Series
94
BAB 63
PERJALANAN MENUJU ARDIKA
Pagi itu, mereka meninggalkan rumah sebelum matahari sepenuhnya terbit.
Sebuah kereta sederhana telah disiapkan.
Tidak ada lambang kerajaan.
Tidak ada tanda bahwa penumpangnya memiliki hubungan dengan keluarga Veyth.
Hanya sebuah perjalanan biasa.
Setidaknya…
dari luar.
Darrien duduk di dalam kereta bersama Elarion.
Kevin duduk di seberangnya.
Ace berada di bagian depan sebagai pengemudi.
Mereka telah meninggalkan hutan.
Namun Darrien masih menatap ke belakang.
Hutan itu perlahan menghilang dari pandangan.
Tiga minggu.
Tiga minggu terakhir telah mengubahnya.
Bukan hanya sihirnya.
Cara ia memandang dunia juga berubah.
Kevin memperhatikan tatapannya.
“Berhenti melihat ke belakang.”
Darrien menoleh.
“Kenapa?”
“Karena tujuanmu ada di depan.”
Darrien diam.
Kemudian ia kembali melihat jalan.
***
Perjalanan berlangsung tenang selama beberapa jam.
Elarion membuka peta.
“Jika kita terus melalui jalur utama, kita akan sampai dalam beberapa hari.”
Ace mengangguk.
“Namun aku tidak menyarankan jalur utama.”
Darrien menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena keluarga Ardika sedang memperketat penjagaan.”
“Karena pernikahan?”
“Ya.”
Darrien mengepalkan tangannya.
Ace melanjutkan,
“Setelah keluarga Varian tiba, mereka meningkatkan keamanan di sekitar kediaman.”
Kevin menyilangkan tangan.
“Berapa banyak penjaga?”
“Tidak diketahui secara pasti.”
“Bagus.”
Darrien mengerutkan kening.
“Bagus?”
Kevin tersenyum tipis.
“Berarti kita bisa menguji apa yang telah kau pelajari.”
Elarion langsung menatapnya.
“Jangan membuat perjalanan ini menjadi latihan.”
Kevin mengangkat bahu.
“Aku hanya mengatakan.”
Darrien hampir tersenyum.
***
Menjelang sore, mereka berhenti di sebuah kota kecil.
Ace turun lebih dahulu.
“Aku akan mencari informasi.”
Darrien ikut turun.
“Aku ikut.”
Ace menoleh.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kalau seseorang mengenalimu…”
Ace berhenti.
Ia hampir mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya.
Darrien mengangkat alis.
“Mengenaliku?”
Ace memperbaiki kalimatnya.
“Karena kau terlalu mencolok.”
Kevin tertawa kecil.
Darrien memandangnya curiga.
“Apa?”
“Tidak ada.”
Ace segera pergi.
Darrien memperhatikannya.
“Dia aneh.”
Elarion mengangguk.
“Memang.”
Kevin menatap punggung Ace.
Kemudian berkata,
“Namun dia bisa dipercaya.”
Darrien menoleh.
“Kau mengenalnya cukup lama?”
Kevin diam sesaat.
“Cukup.”
Darrien mempersempit matanya.
“Kenapa aku tidak pernah tahu?”
Kevin hanya tersenyum.
“Karena kau tidak pernah bertanya.”
Darrien mendengus.
“Aku sekarang bertanya.”
“Dan aku tidak menjawab.”
Darrien menatapnya.
“Guru menyebalkan.”
“Terima kasih.”
***
Ace kembali setelah beberapa waktu.
Ia membawa sebuah peta kecil.
“Jalur utama menuju Ardika dijaga ketat.”
Ia menunjuk peta.
“Kita bisa menggunakan jalan utara.”
Elarion melihatnya.
“Lebih jauh.”
“Namun lebih aman.”
Darrien menatap peta.
“Berapa lama?”
“Sekitar dua hari tambahan.”
Darrien mengangguk.
“Gunakan jalan utara.”
Ace menatapnya.
“Kau yakin?”
“Ya.”
“Aku tidak keberatan perjalanan menjadi lebih lama.”
Darrien mengepalkan tangannya.
“Asalkan kita sampai sebelum pernikahan.”
Ace mengangguk.
“Baik.”
***
Malam itu mereka berkemah di luar kota.
Api kecil menyala.
Elarion menyiapkan makanan.
Kevin duduk sambil memeriksa beberapa kristal.
Darrien duduk sendirian di dekat api.
Ia menatap tangannya.
Tiga minggu lalu, ia bahkan tidak mampu memecahkan penghalang sederhana.
Sekarang…
ia bisa merasakan struktur sihir di dalamnya.
Namun itu belum cukup.
Ia masih teringat Fiona.
Cara gadis itu memegang tangannya ketika mereka masih kecil.
Tawa kecilnya.
Bunga yang pernah diberikannya.
Darrien menutup tangannya.
“Darrien.”
Ia menoleh.
Elarion berdiri di belakangnya.
“Tidurlah.”
“Aku belum mengantuk.”
“Besok perjalanan panjang.”
Darrien mengangguk.
Namun sebelum berbaring, ia berkata,
“Elarion.”
“Hm?”
“Kalau aku menemukan Fiona…”
Elarion menunggu.
“Apakah aku boleh membawanya pulang?”
Elarion tersenyum kecil.
“Kalau Fiona sendiri ingin pulang…”
Ia menepuk kepala Darrien.
“Bawa dia.”
Darrien mengangguk.
Jawaban itu cukup.
***
Jauh dari sana…
di kediaman Ardika, persiapan pernikahan semakin sibuk.
Pakaian.
Dekorasi.
Undangan.
Pengawal.
Semuanya dipersiapkan.
Fiona berdiri di depan jendela.
Ia memandang bulan.
Satu minggu lagi.
Hanya satu minggu.
Tangannya menyentuh bunga kecil di sakunya.
“Darrien…”
Ia berbisik.
“Aku masih menunggumu.”
***
Di jalan utara…
empat orang terus bergerak menuju Ardika.
Tidak ada seorang pun di antara mereka yang tahu apa yang akan terjadi ketika mereka tiba.
Namun satu hal pasti.
Mereka tidak lagi berjalan menuju sekadar sebuah keluarga bangsawan.
Mereka sedang berjalan menuju sebuah pernikahan.
Dan seorang gadis yang menolak menjadi orang lain.
Share this novel