Series
382
BAB 243
Hari ketujuh akhirnya tiba.
Sejak pagi—
Veyth sudah terasa berbeda.
Istana yang biasanya tenang dipenuhi suara langkah kaki para pelayan.
Kristal-kristal kecil menghiasi sepanjang lorong utama.
Bunga-bunga dari taman kerajaan diletakkan di setiap sudut Crystal Hall.
Meja-meja panjang telah dipenuhi hidangan.
Daging panggang yang masih mengepul.
Sup hangat.
Roti yang baru keluar dari oven.
Buah-buahan segar.
Kue-kue kecil dengan hiasan kristal gula.
Bahkan beberapa hidangan khas dari wilayah luar Veyth ikut disiapkan untuk para tamu.
Hari ini bukan sekadar jamuan makan.
Ini adalah hari perayaan.
Hari ketika para tamu dari berbagai wilayah datang untuk memberikan penghormatan kepada pewaris Veyth.
Dan—
untuk sementara waktu—
tidak ada battlefield.
Tidak ada latihan.
Tidak ada Kevin.
***
Darrien berdiri di depan cermin untuk terakhir kalinya.
Ia sudah mengenakan pakaian resmi yang kemarin diperiksa Gloria.
Bahunya sudah disesuaikan.
Lengan pakaiannya juga sudah diperbaiki.
Jubahnya jatuh dengan rapi di belakang tubuhnya.
Darrien melihat dirinya sendiri.
Kemudian menghela napas.
“…”
Ia masih merasa aneh.
Fiona yang berdiri di dekat pintu tersenyum.
“Kenapa?”
“Tidak terbiasa.”
“Dengan pakaian?”
“Dengan semuanya.”
Fiona berjalan mendekat.
“Besok kau akan terbiasa.”
“Besok?”
“Ya.”
Darrien menatapnya.
“Ini baru hari pertama.”
Fiona tertawa kecil.
“Benar.”
Darrien kemudian melihat pakaian Fiona.
“Kau juga terlihat berbeda.”
Fiona melihat dirinya sendiri.
“Bagus?”
“Bagus.”
Jawabannya keluar begitu saja.
Fiona tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Elarion yang berdiri di belakang mereka hanya menghela napas.
“Kalian selesai?”
Fiona menoleh.
“Kenapa?”
“Kita sudah terlambat.”
Darrien mengangkat alis.
“Benarkah?”
Elarion melihat jam kristal di dinding.
“Beberapa menit.”
Fiona langsung bergerak.
“Ayo.”
***
Ketika mereka tiba di Crystal Hall—
suasana sudah ramai.
Para pelayan bergerak membawa makanan.
Musik lembut terdengar dari sisi aula.
Beberapa bangsawan sudah duduk.
Yang lainnya berdiri dan berbincang.
Tawa terdengar dari berbagai sudut.
Fiona berhenti sejenak.
“Wow…”
Darrien menoleh.
“Kenapa?”
“Ramai sekali.”
Darrien tersenyum.
“Ini masih belum semuanya.”
Fiona melihat sekeliling.
“Belum semuanya?”
“Sebagian tamu masih belum tiba.”
Fiona menghela napas.
“Berarti akan lebih ramai lagi.”
Elarion mengangguk.
“Jauh lebih ramai.”
Fiona langsung menatapnya.
“Jangan membuatku takut.”
Elarion tertawa kecil.
“Aku hanya mengatakan kenyataan.”
Darrien tersenyum.
“Kau tidak perlu berbicara dengan semua orang.”
Fiona menatapnya.
“Kalau begitu…”
Ia menunjuk ke belakang Darrien.
“Aku bisa berdiri di belakangmu.”
Darrien tertawa.
“Silakan.”
***
Tidak lama kemudian—
King Edward dan Queen Gloria memasuki Crystal Hall.
Suasana perlahan menjadi lebih tenang.
Para tamu berdiri.
Darrien berdiri di sisi mereka.
Fiona dan Elarion berada tidak jauh.
King Edward mengangkat tangannya.
“Selamat datang di Veyth.”
Para tamu memberi hormat.
“Terima kasih telah meluangkan waktu untuk hadir dalam perayaan hari ini.”
Suara tepuk tangan terdengar.
Kemudian—
suasana kembali mencair.
Musik dimainkan.
Makanan mulai disajikan.
Dan pesta resmi dimulai.
***
Di antara para tamu—
Surya Ardika beberapa kali melihat ke arah aula.
Ia tersenyum ketika melihat beberapa wajah yang dikenalnya.
Namun matanya terus mencari seseorang.
Susanti memperhatikannya.
“Kau mencari Fiona?”
Surya mengangguk.
“Ya.”
Lola yang berdiri di dekat mereka ikut melihat.
“Aku juga ingin melihatnya.”
Marcus tersenyum kecil.
“Kalian belum menyerah?”
Surya tertawa.
“Sudah lama tidak bertemu.”
“Bukankah kau hanya bertemu dengannya sebentar dulu?”
“Justru itu.”
Surya kembali melihat ke depan.
“Aku penasaran bagaimana kabarnya sekarang.”
Lola tersenyum.
“Mungkin dia masih sama.”
Marcus tidak menjawab.
Karena—
ia tidak terlalu yakin.
***
Di sisi lain Crystal Hall—
rombongan Varian juga sudah tiba.
Keith Varian sedang berbicara dengan beberapa bangsawan.
Namun matanya sesekali bergerak ke seluruh ruangan.
Clara menyadarinya.
“Kau mencari seseorang?”
Keith tersenyum kecil.
“Fiona.”
Clara mengangkat alis.
“Sepertinya banyak orang yang ingin bertemu dengannya.”
Keith tertawa.
“Mungkin.”
Clark yang berada di samping mereka ikut melihat.
“Dia ada di sini?”
“Seharusnya.”
Mereka belum melihatnya.
Namun Keith memiliki firasat bahwa—
ketika mereka akhirnya bertemu—
Fiona mungkin tidak lagi sama seperti yang mereka ingat.
***
Tidak lama kemudian—
Fiona muncul bersama Darrien dan Elarion di area utama.
Beberapa kepala langsung menoleh.
Fiona sedikit menegang.
“Kenapa mereka melihatku?”
Darrien melihat sekeliling.
“Karena kau berdiri di sampingku.”
“Ah.”
Fiona mengangguk.
Kemudian berbisik,
“Jadi bukan karena aku?”
Darrien tersenyum.
“Tidak sepenuhnya.”
Fiona menatapnya.
“Darrien.”
“Aku hanya bercanda.”
Elarion berjalan di belakang mereka.
Namun tatapannya sesekali memperhatikan gelang Fiona.
Simbol daun perak itu masih berada di sana.
Tidak bersinar.
Namun—
Elarion tahu lebih baik daripada menganggapnya tidak aktif.
Fiona menyentuh gelang itu secara refleks.
Darrien melihat.
“Kau masih memikirkannya?”
“Sedikit.”
“Jangan terlalu dipikirkan hari ini.”
Fiona mengangguk.
“Baik.”
Ia kemudian melihat meja makanan.
Matanya langsung berubah.
“…”
Darrien memperhatikan.
“Kau lapar?”
Fiona mengangguk.
“Sedikit.”
Darrien tertawa.
“Kalau begitu makan.”
Fiona langsung tersenyum.
“Ayo.”
Elarion menghela napas.
“Prioritas yang bagus.”
***
Jamuan berlangsung.
Percakapan terjadi di berbagai meja.
Beberapa tamu membicarakan perdagangan.
Beberapa membahas perjalanan.
Sebagian lagi membicarakan hubungan antarwilayah.
Namun sesekali—
nama Fiona terdengar.
“Siapa gadis itu?”
“Dia bersama pewaris Veyth.”
“Apakah dia keluarga kerajaan?”
“Entahlah.”
Fiona sendiri tidak terlalu memperhatikan.
Ia lebih sibuk mencoba beberapa makanan yang belum pernah ia makan.
Darrien memperhatikan.
“Enak?”
Fiona mengangguk cepat.
“Enak.”
“Yang itu?”
“Juga.”
“Yang ini?”
Fiona mencobanya.
Kemudian tersenyum.
“Enak juga.”
Darrien tertawa.
“Kau akan mencoba semuanya?”
Fiona berpikir.
“Mungkin.”
Elarion yang duduk di seberang mereka menghela napas.
“Setidaknya kau sudah kembali normal.”
Fiona menatapnya.
“Aku memang normal.”
Elarion tersenyum kecil.
“Benarkah?”
Fiona menyipitkan mata.
“Jangan mulai.”
Darrien tertawa.
***
Sementara pesta terus berlangsung—
jauh dari Crystal Hall, di salah satu area khusus kerajaan Veyth—
sebuah lingkaran sihir mulai menyala.
Area tersebut sengaja dibuat untuk menerima tamu kerajaan yang datang melalui teleportasi.
Tidak terlalu jauh dari istana.
Namun cukup terpisah dari keramaian agar kedatangan mereka tidak mengganggu acara.
Beberapa penjaga Veyth berdiri di sekelilingnya.
Mereka sudah mengetahui siapa yang akan datang.
Salah satu penjaga melihat lingkaran itu.
“Bersiap.”
Kristal-kristal di sekeliling area mulai bercahaya.
Garis-garis sihir muncul di tanah.
Udara bergetar.
Kemudian—
cahaya putih memenuhi lingkaran.
**WHOOM—**
Beberapa sosok perlahan muncul dari dalam teleportasi.
Yang pertama—
seorang pria dengan aura tenang dan berwibawa.
Pakaian kerajaan Lunaris menghiasi tubuhnya.
Di sampingnya—
seorang wanita dengan penampilan anggun.
Sang Raja dan Ratu Lunaris.
Namun sosok ketiga—
membuat para penjaga Veyth memperhatikan lebih lama.
Rambutnya lebih terang.
Pakaiannya jauh lebih formal.
Tidak ada pakaian petualang.
Tidak ada perlengkapan perjalanan.
Tidak ada aura seorang pengembara biasa.
Ia berdiri dengan tenang di samping Raja dan Ratu Lunaris.
Tatapannya tajam.
Auranya jauh lebih dalam daripada yang pernah Fiona lihat sebelumnya.
Salah satu penjaga Veyth langsung berlutut.
“Selamat datang di Veyth.”
Raja Lunaris mengangguk.
“Kami berterima kasih atas sambutan kalian.”
Ratu Lunaris tersenyum.
“Kami berharap tidak terlambat.”
“Tidak, Yang Mulia.”
Penjaga itu menunduk.
“Jamuan masih berlangsung.”
Kemudian—
tatapan penjaga tersebut berpindah kepada sosok ketiga.
Ia menunduk lebih dalam.
“Yang Mulia…”
Sosok itu hanya mengangguk.
Tidak mengatakan apa-apa.
Namun aura Light Elf yang terpancar darinya—
sama sekali tidak seperti seorang adventurer biasa.
Ini bukan Elyon yang pernah Fiona temui dalam perjalanan.
Bukan Elyon yang berjalan dengan pakaian sederhana.
Bukan Elyon yang bercanda bersama mereka.
Ini adalah—
**Elyon dari Lunaris.**
Sang **Penasihat Agung Negara**.
Pemimpin spiritual dan penasihat tertinggi kerajaan Light Elf.
Elyon menatap Crystal Hall yang terlihat dari kejauhan.
Kemudian—
ia memejamkan mata sejenak.
Seperti sedang merasakan sesuatu.
Cahaya samar muncul di udara.
Sangat halus.
Namun cukup untuk membuat ekspresinya berubah.
“…”
Raja Lunaris, Zeith memperhatikannya.
“Elyon?”
Elyon membuka mata.
“Tidak apa-apa.”
Ratu Lunaris, Seraphine menatapnya.
“Apakah kau merasakan sesuatu?”
Elyon tidak langsung menjawab.
Ia menatap ke arah istana.
“Crystal…”
Suaranya sangat pelan.
“Berubah.”
Raja Zeith dan Ratu Seraphine saling pandang.
Mereka sudah mengetahui hal itu.
Itulah salah satu alasan mereka datang.
Namun sekarang—
perubahan itu terasa jauh lebih jelas.
Elyon menarik napas.
“Sepertinya…”
Ia melihat ke arah Crystal Hall.
“…kita akhirnya datang pada waktu yang tepat.”
Dan di kejauhan—
Crystal Hall kembali memancarkan cahaya lembut.
Seolah-olah—
sesuatu di dalamnya sedang menunggu mereka.
Sementara di dalam aula—
Fiona masih duduk bersama Darrien.
Tidak mengetahui bahwa—
salah satu rahasia terbesar dalam hidupnya baru saja tiba di Veyth.
Dan besok—
atau mungkin bahkan malam ini—
pertemuan antara Fiona dan **Elyon yang sebenarnya** tidak lagi bisa dihindari.
Share this novel