510. Berjalan Bersama Lagi

Romance Completed 594

BAB 510 — BERJALAN BERSAMA LAGI

Pagi di Veyth terasa jauh lebih ringan.

Setelah sarapan dan percakapan panjang yang akhirnya membuka sebagian kecil dari apa yang terjadi pada Fiona, semua orang kembali sibuk dengan urusan masing-masing.

Tidak ada yang memaksanya menjawab lebih banyak.

Tidak hari itu.

Fiona sendiri tidak keberatan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia tidak merasa sedang dikejar waktu.

Dia sudah kembali.

Dia sudah sehat.

Dan Darrien ada di sisinya.

Itu sudah cukup untuk pagi ini.

Menjelang siang, Fiona berdiri di depan jendela besar kamar yang diberikan kepadanya.

Cahaya matahari masuk dengan lembut.

Taman kerajaan Veyth terlihat tenang dari sana.

Pepohonan bergerak perlahan tertiup angin.

Bunga-bunga bermekaran di sepanjang jalan batu.

Fiona memandangnya beberapa saat.

Kemudian menoleh.

Darrien sedang berdiri di dekat meja, membaca salah satu laporan yang baru saja diberikan kepadanya.

Wajahnya kembali terlihat serius.

Terlalu serius.

Fiona memperhatikannya beberapa detik.

“Darrien.”

“Hm?”

“Temani aku berjalan.”

Darrien langsung mengangkat wajah.

Dia menatap Fiona.

Kemudian melihat ke luar jendela.

“Sekarang?”

Fiona mengangguk.

“Sekarang.”

Darrien menutup laporan di tangannya.

“Baik.”

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada alasan.

Dia langsung berjalan mendekat.

Fiona tersenyum kecil.

***

Mereka berjalan perlahan melewati taman kerajaan.

Tidak ada pengawal yang mengikuti terlalu dekat.

Tidak ada rapat.

Tidak ada penyembuh.

Tidak ada buku kuno.

Tidak ada orang yang membawa pertanyaan.

Hanya mereka berdua.

Fiona menarik napas dalam-dalam.

Udara pagi terasa menyenangkan.

“Sudah lama sekali.”

Darrien menoleh.

“Apanya?”

“Berjalan seperti ini.”

Fiona tersenyum.

“Tanpa harus melarikan diri dari sesuatu.”

Darrien tertawa kecil.

“Itu benar.”

Mereka terus berjalan.

Beberapa saat hanya terdengar suara langkah kaki mereka.

Fiona sesekali menyentuh bunga yang tumbuh di sepanjang jalan.

Darrien memperhatikannya.

“Kau masih suka bunga.”

Fiona menatapnya.

“Kau masih ingat?”

Darrien terlihat sedikit heran.

“Aku ingat banyak hal tentangmu.”

Fiona tersenyum.

Kemudian menatap bunga di tangannya.

“Aku juga.”

Darrien berhenti sebentar.

Fiona ikut berhenti.

Tatapan mereka bertemu.

Ada banyak hal yang belum mereka bicarakan.

Namun tidak semuanya harus dibicarakan hari ini.

Darrien mengulurkan tangan.

Fiona melihatnya.

Kemudian meletakkan tangannya di sana.

Jari-jari mereka saling bertaut.

Mereka kembali berjalan.

“Darrien.”

“Ya?”

“Aku minta maaf.”

Darrien langsung menggeleng.

“Jangan.”

Fiona menatapnya.

“Aku membuatmu menunggu.”

“Aku tahu.”

“Aku membuat semua orang khawatir.”

“Ya.”

Fiona mengerucutkan bibir.

“Jawabanmu terlalu cepat.”

Darrien tertawa.

“Karena memang benar.”

Fiona memukul lengannya pelan.

Darrien tersenyum.

Kemudian ekspresinya menjadi lebih lembut.

“Tapi aku tidak marah.”

Fiona menatapnya.

“Benarkah?”

“Benar.”

Darrien menggenggam tangannya.

“Aku hanya senang kau kembali.”

Fiona menundukkan kepala.

Angin melewati rambutnya.

“Selama aku berada di taman itu...”

Darrien menunggu.

“Aku bisa melihat kalian.”

“Melihatku?”

“Ya.”

Fiona tersenyum tipis.

“Kau selalu terlihat lelah.”

Darrien menghela napas.

“Karena aku memang lelah.”

“Bodoh.”

Darrien menatapnya.

Fiona tertawa kecil.

“Kau seharusnya tidur.”

“Aku tidur.”

“Tidak cukup.”

“Aku tidak bisa tidur dengan tenang.”

Fiona menatapnya beberapa detik.

Kemudian mempererat genggaman tangannya.

“Sekarang kau bisa.”

Darrien tersenyum.

“Sekarang aku bisa.”

Mereka berjalan lagi.

Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah bagian taman yang lebih sepi.

Ada bangku batu di bawah pohon besar.

Fiona duduk.

Darrien duduk di sampingnya.

Untuk beberapa saat...

mereka hanya diam.

Tidak ada yang terasa canggung.

Keheningan di antara mereka terasa nyaman.

Fiona menyandarkan kepalanya perlahan ke bahu Darrien.

Darrien sedikit terkejut.

Namun dia tidak bergerak.

Dia hanya membiarkan Fiona bersandar.

Fiona menutup mata.

“Aku merindukan ini.”

Darrien menatap rambutnya.

“Aku juga.”

“Bukan istananya.”

“Aku tahu.”

“Bukan tamannya.”

“Aku tahu.”

Fiona tersenyum.

“Bukan makanannya.”

Darrien tertawa kecil.

“Yang terakhir aku tidak yakin.”

Fiona mencubit lengannya.

“Aduh.”

“Kau pantas mendapatkannya.”

“Baik.”

Darrien tertawa lagi.

Kemudian suasana kembali tenang.

Fiona membuka mata.

Dia memandang taman di depan mereka.

“Aku belum tahu apa yang akan terjadi setelah ini.”

Darrien tidak langsung menjawab.

“Aku juga.”

“Masih banyak yang harus kujelaskan.”

“Ya.”

“Masih banyak pertanyaan.”

“Ya.”

Fiona menoleh.

“Kau tidak takut?”

Darrien memandangnya.

“Tentu saja.”

Fiona sedikit terkejut.

Darrien tersenyum.

“Aku takut.”

Dia menatap tangan mereka yang masih saling menggenggam.

“Tapi aku tidak ingin rasa takut membuatmu terburu-buru.”

Fiona diam.

Kemudian tersenyum.

“Terima kasih.”

Darrien mengangkat bahu.

“Kita punya waktu.”

Fiona menatapnya.

Kata-kata sederhana itu terasa jauh lebih berarti daripada yang seharusnya.

*Waktu.*

Itulah yang selama ini dia minta.

Dan sekarang...

akhirnya dia memilikinya.

Fiona kembali menyandarkan kepalanya ke bahu Darrien.

“Kalau begitu...”

“Hm?”

“Temani aku lebih lama.”

Darrien tersenyum.

“Selama kau mau.”

Matahari perlahan naik.

Bayangan pohon bergeser di atas jalan taman.

Dan untuk beberapa saat...

tidak ada raja.

Tidak ada perang.

Tidak ada Shadowcresent.

Tidak ada masa lalu.

Tidak ada pertanyaan.

Hanya dua orang yang akhirnya bisa berjalan bersama lagi.

Setelah berbulan-bulan kehilangan satu sama lain...

Fiona akhirnya tidak perlu mengejar Darrien.

Dan Darrien tidak perlu mengejar Fiona.

Mereka hanya berjalan.

Bersama.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience