222. Ruangan Tanpa Jawaban

Romance Series 382

BAB 222
RUANGAN TANPA JAWABAN

Di luar barrier—

Elarion mendengar percakapan Rowan dan Ace.

“Fiona belum datang?”

“Belum.”

Elarion tidak ikut berbicara.

Namun pikirannya ikut tertuju pada hal yang sama.

Sudah cukup lama sejak latihan dimulai.

Biasanya Fiona akan datang.

Entah untuk menonton Darrien berlatih atau sekadar berdiri di luar barrier.

Namun hari ini—

tidak ada tanda-tanda keberadaannya.

Elarion melirik ke arah pintu masuk battlefield.

“…”

Mungkin Fiona masih beristirahat.

Atau mungkin ada sesuatu yang membuatnya terlambat.

Elarion tidak tahu.

Ia akhirnya kembali memusatkan perhatian pada arena.

Darrien masih bertarung.

Dan kali ini—

gerakannya memang berbeda.

Nasihat yang diberikan Elarion semalam mulai terlihat hasilnya.

Darrien tidak lagi bergerak dengan pola yang sama.

Ia mengubah ritme.

Menggunakan jeda.

Memancing gerakan Kevin.

Kemudian menyerang ketika menemukan celah.

Elarion memperhatikan dengan saksama.

Mungkin setelah latihan ini selesai—

ia bisa memberikan Darrien beberapa nasihat lagi.

***

Di tempat lain—

Fiona akhirnya tiba di depan sebuah pintu besar.

Ia berhenti.

Dua tiny elf terbang di sampingnya.

Fiona menatap pintu itu cukup lama.

“Ini…”

Ia mengenalinya.

Pintu menuju ruang potret.

Fiona perlahan mendekat.

Namun ketika melihat lorong Crystal Hall di sekitarnya—

ia tiba-tiba merasa bingung.

Semuanya terlihat hampir sama.

Terlalu banyak lorong.

Terlalu banyak pintu.

Fiona menghela napas.

“Bagaimana aku bisa menemukan tempat ini sebelumnya?”

Ia menoleh ke belakang.

Kedua tiny elf hanya tertawa kecil.

Fiona hampir ingin menangis.

“Kalian tahu jalannya…”

“Kenapa baru sekarang membawaku ke sini?”

Tiny elf itu kembali tertawa.

Fiona menggeleng.

“Sudahlah.”

Ia mengusap wajahnya.

“Ayo.”

Dengan bantuan kedua tiny elf tersebut—

akhirnya ia menemukan pintunya.

Fiona menarik napas.

Kemudian membuka pintu.

**Creak…**

Pintu perlahan terbuka.

Fiona masuk.

Dan langsung terdiam.

Ruangan itu masih sama.

Semuanya.

Rak-rak.

Dinding kristal.

Pencahayaan lembut.

Dan—

potret itu.

Fiona perlahan mengangkat kepalanya.

Sebuah potret besar tergantung tinggi di dinding.

Seorang wanita.

Seorang wanita dewasa.

Wajahnya—

sangat mirip dengannya.

Fiona melangkah mendekat.

“…”

Ia menatap wajah wanita itu.

Semakin lama ia melihat—

semakin sulit baginya untuk menyangkal kemiripan tersebut.

“Siapa kau…?”

Tidak ada jawaban.

Fiona kemudian melihat meja kecil di bawah potret.

Di atasnya—

masih terdapat tempat kosong tempat mahkota kristal itu pernah berada.

Namun mahkotanya sudah tidak ada.

Karena sekarang—

mahkota itu telah berubah menjadi gelang yang berada di pergelangan tangannya.

Fiona mengangkat tangannya.

Simbol daun perak itu masih bersinar lembut.

“Jadi kau benar-benar berasal dari sini…”

Ia menyentuh gelang tersebut.

Namun pertanyaan lain muncul.

Kalau wanita dalam potret itu bukan dirinya—

mengapa wajah mereka hampir sama?

Dan jika wanita itu adalah dirinya—

mengapa ia terlihat seperti versi dewasanya?

Fiona mengerutkan kening.

“Aku ingin tahu siapa kau.”

Ia melihat sekeliling ruangan.

“Dan kenapa aku bisa datang ke sini?”

Kedua tiny elf terbang ke atas sebuah rak.

Fiona menghela napas.

“Baiklah.”

“Kalau tidak ada yang mau menjelaskan…”

Ia mulai mencari sendiri.

Ia membuka laci.

Tidak ada apa-apa.

Ia memeriksa rak.

Tidak ada.

Ia melihat bagian belakang beberapa bingkai.

Kosong.

Ia mencari buku.

Tidak ada.

Dokumen.

Tidak ada.

Tulisan rahasia.

Tidak ada.

Fiona semakin frustrasi.

“Tidak ada petunjuk sama sekali?”

Ia berpindah ke sisi lain ruangan.

Mencari lagi.

Dan lagi.

Waktu terus berlalu.

***

Beberapa jam kemudian—

Fiona duduk di lantai.

Wajahnya terlihat lelah.

Kedua tiny elf masih terbang santai di dekatnya.

Fiona menatap mereka dengan kesal.

“Kalian tidak membantu sama sekali.”

Tiny elf itu tertawa.

Fiona mendengus.

“Baiklah.”

Ia berdiri.

“Kalau ruangan ini tidak memberikan jawaban…”

“Berarti aku harus mencari di ruangan lain.”

Ia menunjuk ke arah pintu.

“Kita cari semuanya.”

Kedua tiny elf langsung terbang mengikutinya.

Fiona berjalan keluar.

Mereka berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain.

Crystal Hall.

Ruangan kosong.

Koridor panjang.

Ruangan dengan kristal-kristal bercahaya.

Namun—

tidak ada jawaban.

Tidak ada nama.

Tidak ada catatan.

Tidak ada petunjuk tentang wanita di dalam potret.

Fiona terus mencari.

Sampai akhirnya—

ia merasa tubuhnya benar-benar lelah.

Ia berhenti di sebuah lorong.

“…”

Fiona menghela napas.

“Tidak ada apa-apa.”

Ia menatap kedua tiny elf.

“Kalian benar-benar membawa aku berkeliling hanya untuk membuatku lelah?”

Keduanya hanya tertawa.

Fiona akhirnya ikut tertawa.

“Baiklah.”

“Besok aku lanjut lagi.”

Namun ketika ia melihat ke luar sebuah jendela—

Fiona tiba-tiba terdiam.

Langit di luar mulai berubah warna.

Cahaya kristal terlihat semakin terang.

Dan matahari—

sepertinya sudah mulai terbenam.

Fiona mengerutkan kening.

“…”

Ia menatap langit.

“Bukankah aku baru saja datang?”

Ia melihat sekeliling.

“Bagaimana bisa sudah sore?”

Fiona mencoba mengingat.

Namun pikirannya terasa kosong.

“Berapa lama aku sudah berada di sini?”

Tidak ada jawaban.

Fiona menghela napas.

“Aneh…”

Ia menatap kedua tiny elf.

Mereka hanya tersenyum.

***

Kemudian—

suara samar terdengar.

“Fiona…”

Fiona berhenti.

Ia menoleh.

“Hmm?”

Suara itu terdengar lagi.

“Fiona…”

Kali ini lebih jelas.

“Fiona…”

Ia melihat ke sekeliling.

“Siapa?”

Tidak ada siapa-siapa.

Kemudian suara itu terdengar sekali lagi.

“Fiona…”

“Bangun…”

Fiona membeku.

Suara itu—

ia mengenalnya.

“Darrien?”

Suara tersebut semakin jelas.

“Fiona, bangun.”

Cahaya terang tiba-tiba muncul di depannya.

Fiona mengangkat tangannya untuk menutupi wajah.

“Ah!”

Cahaya semakin kuat.

Ia menutup matanya.

***

Fiona membuka mata.

Langit-langit kamar terlihat di atasnya.

Ia berkedip beberapa kali.

Napasnya sedikit cepat.

Kemudian ia melihat ke depan.

Darrien berada di sana.

Elarion juga.

Rowan dan Ace berdiri tidak jauh dari mereka.

Fiona masih terlihat bingung.

“…”

Darrien menatapnya.

“Kau akhirnya bangun.”

Fiona berkedip.

“Darrien…?”

“Ya.”

Darrien menghela napas lega.

“Kau tidur cukup lama.”

Fiona mencoba duduk.

Namun pikirannya masih tertinggal di tempat lain.

“Berapa lama?”

Elarion menjawab,

“Sudah cukup lama.”

Fiona melihat ke sekeliling.

Kemudian ia teringat sesuatu.

Crystal Garden.

Tiny elves.

Ruang potret.

Wanita dalam lukisan.

Dan gelang.

Fiona langsung melihat pergelangan tangannya.

Gelang itu masih ada.

Ia menyentuhnya.

“…”

Darrien memperhatikan ekspresinya.

“Ada apa?”

Fiona tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap gelang tersebut.

Kemudian perlahan mengangkat wajah.

“Aku kembali ke sana.”

Darrien mengerutkan kening.

“Ke mana?”

Fiona menatapnya.

“Ke tempat dalam mimpiku.”

Ruangan menjadi sedikit lebih sunyi.

Elarion memperhatikan Fiona dengan serius.

Dan untuk pertama kalinya—

Fiona menyadari sesuatu.

Ia mungkin tidak menemukan jawaban hari ini.

Namun tempat itu—

jelas masih menunggunya.

Dan dua tiny elf kecil itu—

mungkin sengaja membawanya kembali.

Entah untuk menunjukkan sesuatu…

atau untuk mempersiapkannya menemukan kebenaran yang belum waktunya ia ketahui.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience