Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 364 — JEJAK KEKUATAN
Darrien masih duduk di atas tempat tidurnya.
Pikirannya belum sepenuhnya kembali ke dunia nyata.
Mimpi itu—
terlalu nyata.
Bukan hanya gambaran.
Bukan hanya suara.
Ia bahkan masih bisa merasakan tekanan dark magic yang memenuhi istana tua itu.
Dan yang paling mengganggunya—
dirinya sendiri.
Grandmaster Darrien.
Aura itu.
Kekuatan itu.
Cara magicure bergerak tanpa chanting.
Semuanya terasa begitu alami.
Begitu terkendali.
Begitu dalam.
Darrien perlahan menarik napas.
Namun—
sesuatu bergerak di sampingnya.
Ia langsung menoleh.
Fiona.
Masih tertidur.
Wajahnya tenang.
Napasnya lembut.
Darrien terdiam.
Ia bahkan hampir lupa bahwa Fiona masih berada di dalam pelukannya.
Untuk beberapa saat, ia hanya menatapnya.
Kemudian ia menarik napas perlahan.
Ia sengaja mengatur napasnya agar tetap tenang.
Mimpi tadi terlalu nyata.
Jika ia memejamkan mata—
ia masih bisa membayangkan sosok dirinya yang lain.
Grandmaster.
Tatapan dingin.
Tekanan dark magic yang begitu dalam.
Dan ketika ia memperingatkan Lucas—
tidak ada chanting.
Tidak ada gerakan besar.
Hanya sebuah perintah.
Namun seluruh ruangan langsung dipenuhi tekanan magicure.
Darrien menatap tangannya.
“…”
*Bagaimana aku bisa melakukan itu?*
Ia tidak memiliki jawabannya.
Dan ia tidak ingin memaksakan diri untuk mendapatkannya.
Belum.
Darrien akhirnya berbaring kembali.
Ia mendekatkan Fiona ke dalam pelukannya.
Fiona bergerak sedikit dalam tidur.
Kemudian kembali tenang.
Darrien tersenyum kecil.
“Tidurlah.”
Ia memejamkan mata.
Untuk sekarang—
ia membiarkan semua pertanyaan itu menunggu.
Matahari belum terbit.
Dan ia masih memiliki sedikit waktu sebelum—
Kevin.
Darrien membuka satu mata.
“…Latihan.”
Ia menghela napas.
“Kenapa aku merasa sudah lelah sebelum mulai?”
***
PAGI HARI
Cahaya matahari mulai memasuki Istana Lunaris.
Dan seperti yang sudah diperkirakan—
area latihan kembali dipenuhi orang.
Kevin sudah menunggu.
Berdiri di tengah lapangan.
Tenang.
Sabar.
Dan jelas—
tidak berniat membiarkan siapa pun bermalas-malasan.
Ace dan Rowan berdiri di sisi lapangan.
Elarion berada tidak jauh dari mereka.
Elyon juga datang setelah menyelesaikan urusannya.
Fiona berdiri bersama mereka.
Darrien berjalan menuju tengah lapangan.
Kevin melihatnya.
“Kau terlambat.”
Darrien melihat matahari.
“Tidak.”
Kevin menunjuk posisi matahari.
“Dua menit.”
Darrien terdiam.
“…Baik.”
Ace menahan tawa.
Rowan berbisik,
“Dia benar-benar menghitung.”
Elarion menjawab,
“Kevin selalu menghitung.”
Kevin menoleh.
“Aku masih mendengar.”
Keduanya langsung diam.
***
Latihan dimulai.
Darrien bergerak.
Namun—
pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.
Setiap kali ia bergerak—
bayangan dari mimpinya muncul.
Cara Grandmaster Darrien mengendalikan magicure.
Cara dark aura mengalir tanpa suara.
Tanpa chanting.
Tanpa gerakan yang tidak perlu.
Darrien mencoba merasakan magicure dalam tubuhnya.
Kemudian—
“Fokus!”
Suara Kevin terdengar keras.
Darrien tersentak.
Terlambat.
Kevin sudah berada di depannya.
**THUD!**
Darrien terpaksa mundur beberapa langkah.
“Aduh…”
Kevin menatapnya.
“Di mana pikiranmu?”
Darrien mengatur napas.
“Tidak ada.”
Kevin menyipitkan mata.
“Bohong.”
Darrien diam.
Kevin menunjuknya.
“Kalau kau melamun saat bertarung, lawan tidak akan menunggu sampai kau selesai berpikir.”
“Ya.”
“Sekali lagi.”
Darrien mengambil posisi.
Kali ini—
ia mencoba mengosongkan pikirannya.
Kevin menyerang.
Darrien menghindar.
Kemudian berpindah.
**WHOOSH!**
Namun sesuatu kembali terlintas di kepalanya.
*Grandmaster Darrien tidak membutuhkan chanting.*
Darrien menatap tangannya.
*Bagaimana?*
Kevin muncul di depannya.
“Darrien!”
Darrien terlambat bereaksi.
Kevin menghentikan serangannya hanya beberapa sentimeter dari wajah Darrien.
Hening.
Darrien berkedip.
Kevin menarik tangannya.
“Kalau kau terus seperti ini, kau akan kalah sebelum sempat mencoba sesuatu.”
Darrien menghela napas.
“Maaf.”
Kevin menatapnya beberapa saat.
“Pikiranmu sedang berada di tempat lain.”
Darrien tidak menjawab.
Kevin akhirnya berkata,
“Kalau ada sesuatu yang mengganggu, selesaikan di kepalamu.”
Kemudian ia kembali mengambil posisi.
“Lalu bertarung.”
Darrien mengangguk.
“Baik.”
***
Kali ini—
Darrien tidak mencoba mengingat mimpi.
Ia hanya mencoba mengingat satu hal.
Perasaan magicure itu.
Tenang.
Dalam.
Terkendali.
Ia menarik napas.
Magicure berkumpul.
Tidak ada chanting.
Tidak ada mantra.
Hanya kehendak.
Darrien mengangkat tangannya.
Dark magic tipis muncul di telapak tangannya.
Kevin langsung berhenti.
Matanya menyipit.
“Menarik.”
Darrien sendiri terlihat terkejut.
Ia berhasil.
Bukan kekuatan besar.
Hanya sedikit dark magic.
Namun—
ia menciptakannya tanpa chanting.
Darrien menatap telapak tangannya.
“Jadi…”
Kevin tersenyum.
“Sekarang kau mulai mengerti.”
Darrien mengangkat wajah.
“Belum.”
“Bagus.”
Kevin mengambil posisi.
“Jangan puas hanya karena berhasil sekali.”
Darrien tersenyum.
“Kalau begitu…”
Ia menghilang.
**WHOOSH!**
Kevin langsung mengejar.
Darrien muncul di sisi kanan.
Kemudian kiri.
Lalu—
dark magic tipis muncul di belakangnya.
Bukan serangan.
Hanya sebuah jejak.
Kevin melihatnya.
“…”
Darrien tersenyum.
“Trik baru.”
Kevin tertawa kecil.
“Coba.”
Darrien bergerak lagi.
Kali ini—
dark magic yang ia tinggalkan membuat arah gerakannya sulit ditebak.
Satu jejak muncul di kiri.
Tubuhnya bergerak ke kanan.
Kevin mengikuti tubuhnya.
Namun Darrien sudah berpindah lagi.
**WHOOSH!**
Ace langsung berseru dari luar.
“Dia mulai lagi!”
Rowan tertawa.
“Kevin akan marah.”
Elarion menggeleng.
“Bukan marah.”
Ia melihat Kevin.
“…dia senang.”
Elyon mengangguk.
“Benar.”
Fiona hanya tersenyum.
Ia tahu Darrien sedang mencoba memahami sesuatu.
Bukan mengingat.
Bukan membuka masa lalu.
Hanya—
mencari cara untuk memahami kekuatan yang tubuhnya sendiri seperti pernah kenal.
***
Kevin tiba-tiba mempercepat gerakannya.
Darrien terkejut.
“—!”
Kevin muncul tepat di depannya.
“Jangan terlalu nyaman.”
Darrien menghindar.
Kevin kembali menyerang.
Darrien melompat.
Berputar.
Kemudian menggunakan dark magic tipis untuk mengubah arah.
Namun—
Kevin sudah menunggunya.
**THUD!**
Darrien kembali jatuh ke tanah.
Ace menutup mulut.
Rowan menahan tawa.
Fiona menatap Darrien.
Darrien mengangkat wajah.
“…Aku mulai mengerti kenapa semua orang menyebut ini latihan.”
Kevin menjawab datar.
“Bagus.”
Ia mengulurkan tangan.
“Berdiri.”
Darrien meraih tangannya.
Kemudian bangkit.
Kevin tersenyum.
“Sekarang kita ulangi.”
Darrien:
“…Lagi?”
“Lagi.”
Darrien menghela napas.
Di luar lapangan—
Ace dan Rowan sudah tertawa.
Fiona hanya tersenyum kecil.
Dan latihan pun kembali berlanjut.
Tidak ada yang tahu ke mana eksperimen kecil Darrien itu akan membawanya.
Namun satu hal mulai terlihat.
Kekuatan Grandmaster masa lalu—
tidak sedang kembali dalam bentuk ingatan.
Ia perlahan muncul melalui tubuh.
Melalui insting.
Melalui magicure.
Dan melalui setiap kesalahan yang dibuat Darrien saat mencoba memahaminya sendiri.
Sementara Kevin—
dengan senang hati memastikan bahwa setiap kesalahan itu dibayar dengan satu putaran latihan tambahan.
