bertemu lagi.”

Fiona membalas lambaian kecil.

“Selamat jalan!”

Cahaya semakin terang.

Kemudian—

ketiga sosok dari Lunaris menghilang.

***

Crystal Hall menjadi lebih sunyi.

Fiona menghela napas.

“Dan sekarang…”

Ia melihat sekeliling.

“…pestanya benar-benar selesai.”

Ace mengangguk.

“Syukurlah.”

Rowan tertawa kecil.

“Aku tidak sanggup bertemu bangsawan lagi malam ini.”

Elarion memasukkan bukunya.

“Aku juga.”

Darrien tersenyum.

“Kalau begitu…”

Ia melihat Fiona.

“Tidur?”

Fiona mengangguk.

“Tidur.”

Mereka mulai berjalan keluar dari aula.

Tidak ada lagi musik.

Tidak ada lagi percakapan formal.

Tidak ada lagi tamu yang datang.

Hanya cahaya bulan yang menyinari lorong-lorong istana.

***

Di luar Veyth—

cahaya teleportasi kembali menyala.

Rombongan Lunaris telah tiba di jalur teleportasi mereka.

Zeith menarik napas.

“Panjang juga malam ini.”

Seraphine tersenyum.

“Namun sepadan.”

Ia kemudian melihat Elyon.

“Bukankah begitu?”

Elyon tersenyum tipis.

“Ya.”

Seraphine berjalan beberapa langkah.

Kemudian berkata,

“Aku ingin melihat Fiona segera.”

Zeith mengangguk.

“Kita akan menunggunya.”

Elyon tidak menjawab.

Namun pikirannya kembali kepada sosok yang berdiri di Crystal Hall tadi.

Fiona.

Ia menutup matanya sesaat.

Kemudian membuka kembali.

“Dia akan datang.”

Seraphine tersenyum.

“Bagus.”

Zeith mengangguk.

“Kalau begitu, kita hanya perlu menunggu.”

Mereka kemudian berjalan menuju istana Lunaris.

***

Sementara di Veyth—

satu demi satu lampu Crystal Hall mulai dipadamkan.

Para pelayan akhirnya bisa beristirahat.

Para bangsawan telah pergi.

Para tamu telah kembali ke tempat mereka.

Dan keluarga kerajaan Veyth akhirnya bisa bernapas.

Hari yang panjang—

akhirnya selesai.

Namun bagi Fiona dan Darrien—

perjalanan baru saja akan dimulai.

Karena beberapa hari lagi—

mereka akan meninggalkan Veyth.

Dan menuju—

**Lunaris.**

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience