271. Menjelajahi Istana Lunaris

Romance Series 382

BAB 271 — MENJELAJAHI ISTANA LUNARIS

Setelah melewati gerbang utama—

rombongan Veyth akhirnya memasuki bagian dalam Istana Lunaris.

Fiona berjalan di samping Ratu Seraphine.

Matanya tidak berhenti memperhatikan sekeliling.

Semakin jauh mereka masuk—

semakin jelas perbedaan antara bagian luar kota dan bagian dalam istana.

Lorong-lorongnya luas.

Lantainya terbuat dari batu putih yang dipoles hingga memantulkan cahaya.

Pada beberapa bagian dinding—

kristal transparan tumbuh membentuk pola alami.

Bukan seperti dekorasi yang sengaja ditempelkan.

Kristal-kristal itu seolah-olah memang telah menjadi bagian dari bangunan sejak awal.

Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi.

Ketika melewati kristal—

cahaya tersebut terpecah menjadi bayangan lembut di lantai.

Fiona berhenti sejenak.

“Indah sekali…”

Seraphine tersenyum.

“Aku senang kau menyukainya.”

Fiona mengangguk.

“Rasanya berbeda dari istana Veyth.”

“Memang.”

Seraphine berjalan perlahan.

“Lunaris memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kristal alami.”

Ia menunjuk sebuah tiang di sisi lorong.

“Kristal di sini bukan hanya digunakan sebagai hiasan.”

Fiona memperhatikannya.

“Lalu untuk apa?”

“Untuk penerangan, penyimpanan energi, beberapa sistem pertahanan, dan banyak hal lainnya.”

Fiona terlihat kagum.

“Jadi seluruh istana bekerja dengan energi kristal?”

“Sebagian.”

Seraphine tersenyum.

“Namun jangan khawatir. Kau tidak perlu memahami semuanya dalam satu hari.”

Fiona tertawa kecil.

“Untunglah.”

***

Darrien berjalan beberapa langkah di belakang mereka.

Ia sesekali menoleh ke arah lorong yang mereka lewati.

Ace dan Rowan juga terlihat sibuk mengamati.

“Tempat ini besar sekali,” kata Rowan.

Ace mengangguk.

“Kalau sendirian, aku mungkin tersesat.”

Darrien menoleh.

“Jangan tersesat.”

Ace tersenyum.

“Kalau tersesat, aku akan mencarimu.”

“Kenapa aku?”

“Karena kau pangeran.”

Darrien terdiam.

“Logika yang aneh.”

Rowan tertawa.

Elarion yang berjalan di dekat mereka hanya menggeleng.

“Jangan membuat masalah pada hari pertama.”

Ace mengangkat kedua tangannya.

“Aku hanya mengamati.”

Kevin berjalan paling belakang.

Ia tetap memperhatikan keadaan sekitar dengan kebiasaan seorang pengawal.

Namun kali ini—

tidak ada ketegangan.

Tidak ada latihan.

Tidak ada ancaman.

Hanya sebuah istana baru yang sedang mereka jelajahi.

Kevin bahkan sempat berhenti di dekat sebuah jendela besar.

Dari sana—

seluruh bagian kota Lunaris terlihat.

Menara kristal.

Jalan utama.

Taman.

Bangunan-bangunan tinggi.

Dan cahaya matahari yang memantul dari permukaan kristal.

Kevin menghela napas pelan.

“Lumayan.”

Ace menoleh.

“Lumayan?”

Kevin mengangguk.

“Untuk tempat liburan.”

Ace tertawa.

“Sekarang aku percaya kau benar-benar menganggap ini liburan.”

Kevin tidak menjawab.

Namun sudut bibirnya sedikit terangkat.

***

Setelah melewati beberapa lorong—

Seraphine akhirnya berhenti.

“Kita sudah sampai.”

Fiona melihat sebuah pintu besar di depannya.

Dua pelayan berdiri di kedua sisinya.

Seraphine membuka pintu.

“Ini kamarmu.”

Fiona masuk.

Dan kembali terdiam.

Ruangan itu luas.

Namun tidak terasa berlebihan.

Sebuah tempat tidur besar berada di tengah ruangan.

Seprai putih lembut dengan sedikit hiasan keperakan.

Jendela besar menghadap taman.

Di sisi lain terdapat sebuah balkon pribadi.

Beberapa kristal kecil tertanam di dinding dan memancarkan cahaya lembut.

Sebuah meja kecil berada dekat jendela.

Di atasnya telah disiapkan beberapa buah dan minuman.

Fiona berjalan perlahan.

“Ini…”

Seraphine tersenyum.

“Aku memilihnya sendiri.”

Fiona menoleh.

“Untukku?”

“Tentu.”

Fiona tersenyum hangat.

“Terima kasih.”

Seraphine mendekatinya.

“Kalau ada sesuatu yang tidak kau sukai, katakan saja.”

“Tidak.”

Fiona menggeleng.

“Aku menyukainya.”

Ia kemudian berjalan menuju balkon.

Pintu dibuka.

Angin lembut langsung menyambutnya.

Dari balkon—

taman istana terlihat jelas.

Beberapa jalur batu membelah rerumputan hijau.

Pohon-pohon dengan daun berwarna lembut tumbuh di sepanjang jalan.

Beberapa kristal kecil muncul di antara bunga.

Fiona tersenyum.

“Cantik…”

Seraphine berdiri di sampingnya.

“Besok aku bisa mengajakmu melihat taman itu lebih dekat.”

Fiona langsung menoleh.

“Benarkah?”

“Ya.”

Fiona mengangguk cepat.

“Aku mau.”

Seraphine tertawa.

“Baik.”

***

Sementara itu—

Darrien juga diperlihatkan kamarnya.

Letaknya tidak terlalu jauh dari kamar Fiona.

Begitu pintu dibuka—

Darrien masuk.

Ruangan itu juga luas.

Namun yang pertama kali menarik perhatiannya adalah jendela besar yang menghadap bagian lain dari Lunaris.

Darrien berjalan mendekat.

Dari sana ia bisa melihat beberapa menara kristal dan bagian kota yang belum mereka lewati.

“Tidak buruk.”

Ace masuk di belakangnya.

“Kamarmu bagus.”

Rowan ikut melihat.

“Lebih bagus daripada kamar kita?”

Darrien menoleh.

“Bukankah kalian belum melihat kamar kalian?”

Rowan terdiam.

“Oh.”

Ace tertawa.

***

Tak lama kemudian—

Ace dan Rowan juga menuju kamar mereka masing-masing.

Elarion mendapatkan ruangan yang lebih tenang di salah satu bagian istana.

Sementara Kevin ditempatkan tidak jauh dari area utama para tamu.

Semuanya telah diatur dengan rapi.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Tidak ada jadwal.

Tidak ada tugas mendesak.

Setidaknya—

untuk hari pertama.

***

Fiona kembali ke kamarnya.

Ia membuka koper.

Melihat pakaian yang dibawanya.

Kemudian menatap ruangan.

“Sepertinya aku membawa terlalu banyak.”

Ia terdiam.

Kemudian mengangguk sendiri.

“…Tapi tidak apa-apa.”

Ia tersenyum.

“Lebih baik terlalu banyak daripada kekurangan.”

Ia mulai merapikan beberapa barang.

Namun belum sempat selesai—

seorang pelayan mengetuk pintu.

“Yang Mulia Fiona.”

Fiona menoleh.

“Ya?”

“Ratu Seraphine mengundang Anda untuk minum teh.”

Mata Fiona langsung berbinar.

“Teh?”

Pelayan mengangguk.

“Di ruang makan kecil.”

Fiona langsung tersenyum.

“Tentu.”

***

Beberapa saat kemudian—

mereka semua kembali berkumpul.

Bukan di ruang makan utama.

Melainkan di sebuah ruangan kecil yang menghadap taman.

Sebuah meja panjang telah disiapkan.

Teh hangat.

Kue kecil.

Buah-buahan.

Roti manis.

Dan beberapa makanan ringan khas Lunaris.

Fiona duduk di dekat Seraphine.

Darrien berada tidak jauh darinya.

Ace dan Rowan langsung tertarik pada makanan.

Elarion duduk dengan tenang.

Kevin—

akhirnya benar-benar terlihat seperti seorang tamu yang sedang berlibur.

Ia mengambil secangkir teh.

Menyeruput perlahan.

Kemudian bersandar.

Tidak ada latihan.

Tidak ada perintah.

Tidak ada arena.

Kevin menghela napas puas.

“Ini baru liburan.”

Darrien mendengarnya.

Ia tertawa kecil.

“Jangan terlalu santai.”

Kevin menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena kita masih punya beberapa hari di sini.”

Kevin mengangkat cangkirnya.

“Justru itu.”

Seraphine tertawa kecil melihat percakapan mereka.

“Kalau begitu, nikmatilah.”

Ia menatap semua orang di meja.

“Selamat datang di Lunaris.”

Fiona tersenyum.

“Terima kasih.”

Percakapan ringan kemudian mengalir.

Tentang perjalanan.

Tentang istana.

Tentang makanan.

Tentang tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi.

Untuk sementara—

tidak ada pembicaraan mengenai perang.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada masalah.

Hanya suara tawa kecil dan percakapan hangat di tengah sore.

Dan di balik jendela—

Lunaris tetap terlihat tenang.

Kristal-kristalnya memantulkan cahaya matahari.

Angin bergerak lembut melewati taman.

Hari pertama mereka di Lunaris—

akhirnya benar-benar terasa seperti sebuah liburan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience