96. Kalung Yang Dipilih Fiona

Romance Series 94

BAB 96
KALUNG YANG DIPILIH FIONA

Toko perhiasan itu masih ramai ketika Fiona kembali keesokan harinya.

Daun perak miliknya diletakkan di atas meja kerja pengrajin.

Pria itu menatapnya dengan serius.

“Aku akan mencoba memasangnya.”

Fiona mengangguk.

“Baik.”

Pengrajin mengambil penjepit kecil.

Namun begitu ujung alat itu menyentuh daun—

Cahaya perak muncul.

Penjepit tersebut langsung terlepas dari tangannya.

“Aduh!”

Fiona terkejut.

“Tidak apa-apa?”

“Tidak.”

Pengrajin menggeleng.

“Benda ini menolak disentuh.”

Darrien yang berdiri di samping Fiona mengangkat alis.

“Menolak?”

“Ya.”

Pengrajin mencoba lagi.

Kali ini menggunakan sarung tangan khusus.

Ia berhasil menyentuh ujung daun selama beberapa detik.

Kemudian—

**TING!**

Sarung tangannya terlempar.

Pengrajin menghela napas.

“Benar-benar keras kepala.”

Fiona menatap daunnya.

“Dia memang seperti itu.”

Darrien menahan tawa.

“Kau sedang membicarakan benda mati.”

Fiona memelototinya.

“Dia bukan benda mati.”

“Baiklah.”

Darrien mengangkat kedua tangan.

“Aku tidak mengatakan apa-apa.”

***

Percobaan ketiga gagal.

Percobaan keempat juga.

Percobaan kelima membuat pengrajin akhirnya duduk sambil mengusap dahinya.

“Aku sudah membuat perhiasan selama dua puluh tahun.”

Ia menatap daun tersebut.

“Tapi baru kali ini ada daun yang membuatku ingin pensiun.”

Fiona tertawa.

Darrien ikut tertawa.

Pengrajin memandang mereka.

“Kalian malah tertawa.”

“Maaf,” kata Fiona.

Namun ia kemudian menatap daun tersebut dengan serius.

“Kalau begitu…”

Ia mengambil penjepit dari meja.

“Aku yang coba.”

Pengrajin langsung menggeleng.

“Jangan. Kau bisa terluka.”

“Tapi selama ini hanya aku yang bisa memegangnya.”

Pengrajin terdiam.

Fiona mengulurkan tangan.

“Boleh?”

Setelah ragu sejenak, pengrajin menyerahkan penjepit itu.

Fiona menarik napas.

Ia mencoba menyentuh daun tersebut.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada penolakan.

Penjepit itu menyentuh permukaannya dengan mudah.

Fiona membelalakkan mata.

“Berhasil!”

Darrien tersenyum.

“Aku sudah bilang.”

Fiona menoleh.

“Kau tidak mengatakan apa-apa.”

“Sekarang aku mengatakan.”

Fiona tertawa.

***

Namun memasang daun tersebut tetap tidak mudah.

Fiona mencoba beberapa cara.

Rantai pertama terlalu besar.

Yang kedua terlalu tipis.

Yang ketiga membuat daun tersebut miring.

Darrien memperhatikan dari samping.

“Bagaimana kalau bagian ini dibuat sedikit lebih panjang?”

Fiona melihatnya.

“Yang mana?”

“Pengaitnya.”

Darrien menunjuk bagian kecil di belakang daun.

“Kalau pengaitnya berada di sana, rantainya bisa melewati bagian atas tanpa menyentuh permukaan daun.”

Pengrajin memandang desain itu.

Ia kemudian mengangguk.

“Benar.”

Fiona tersenyum.

“Coba.”

Pengrajin mulai membuat bagian pengait.

Kali ini Fiona yang memegang daun.

Darrien membantu memegang rantai.

Mereka bekerja bersama.

Pelan.

Hati-hati.

Sampai akhirnya—

**Klik.**

Pengait terpasang.

Semua orang terdiam.

Daun perak itu kini tergantung di tengah rantai tipis.

Tidak ada cahaya liar.

Tidak ada penolakan.

Hanya kilauan lembut.

Fiona menatapnya dengan mata berbinar.

“Jadi…”

Ia mengangkat kalung itu.

“Sudah jadi.”

Darrien tersenyum.

“Bagus.”

Fiona segera mengenakannya.

Daun perak jatuh tepat di tengah dadanya.

Ia memegangnya.

“Bagaimana?”

Darrien menatapnya beberapa detik.

“Cocok.”

“Benarkah?”

“Benar.”

Fiona tersenyum puas.

Pengrajin mengangguk.

“Sepertinya memang dibuat untukmu.”

Fiona tertawa kecil.

“Mungkin.”

Darrien melihat daun itu sekali lagi.

Cahayanya sangat samar.

Hampir seperti denyut kecil.

Namun kali ini—

tidak ada yang memikirkan kerajaan.

Tidak ada yang memikirkan klan Elf.

Tidak ada yang memikirkan masa lalu.

Mereka hanya menikmati keberhasilan kecil itu.

***

Ketika mereka keluar dari toko—

Fiona memegang kalungnya sambil berjalan.

“Aku senang.”

Darrien tersenyum.

“Kenapa?”

“Karena akhirnya benda ini punya tempat.”

Ia menyentuh daun perak itu.

“Tidak lagi tersimpan di dalam tas.”

Darrien mengangguk.

“Sekarang dia ikut berjalan bersamamu.”

Fiona menatapnya.

“Kedengarannya seperti kau sedang membicarakan teman.”

“Mungkin memang begitu.”

Fiona tersenyum.

Kemudian ia menggandeng lengan Darrien.

“Ayo.”

“Ke mana?”

“Jalan-jalan.”

Darrien tertawa.

“Baik.”

Mereka berjalan menyusuri jalan Veyra.

Tidak ada pengejaran.

Tidak ada pertempuran.

Tidak ada kabar buruk.

Hanya hari biasa.

Dan untuk sementara—

**mereka membiarkan dunia menunggu.**

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience