448. Selamat Datang Di Istana Shadowcresent

Romance Completed 594

BAB 448 — SELAMAT DATANG DI ISTANA SHADOWCRESENT

Akhirnya...

mereka keluar dari pegunungan.

Tidak ada yang langsung berbicara.

Veyth hanya berdiri di ujung jalur, memandangi pemandangan di hadapan mereka.

Istana Shadowcresent.

Bangunan kuno berwarna gelap berdiri di kejauhan, dikelilingi dinding batu tinggi dan menara-menara tua yang menjulang ke langit.

Kabut tipis bergerak di antara halaman luar.

Tidak ada pasukan besar.

Tidak ada gerbang yang tertutup.

Tidak ada suara alarm.

Justru...

terlalu tenang.

Ace menatap istana cukup lama.

"Jadi..."

Ia mengusap wajahnya.

"Setelah semua yang kita lalui..."

Kevin menoleh.

"Ya?"

"Kita benar-benar sampai."

Elarion tersenyum tipis.

"Sepertinya begitu."

Ace melihat pakaian mereka.

Lalu melihat dirinya sendiri.

"Kita kelihatan menyedihkan."

Rowan memeriksa lengan bajunya yang penuh debu.

"Memang."

Ace menatapnya.

"Kau tidak perlu sejujur itu."

Elyon tertawa kecil.

Setidaknya untuk beberapa detik, ketegangan yang selama berhari-hari menekan mereka sedikit menghilang.

Mereka berhasil.

Bukan mencapai Fiona.

Belum.

Namun mereka berhasil melewati pegunungan yang sebelumnya terasa seperti labirin tanpa akhir.

Darrien tidak ikut bercanda.

Ia hanya menatap istana.

Semakin dekat.

Semakin jelas.

Dan semakin kuat energi kuno yang bisa ia rasakan.

Sesuatu berada di sana.

Sesuatu yang jauh lebih tua daripada apa pun yang mereka temui di sepanjang perjalanan.

Darrien menarik napas perlahan.

"Fiona ada di dalam."

Tidak seorang pun membantah.

Mereka mulai berjalan.

Satu langkah.

Kemudian langkah berikutnya.

Namun baru beberapa puluh meter...

mereka berhenti.

Tidak ada yang memerintahkan.

Mereka semua merasakan hal yang sama.

Tekanan.

Bukan serangan.

Bukan penghalang.

Hanya...

kehadiran.

Seseorang berdiri di depan tangga utama istana.

Rambut panjang berwarna perak keabu-abuan jatuh melewati bahunya.

Mata merah tua menatap mereka dengan tenang.

Raizen.

Ia berdiri sendirian.

Tanpa mahkota.

Tanpa pasukan besar.

Tanpa senjata.

Hanya dirinya sendiri.

Ace menelan ludah.

"Ah."

Kevin mengangguk pelan.

"Ya."

Ace menunjuk Raizen.

"Yang itu."

Elyon tidak tertawa.

"Ya."

Darrien melangkah maju.

Tatapan Raizen langsung berpindah kepadanya.

Untuk beberapa detik...

tidak ada yang bergerak.

Raizen kemudian tersenyum tipis.

"Jadi kalian akhirnya datang."

Darrien mengepalkan tangan.

"Kembalikan Fiona."

Raizen mengangkat alis.

"Langsung ke pokok masalah?"

"Aku tidak datang untuk berbicara."

"Aku tahu."

Raizen turun satu anak tangga.

Satu langkah.

Kemudian berhenti.

"Namun aku penasaran."

Tatapannya menyapu seluruh kelompok.

"Setelah semua yang dilakukan pegunungan..."

Ia tersenyum.

"...kalian masih datang."

Ace mengangkat tangan sedikit.

"Untuk catatan, aku sebenarnya sudah ingin pulang beberapa kali."

Kevin meliriknya.

"Jangan."

Ace menurunkan tangannya.

"Baik."

Raizen hampir tersenyum.

Kemudian tatapannya kembali kepada Darrien.

"Kau."

Darrien menatapnya.

"Kenapa terus maju?"

"Karena Fiona."

Jawaban itu keluar tanpa ragu.

Raizen diam.

Kemudian tertawa pelan.

Bukan tawa keras.

Justru terlalu tenang.

"Begitu."

Ia melangkah turun lagi.

"Kalau begitu..."

Tekanan tiba-tiba memenuhi udara.

Semua orang membeku.

Ace langsung menekuk lutut.

Kevin menahan napas.

Elyon merasakan sihirnya bergetar.

Bahkan Darrien harus menahan tubuhnya agar tidak ikut terdorong.

Raizen tidak melakukan apa-apa.

Ia hanya berdiri.

Namun tekanan auranya saja sudah cukup membuat tanah di bawah kaki mereka retak halus.

Ace menggertakkan gigi.

"Dia..."

Kevin menahan bahunya.

"Jangan melawan tekanan."

Elarion mencoba menstabilkan napas.

"Ini bahkan belum dimulai."

Raizen memandang mereka.

"Menarik."

Tekanan sedikit bertambah.

Bukan banyak.

Hanya cukup untuk membuat mereka sadar betapa besarnya perbedaan kekuatan di antara mereka.

Darrien menahan tubuhnya.

Matanya tetap menatap Raizen.

"Aku tidak akan berlutut."

Raizen tersenyum.

"Aku tahu."

Tekanan menghilang.

Begitu saja.

Semua menarik napas.

Ace hampir jatuh ke belakang.

"Dia bahkan tidak menyentuh kita."

Elyon mengusap dada.

"Ya."

Ace menatap Raizen.

"Aku mulai mengerti kenapa gunungnya sombong."

Raizen menatapnya.

Ace langsung diam.

"...Maaf."

Raizen tertawa kecil.

Namun kemudian...

beberapa sosok muncul di belakangnya.

Mufasa.

Bersama beberapa penjaga vampir dan penyihir Shadowcresent.

Mereka berdiri tenang.

Mufasa membungkuk.

"Yang Mulia."

Raizen mengangguk.

"Biarkan mereka masuk."

Darrien menatapnya tajam.

"Masuk?"

Raizen berbalik.

"Ya."

Ia berjalan menuju pintu utama.

Kemudian berhenti.

Tanpa menoleh, ia berkata,

"Jika kalian ingin Fiona..."

Ia tersenyum.

"...datanglah."

Pintu utama terbuka.

Veyth saling memandang.

Ini terlalu mudah.

Setelah semua yang mereka lalui...

sekarang mereka justru diizinkan masuk?

Elyon berbisik,

"Jangan lengah."

Darrien mengangguk.

Mereka masuk.

---

Di dalam aula utama...

langit-langitnya begitu tinggi hingga bayangan pilar-pilar kuno terlihat memanjang ke atas.

Lantai batu hitam memantulkan cahaya merah dari kristal-kristal yang tertanam di dinding.

Raizen berjalan ke tengah aula.

Mufasa dan para penjaga menyebar.

Veyth mengambil posisi.

Darrien berdiri paling depan.

Raizen memandang mereka.

"Jadi."

Ia memasukkan satu tangan ke saku jubahnya.

"Siapa yang ingin mencoba lebih dulu?"

Ace menatap Kevin.

Kevin menatap Ace.

Ace berbisik,

"Kau saja."

"Tidak."

"Elyon?"

"Tidak."

"Rowan?"

"Diam."

Ace menghela napas.

"Baiklah."

Ia mengangkat pedangnya.

Raizen memandangnya.

Dalam sekejap...

Ace sudah berada di lantai.

Bukan karena terluka.

Tubuhnya hanya tiba-tiba kehilangan keseimbangan setelah tekanan ruang menekan dari segala arah.

Ace menatap langit-langit.

"...Aku bahkan belum menyerang."

Raizen mengangguk.

"Benar."

Ia tersenyum.

"Karena aku belum mengizinkanmu."

Ace menutup mata.

"Ini memalukan."

Kevin menahan tawa.

Namun tawa itu berhenti ketika Raizen mengangkat satu tangan.

Seluruh ruangan berubah.

Pilar-pilar seolah bergerak.

Jarak antara satu orang dengan yang lain tiba-tiba menjadi sangat jauh.

Darrien melihat Kevin beberapa meter di depan.

Padahal sesaat sebelumnya mereka berdiri berdampingan.

Elyon berada di sisi lain.

Rowan menghilang dari pandangan.

"Ilusi?" Kevin bertanya.

"Ruang," jawab Darrien.

Raizen tersenyum.

"Bagus."

Ia menjentikkan jarinya.

Semua kembali normal.

Tidak ada luka.

Tidak ada serangan.

Namun mereka sudah mengerti.

Raizen sedang mempermainkan mereka.

Bukan karena ia tidak serius.

Melainkan karena...

ia bisa.

Mufasa berdiri di samping beberapa penjaga.

Ia tidak ikut menyerang.

Belum.

Ia hanya memperhatikan.

Salah satu penyihir vampir berbisik,

"Yang Mulia sedang bermain."

Mufasa mengangguk.

"Ya."

"Apakah kita perlu membantu?"

"Belum."

Mufasa menatap Darrien.

"Dia ingin melihat sesuatu."

---

Darrien maju.

Kali ini tidak menunggu.

Angin meledak dari tubuhnya.

Lantai batu retak.

Tubuhnya melesat.

Raizen mengangkat satu tangan.

Benturan terjadi.

BOOM!

Gelombang energi memenuhi aula.

Darrien terpental beberapa meter.

Ia mendarat dengan satu lutut.

Raizen masih berdiri.

Tidak bergeser.

Darrien bangkit.

Ia menyerang lagi.

Kali ini lebih cepat.

Raizen menghindar.

Satu langkah.

Darrien menyerang dari samping.

Raizen menahan.

Benturan kedua lebih keras.

Mufasa memandang mereka.

Darrien semakin agresif.

Raizen tetap tenang.

Ia bisa mengakhiri pertarungan kapan saja.

Namun ia tidak melakukannya.

Ia justru membiarkan Darrien menyerang.

Membiarkannya mendekat.

Membiarkannya menunjukkan semua yang ia miliki.

Sampai akhirnya...

Darrien berhasil mengenai tubuh Raizen.

Sebuah serangan berat menghantam sisi tubuhnya.

Raizen terdorong beberapa langkah.

Mufasa langsung tahu.

Yang Mulia sengaja membiarkannya.

Raizen menundukkan kepala.

Darah muncul di sudut bibirnya.

Darrien terdiam.

Semua terdiam.

Raizen menyentuh darah itu dengan jarinya.

Kemudian tersenyum.

"Bagus."

Darrien mengerutkan kening.

"Kau..."

Raizen tidak menjawab.

Ia hanya berdiri kembali.

Pertarungan akan terus berlanjut.

Namun jauh dari aula...

seseorang masih belum mengetahui apa pun.

---

Fiona berada di taman.

Ia duduk di bawah pohon sambil membaca.

Hari itu tenang.

Terlalu tenang.

Ia sesekali melihat ke arah istana.

Raizen sudah pergi cukup lama.

Namun Fiona tidak terlalu memikirkannya.

Mungkin ada urusan kerajaan.

Mungkin ada sesuatu yang harus ia selesaikan.

Fiona menutup bukunya sebentar.

Ia memandang bunga di depannya.

Kemudian tersenyum kecil.

"Aku ingin menunjukkan ini padanya nanti."

Ia kembali membuka buku.

Di kejauhan...

samar-samar terdengar suara.

Fiona berhenti membaca.

Ia mengangkat kepala.

Suara itu hampir tidak terdengar.

Seperti dentuman jauh.

Kemudian...

BOOM.

Fiona berdiri.

Ia menatap ke arah istana.

"Apa itu?"

Tidak ada jawaban.

Beberapa detik kemudian...

dentuman lain terdengar.

Lebih jelas.

Fiona mengerutkan kening.

Raizen.

Ia menutup bukunya.

Mungkin ada sesuatu yang terjadi.

Dan tanpa mengetahui apa yang sedang menunggunya di dalam...

Fiona mulai berjalan menuju istana.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience