Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 352 — TRIK BARU
Setelah sarapan selesai—
rombongan akhirnya bergerak menuju area latihan.
Tidak ada yang mengatakan banyak hal.
Namun entah kenapa—
suasana pagi itu terasa berbeda.
Fiona berjalan bersama yang lainnya.
Sesekali matanya tanpa sadar mencari Darrien.
Dan setiap kali menyadari dirinya melakukan itu—
ia segera mengalihkan pandangan.
Darrien tentu saja memperhatikan.
Namun ia tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya tersenyum kecil.
***
AREA LATIHAN
Begitu mereka tiba—
satu sosok sudah berdiri di tengah lapangan.
Kevin.
Sendirian.
Diam.
Kedua tangannya bersedekap.
Wajahnya tenang.
Namun ekspresinya jelas menunjukkan satu hal—
ia sedang menunggu seseorang.
Ace melihatnya dari luar area.
“Dia sudah menunggu.”
Rowan mengangguk.
“Dan sepertinya dia tidak senang.”
Elarion tersenyum.
“Darrien terlambat beberapa menit.”
Elyon melihat jam matahari di dekat lapangan.
“Tidak terlalu lama.”
Ace menjawab,
“Bagi Kevin, terlambat tetap terlambat.”
Kevin tiba-tiba menoleh.
“Aku masih mendengar kalian.”
Ace langsung diam.
“….”
Fiona menahan senyum.
Namun Kevin kemudian melihat ke arah rombongan.
Tatapannya berhenti.
Fiona.
Ia mengangkat alis sedikit.
“Oh.”
Fiona berkedip.
“Apa?”
Kevin tidak menjawab.
Ia hanya melihat Darrien yang berjalan menuju area latihan.
Kemudian kembali melihat Fiona.
Ekspresinya berubah menjadi sedikit geli.
Darrien masuk ke dalam lapangan.
Kevin langsung berkata,
“Kau terlambat.”
Darrien mengangguk.
“Maaf.”
Kevin menatapnya.
“Alasan?”
Darrien berpikir sebentar.
“Breakfast.”
Kevin menghela napas.
“Baiklah.”
Ia mengambil posisi.
“Pemanasan.”
Darrien mengangguk.
Namun sebelum bergerak—
ia melirik ke luar lapangan.
Fiona berdiri bersama Ace, Rowan, Elarion, dan Elyon.
Tatapan mereka bertemu.
Fiona tersenyum kecil.
Darrien membalasnya.
Kemudian ia kembali melihat Kevin.
Namun kali ini—
ada sesuatu yang berbeda di wajahnya.
Sebuah senyum tipis.
Kevin langsung menyadarinya.
“Kenapa kau tersenyum?”
“Tidak ada.”
“Jangan bilang kau punya ide.”
Darrien mengangkat bahu.
“Mungkin.”
Kevin menyipitkan mata.
“Apa?”
Darrien mengambil posisi.
“Hari ini aku ingin mencoba sesuatu yang baru.”
Kevin terdiam.
Kemudian tersenyum.
“Bagus.”
Ia melangkah mundur.
“Coba.”
***
Darrien menarik napas.
Ia menutup mata sesaat.
Kemudian—
magicure mulai bergerak.
Tidak seperti biasanya.
Ia tidak langsung meningkatkan kecepatannya.
Sebaliknya—
ia menurunkan keberadaannya.
Mengurangi tekanan magicure.
Membuat tubuhnya terasa lebih ringan.
Kevin memperhatikan.
Tatapannya langsung berubah serius.
“Menarik.”
Darrien membuka mata.
Kemudian—
**WHOOSH!**
Ia menghilang.
Kevin bergerak.
Namun Darrien tidak menyerang.
Ia berpindah ke sisi lain.
Kemudian berubah arah lagi.
Bukan gerakan lurus.
Bukan pola yang bisa dibaca.
Ia menggunakan perubahan ritme.
Cepat—
lambat—
cepat lagi.
Kevin mengikuti.
Namun untuk pertama kalinya—
Darrien berhasil membuat Kevin kehilangan pandangan selama sepersekian detik.
Kevin berhenti.
Darrien muncul beberapa meter di belakangnya.
Ace langsung berseru.
“Whoa!”
Rowan tersenyum.
“Dia berhasil.”
Elarion mengangguk.
“Bukan kecepatan.”
Elyon memperhatikan dengan serius.
“Dia mengubah pola gerak.”
Fiona tersenyum kecil.
“Bagus…”
Namun Kevin justru tertawa.
“Sekarang…”
Ia berbalik.
“…coba lakukan lagi.”
Darrien mengangguk.
“Baik.”
Kevin langsung menghilang.
**WHOOSH!**
Darrien terkejut.
“—!”
Kevin muncul di belakangnya.
Darrien langsung berbalik.
Namun Kevin sudah berpindah lagi.
Darrien mengejarnya.
Keduanya bergerak semakin cepat.
**WHOOSH! WHOOSH!**
Fiona memperhatikan.
Matanya mengikuti setiap gerakan Darrien.
Ia bisa melihat sesuatu yang berbeda.
Bukan hanya kecepatan.
Darrien mulai menggunakan insting.
Gerakan yang seolah-olah sudah pernah ia kuasai jauh sebelum latihan ini.
Fiona sedikit terdiam.
“…”
Darrien tiba-tiba berhenti.
Kevin juga.
Keduanya saling menatap.
Kevin tersenyum.
“Sekarang aku tahu.”
“Apa?”
“Kenapa kau bisa melakukan itu.”
Darrien mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Kevin mengangkat bahu.
“Insting.”
Ia menunjuk Darrien.
“Tubuhmu tahu sesuatu yang kepalamu belum ingat.”
Darrien terdiam.
Kalimat itu membuat pikirannya kembali kepada mimpi semalam.
Angin.
Magicure.
Pakaian Grandmaster.
Ia tidak menjawab.
Kevin tidak memaksanya.
Ia hanya berkata,
“Jangan terlalu banyak berpikir.”
Kemudian mengambil posisi lagi.
“Gunakan.”
Darrien mengangguk.
“Baik.”
***
Di luar area—
Fiona masih memperhatikan.
Entah kenapa—
dadanya terasa sedikit berdebar.
Ia tahu ada sesuatu yang sedang berkembang dalam diri Darrien.
Namun kali ini—
ia tidak merasa takut.
Ia justru tersenyum.
Karena Darrien tidak sedang mencoba menjadi seseorang dari masa lalu.
Ia sedang menemukan kekuatannya sendiri.
Dan mungkin—
sedikit demi sedikit—
masa lalu itu akan menemukan jalannya sendiri untuk kembali.
Fiona kemudian menyadari tatapan Darrien mengarah kepadanya.
Mereka kembali saling menatap.
Darrien tersenyum.
Fiona membalas.
Kemudian Kevin berdiri di antara mereka.
“Fokus.”
Darrien:
“….”
Fiona menahan tawa.
Ace langsung tertawa.
“Kevin benar-benar tidak memberi kesempatan!”
Kevin menoleh.
“Aku sedang melatihnya.”
Ace mengangkat tangan.
“Baik, baik.”
Darrien tersenyum.
Kemudian kembali mengambil posisi.
Hari ini—
ia tidak hanya ingin menjadi lebih cepat.
Ia ingin mengetahui—
seberapa jauh tubuhnya masih mengingat apa yang pernah hilang dari pikirannya.
Dan untuk pertama kalinya—
Fiona tidak pergi.
Ia tetap berdiri di sana.
Menonton.
Menunggu.
Dan mungkin—
sedikit bangga.
