84. Langkah Berikutnya

Romance Series 94

BAB 84 — LANGKAH BERIKUTNYA

Pagi berikutnya datang tanpa pengejaran.

Untuk pertama kalinya, Fiona bangun tanpa suara alarm, tanpa penjaga di depan pintu, dan tanpa ketakutan bahwa seseorang akan menyeretnya kembali.

Ia duduk perlahan.

Lukanya masih terasa.

Namun jauh lebih ringan.

Ketika membuka pintu kamar—

Darrien sudah berdiri di luar.

Fiona berkedip.

“Kau berjaga semalaman?”

“Tidak.”

“Bohong.”

Darrien tersenyum kecil.

“Sedikit.”

Fiona menghela napas.

“Kau harus belajar tidur.”

“Aku akan belajar.”

“Guru Kevin akan senang.”

Darrien langsung memasang wajah tidak senang.

Fiona tertawa.

---

Setelah sarapan, Kevin mengumpulkan semuanya.

“Kita tidak bisa tinggal di desa ini terlalu lama.”

Ace mengangguk.

“Jejak kita akan ditemukan.”

Elarion membuka peta.

“Ada dua pilihan.”

Ia menunjuk jalan utara.

“Pertama, kembali menuju wilayah aman kita.”

Kemudian menunjuk arah lain.

“Kedua, memutar melalui hutan dan mengambil jalur lama.”

Darrien melihat peta.

“Jalur lama.”

Kevin menatapnya.

“Kenapa?”

“Lebih sulit dilacak.”

Ace mengangguk.

“Benar.”

Elarion menggulung peta.

“Kalau begitu kita berangkat sore ini.”

Fiona mengangguk.

Namun sebelum mereka pergi—

Darrien merasakan sesuatu.

Ia berhenti.

Kevin langsung melihatnya.

“Apa?”

Darrien memejamkan mata.

Sensing-nya menyebar.

Tidak ada aura Ardika.

Tidak ada Varian.

Tidak ada pengejar.

Namun…

ada satu aura yang samar.

Jauh.

Sangat jauh.

Pria misterius itu.

Darrien membuka mata.

“Dia masih di sana.”

Ace menghela napas.

“Biarkan.”

Darrien menatapnya.

“Kau tidak penasaran?”

“Penasaran.”

Ace tersenyum.

“Tapi aku lebih penasaran mengapa dia belum menyerang.”

Kevin mengangguk.

“Dia tidak terlihat seperti musuh.”

Elarion menambahkan,

“Dan selama dia tidak mengganggu kita, jangan kejar.”

Darrien akhirnya mengangguk.

“Baik.”

---

Sore hari—

mereka meninggalkan desa.

Perjalanan terasa lebih ringan.

Fiona berjalan di samping Darrien.

Tidak ada lagi kereta Varian.

Tidak ada lagi penjaga Ardika.

Tidak ada lagi tekanan pernikahan.

Namun mereka semua tahu—

kedamaian itu belum tentu permanen.

Beberapa jam kemudian, mereka berhenti di tepi sungai.

Fiona duduk di batu.

Darrien mengambil air.

Ketika kembali, ia melihat Fiona sedang menatap permukaan sungai.

“Apa?”

Fiona tersenyum.

“Tidak ada.”

“Kau terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.”

Fiona diam sebentar.

“Aku hanya berpikir…”

“Apa?”

“Setelah semua ini selesai…”

Darrien duduk di sampingnya.

“Ya?”

“Aku ingin tempat yang tenang.”

Darrien menatap sungai.

“Di mana?”

“Di mana tidak ada keluarga yang memaksaku menikah.”

Darrien tertawa kecil.

“Setuju.”

“Tidak ada orang yang mengejarku.”

“Setuju.”

“Tidak ada guru sihir yang menyuruhmu latihan.”

Darrien langsung menatapnya.

“Itu tidak bisa.”

Fiona tertawa.

“Kenapa?”

“Kevin akan mengejarku sampai ujung dunia.”

Dari kejauhan, Kevin berteriak,

“Aku mendengarnya!”

Fiona tertawa lebih keras.

Darrien ikut tertawa.

Untuk beberapa saat—

mereka benar-benar seperti dua orang biasa.

Tidak ada perang.

Tidak ada rahasia.

Tidak ada keluarga yang mengejar.

Hanya suara air sungai dan tawa kecil mereka.

---

Namun jauh di belakang—

dua sosok berhenti di jalan.

Salah satunya membawa lambang Varian.

Yang lain membawa lambang Ardika.

Mereka tidak mendekat.

Hanya mengamati dari kejauhan.

“Apakah mereka masih bersama?”

“Ya.”

“Lalu?”

“Kita ikuti.”

“Jangan serang.”

“Kenapa?”

Sosok itu tersenyum.

“Perintah baru.”

Ia melihat ke arah Darrien.

“Biarkan mereka berjalan.”

“Kenapa?”

“Karena cepat atau lambat…”

Ia menatap pegunungan di kejauhan.

“…mereka akan kembali ke tempat yang kita inginkan.”

Dan perjalanan yang sempat terasa tenang—

perlahan mulai berubah lagi.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience