255. Sehari Bersama Keluarga

Romance Series 382

BAB 255

Pagi yang tenang berubah menjadi siang.

Siang berubah menjadi sore.

Dan tanpa terasa—

sore berubah menjadi malam.

Namun Darrien masih berada di ruangan yang sama.

Bersama kedua orang tuanya.

Kotak-kotak hadiah yang sebelumnya memenuhi ruangan telah berkurang cukup banyak.

Sebagian telah dibawa keluar oleh para pelayan.

Sebagian lainnya masih terbuka di sekitar mereka.

Dan beberapa—

bahkan belum disentuh.

Darrien duduk di lantai.

Ia bersandar pada salah satu peti.

Fiona duduk tidak jauh darinya.

Edward berada di sebuah kursi.

Sementara Gloria duduk di samping suaminya.

Untuk pertama kalinya sejak Darrien kembali ke Veyth—

mereka tidak sedang membicarakan kerajaan.

Tidak ada pembicaraan mengenai politik.

Tidak ada urusan bangsawan.

Tidak ada upacara.

Tidak ada kewajiban.

Mereka hanya—

bersama.

***

Gloria mengambil sebuah kotak kecil.

“Yang ini.”

Darrien menoleh.

“Apa lagi?”

Gloria tersenyum.

“Bukan hadiah besar.”

Ia membuka kotak tersebut.

Di dalamnya terdapat sebuah benda kecil yang dibungkus kain lembut.

Darrien mengambilnya.

“Ini?”

“Ya.”

Ia memandang benda itu beberapa saat.

Tidak ada aura kuat.

Tidak ada ukiran kerajaan yang berlebihan.

Hanya sebuah benda kecil yang tampak sederhana.

Darrien mengangkat pandangan.

“Kenapa Ibu menyimpannya?”

Gloria tersenyum.

“Karena dulu aku membelinya ketika kau masih kecil.”

Darrien terdiam.

“Untuk apa?”

“Tidak ada alasan khusus.”

Gloria tertawa kecil.

“Aku hanya melihatnya dan berpikir…”

Ia berhenti.

“‘Anakku mungkin akan menyukainya.’”

Darrien menundukkan pandangan.

Tangannya menggenggam benda itu sedikit lebih erat.

***

Fiona memperhatikan dari samping.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Edward juga diam.

Gloria melanjutkan,

“Setelah kau hilang…”

Suaranya sedikit berubah.

“Benda itu tetap kusimpan.”

Darrien mengangkat kepala.

Gloria tersenyum.

“Entah kenapa aku tidak pernah sanggup membuangnya.”

Darrien tidak menjawab.

Ia menatap benda kecil itu.

Kemudian bertanya pelan,

“Apakah Ibu benar-benar yakin aku akan kembali?”

Gloria terdiam.

Pertanyaan itu sederhana.

Namun—

jawabannya tidak.

Ia akhirnya berkata,

“Aku tidak tahu.”

Darrien menatapnya.

“Aku hanya…”

Gloria menarik napas.

“…tidak ingin berhenti berharap.”

Hening.

Darrien menundukkan kepala.

Untuk beberapa detik—

tidak ada seorang pun yang berbicara.

Kemudian Darrien tersenyum kecil.

“Terima kasih sudah menunggu.”

Gloria langsung tersenyum.

“Aku akan menunggu lebih lama lagi jika harus.”

***

Edward kemudian tertawa kecil.

“Kalau begitu…”

Ia berdiri.

“Aku punya sesuatu.”

Darrien langsung mengangkat kepala.

“Masih ada?”

Edward berjalan menuju sebuah lemari.

Fiona menatapnya.

“Ayahnya ternyata menyimpan lebih banyak hadiah daripada seluruh kerajaan.”

Gloria tertawa.

“Jangan salahkan aku.”

Edward membuka lemari.

Kemudian mengambil sebuah benda yang dibungkus kain.

Ia membawanya kembali.

Darrien melihatnya.

“Apa itu?”

“Lihat sendiri.”

Darrien membuka kainnya.

Sebuah benda sederhana muncul.

Ia terdiam.

“Aku pernah melihat ini?”

Edward tersenyum.

“Bukan.”

“Lalu?”

“Ini sesuatu yang kubuat sendiri.”

Darrien mengangkat alis.

“Ayah membuatnya?”

Edward mengangguk.

“Bertahun-tahun lalu.”

Darrien memperhatikan benda itu lebih lama.

“Kenapa?”

Edward tersenyum kecil.

“Karena aku ingin memberikannya kepadamu sendiri.”

Darrien terdiam.

Tidak ada kata-kata yang keluar.

Ia hanya menggenggam benda tersebut.

Kemudian berkata,

“Aku akan menjaganya.”

Edward mengangguk.

“Itu sudah cukup.”

***

Hari terus berjalan.

Mereka berbicara.

Mereka membuka hadiah.

Mereka membicarakan masa kecil Darrien.

Gloria menceritakan kebiasaan-kebiasaan kecil yang bahkan Darrien sendiri tidak ingat.

“Dulu kau tidak suka sayuran.”

Darrien menatap ibunya.

“Aku?”

“Ya.”

Fiona langsung tertawa.

“Tidak mungkin.”

Gloria mengangguk.

“Sangat mungkin.”

Edward ikut tertawa.

“Dia bahkan pernah menyembunyikan sayuran di bawah piring.”

Darrien menatap ayahnya.

“Serius?”

“Serius.”

Fiona menahan tawa.

“Jadi sejak kecil memang begitu.”

Darrien menghela napas.

“Aku tidak ingat.”

Gloria tersenyum.

“Tidak apa-apa.”

Ia menatap Darrien dengan lembut.

“Biar kami yang mengingatnya untukmu.”

Darrien terdiam.

Kalimat itu—

lebih dalam daripada yang terdengar.

Ia tidak memiliki masa lalu itu.

Namun—

orang tuanya masih menyimpannya.

Mereka mengingat langkah pertamanya.

Tawanya.

Kebiasaannya.

Tangisnya.

Hal-hal kecil yang bahkan mungkin tidak pernah dianggap penting saat itu.

Dan sekarang—

semua itu menjadi bagian dari masa lalu yang harus ia kenali perlahan.

***

Malam semakin larut.

Fiona beberapa kali hampir tertidur di kursinya.

Darrien menyadarinya.

“Kau mengantuk?”

Fiona membuka mata.

“Tidak.”

Gloria tersenyum.

“Kau sudah menguap lima kali.”

Fiona langsung menutup mulut.

Darrien tertawa.

“Tidurlah kalau mengantuk.”

Fiona menggeleng.

“Aku ingin menemani kalian.”

Gloria menatapnya.

Senyumnya menjadi hangat.

“Terima kasih.”

Fiona tersenyum.

***

Jam terus bergerak.

Sepuluh malam.

Sebelas malam.

Kemudian—

hampir tengah malam.

Edward akhirnya melihat jam.

“Sudah cukup.”

Darrien mengangkat kepala.

“Apa?”

“Kita harus beristirahat.”

Gloria mengangguk.

“Besok masih banyak hal yang harus dilakukan.”

Darrien tersenyum.

“Benar.”

Ia kemudian berdiri.

Tubuhnya terasa lelah.

Namun bukan lelah seperti setelah latihan.

Ini—

kelelahan yang menyenangkan.

Seperti seseorang yang akhirnya menghabiskan satu hari bersama keluarga setelah menunggu terlalu lama.

***

Darrien memandang kedua orang tuanya.

“Terima kasih.”

Edward menatapnya.

“Untuk apa?”

“Untuk hari ini.”

Darrien tersenyum.

“Aku tidak tahu bagaimana rasanya memiliki orang tua seperti kalian.”

Gloria terdiam.

Darrien melanjutkan,

“Karena aku tidak mengingat masa lalu.”

Ia melihat mereka.

“Tapi hari ini…”

Senyumnya semakin lembut.

“…aku merasa seperti aku memang pernah memiliki rumah di sini.”

Mata Gloria mulai berkaca-kaca.

Edward menarik napas pelan.

Kemudian berjalan mendekati putranya.

Ia meletakkan tangannya di bahu Darrien.

“Ini rumahmu.”

Darrien terdiam.

“Selalu.”

Darrien mengangguk.

“Baik.”

Ia kemudian memeluk ayahnya.

Edward sedikit terkejut.

Namun beberapa detik kemudian—

ia membalas pelukan itu.

Gloria ikut mendekat.

Dan untuk beberapa saat—

ketiganya hanya berdiri seperti itu.

Tidak ada gelar.

Tidak ada kerajaan.

Tidak ada pewaris.

Hanya—

ayah.

Ibu.

Dan anak mereka.

Yang akhirnya kembali.

***

Setelah beberapa saat—

Fiona berdiri.

“Kalau begitu…”

Ia tersenyum.

“Selamat malam.”

Gloria memeluk Fiona sebentar.

“Selamat malam.”

Edward mengangguk.

“Beristirahatlah.”

Darrien dan Fiona kemudian meninggalkan ruangan.

Pintu perlahan tertutup di belakang mereka.

Gloria melihat pintu itu.

Kemudian tersenyum.

“Dia benar-benar sudah kembali.”

Edward mengangguk.

“Ya.”

Dan untuk malam itu—

mereka tidak meminta lebih.

***

Lorong istana telah benar-benar sunyi.

Darrien berjalan bersama Fiona.

Keduanya tidak banyak berbicara.

Mereka hanya menikmati ketenangan malam.

Fiona kemudian tersenyum.

“Jadi…”

Darrien menoleh.

“Hm?”

“Seharian penuh hadiah.”

Darrien tertawa kecil.

“Aku rasa aku tidak akan bisa melihat kotak hadiah lagi untuk beberapa waktu.”

Fiona mengangguk.

“Aku setuju.”

Mereka terus berjalan.

Hingga—

seorang sosok berdiri di ujung lorong.

Darrien berhenti.

Fiona juga.

Cahaya kristal yang redup menerangi sosok tersebut.

Darrien menyipitkan mata.

“…Kevin.”

Kevin berdiri dengan tenang.

Masih mengenakan perlengkapan Elite Guard Veyth.

Tatapannya jatuh kepada Darrien.

Ia memperhatikan pemuda itu beberapa detik.

Darrien mulai merasa tidak nyaman.

“Ada apa?”

Kevin tidak menjawab langsung.

Ia hanya menatapnya.

Kemudian—

mengangguk kecil.

“Bagus.”

Darrien mengerutkan kening.

“Bagus?”

“Kau sudah beristirahat.”

Darrien mulai memiliki firasat buruk.

“…”

Kevin melanjutkan dengan tenang.

“Kalau begitu…”

Ia berbalik.

“Besok kita lanjutkan latihan.”

Darrien membeku.

“…”

Kevin berjalan pergi.

“Selamat malam.”

Darrien masih berdiri.

Fiona menutup mulutnya.

Bahu Fiona mulai bergetar.

Darrien menoleh perlahan.

“Jangan.”

Fiona akhirnya tertawa.

“Maaf.”

Darrien kembali melihat punggung Kevin yang semakin jauh.

“…”

Satu hari.

Satu hari penuh.

Ia akhirnya bisa beristirahat.

Dan sekarang—

Kevin sudah memastikan bahwa kebahagiaan itu hanya sementara.

Darrien menatap langit-langit.

“Kenapa?”

Fiona tertawa lebih keras.

“Karena besok…”

Ia menepuk bahu Darrien.

“…kau akan kembali menjadi murid Kevin.”

Darrien memejamkan mata.

“…”

Kemudian—

ia menghela napas panjang.

“Selamat malam.”

Fiona tersenyum.

“Selamat malam.”

Mereka melanjutkan perjalanan menuju kamar.

Sementara di ujung lorong—

Kevin berjalan dengan tenang.

Seolah-olah ia baru saja memberikan kabar paling normal di dunia.

Dan mungkin bagi Kevin—

memang begitu.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience