432. Jejak Yang Seharusnya Ada

Romance Completed 594

BAB 432 — JEJAK YANG SEHARUSNYA TIDAK ADA

Malam telah turun di Shadowcresent.

Di dalam istana, suasana masih tenang.

Namun ketenangan itu berubah ketika Mufasa tiba di salah satu ruang pertemuan pribadi Raizen.

Pintu tertutup.

Tidak ada penjaga di dalam.

Hanya Raizen dan Mufasa.

Raizen berdiri di dekat jendela.

Cahaya bulan merah menyentuh rambut peraknya.

Mufasa berhenti beberapa langkah di belakangnya.

"Yang Mulia."

Raizen tidak langsung menoleh.

"Aku merasakannya."

Mufasa mengangguk.

"Kalau begitu Anda sudah tahu."

"Samar."

"Benar."

Raizen akhirnya berbalik.

"Apa yang kau rasakan?"

Mufasa berjalan mendekat.

"Getaran ruang."

"Seberapa jauh?"

"Jauh."

Mufasa berhenti di depan meja.

"Namun cukup jelas untuk membuatku curiga."

Raizen menatapnya.

"Curiga pada apa?"

Mufasa menarik napas.

"Veyth."

Ruangan kembali hening.

Raizen sudah menduga jawabannya.

"Mereka mencoba teleportasi."

"Ya."

"Berhasil?"

Mufasa menggeleng.

"Belum seperti yang digunakan Shadowcresent."

Raizen berjalan menuju meja.

"Jelaskan."

Mufasa membuka peta kecil yang dibawanya.

"Mereka masih menggunakan teknik teleportasi kuno yang baru mereka temukan."

Jarinya menunjuk salah satu bagian.

"Namun teknik itu telah dimodifikasi."

Raizen mengamati peta.

"Untuk jarak?"

"Untuk jarak."

Mufasa mengangguk.

"Mereka berhasil memperpanjang jangkauan."

Raizen diam.

Tidak terlihat terkejut.

Tetapi tatapannya berubah sedikit lebih tajam.

"Seberapa jauh?"

"Belum bisa dipastikan."

Mufasa kemudian menambahkan,

"Tetapi bukan itu yang membuatku datang."

Raizen mengangkat mata.

"Apa?"

Mufasa menatapnya serius.

"Jejak sihirnya."

Beberapa detik berlalu.

"Teleportasi mereka masih lemah."

Mufasa menggerakkan jarinya di udara, menggambarkan aliran mana.

"Namun pola ruang yang mereka tinggalkan..."

Ia berhenti.

"...mirip dengan gaya teleportasi vampire."

Raizen tidak bergerak.

Mufasa melanjutkan.

"Sangat samar. Bahkan mungkin terlalu samar untuk dikenali oleh penyihir biasa."

"Tapi kau mengenalinya."

"Karena saya pernah melihat pola seperti itu berkali-kali."

Mufasa menatap Raizen.

"Ini bukan teleportasi manusia biasa."

Raizen kembali melihat peta.

Veyth belum menemukan Shadowcresent.

Belum.

Namun mereka telah menemukan sesuatu yang seharusnya tidak mereka miliki.

Sebuah pola.

Sebuah bahasa.

Sebuah cara untuk membuat ruang bergerak seperti yang dilakukan para vampire kuno.

Raizen mengetukkan jarinya perlahan di atas meja.

"Berapa banyak yang mereka ketahui?"

"Sedikit."

"Dan berapa banyak yang bisa mereka pelajari?"

Mufasa terdiam.

"Itu yang tidak bisa saya pastikan."

Raizen mengangguk pelan.

***

Beberapa saat kemudian, Mufasa menjelaskan hasil pertahanan perbatasan.

Hutan telah dimanipulasi.

Jalur-jalur palsu telah dibuat.

Beberapa bagian gunung telah diberi ilusi ruang.

Perangkap tambahan telah dipasang.

Dan para penjaga terus melakukan patroli.

Raizen mendengarkan semuanya tanpa memotong.

"Pertahanan masih kuat," kata Mufasa.

"Tapi?"

Mufasa tersenyum tipis.

"Tidak ada pertahanan yang benar-benar tidak bisa ditembus."

Raizen menatapnya.

"Kau mulai terdengar pesimis."

"Saya realistis."

Mufasa menunjuk peta.

"Jika mereka terus menemukan cara untuk memperpanjang teleportasi, mereka mungkin tidak perlu menemukan jalan masuk."

Raizen menyipitkan mata.

"Maksudmu?"

"Mereka mungkin mencoba mendekati wilayah Shadowcresent sedikit demi sedikit."

Kalimat itu membuat Raizen terdiam.

Itulah kemungkinan yang selama ini belum mereka hadapi.

Bukan mencari pintu.

Bukan mencari jalan.

Tetapi...

**membawa diri mereka semakin dekat.**

Sedikit demi sedikit.

Menggunakan teleportasi.

Kemudian mengulangi.

Kemudian mengulangi lagi.

Sampai jaraknya cukup dekat untuk mendeteksi sistem pertahanan Shadowcresent secara langsung.

Raizen berjalan menuju jendela.

Bulan merah masih menggantung di langit.

"Berapa lama?"

Mufasa menggeleng.

"Tidak tahu."

"Beberapa minggu?"

"Mungkin."

"Beberapa bulan?"

"Mungkin juga."

Raizen terdiam.

Tidak ada jawaban pasti.

Dan justru itulah yang membuatnya tidak nyaman.

Veyth tidak perlu berhasil sekarang.

Mereka hanya perlu terus berkembang.

Raizen menutup matanya sebentar.

Kemudian membukanya kembali.

"Teruskan pertahanan."

"Baik."

"Jangan hanya memperkuat hutan dan gunung."

Mufasa menatapnya.

"Yang Mulia?"

"Ubah pola."

Mufasa memahami.

"Secara berkala?"

"Ya."

"Supaya mereka tidak bisa mempelajari susunan tetap."

Raizen mengangguk.

"Jangan biarkan Shadowcresent memiliki satu wajah yang bisa mereka pelajari."

Mufasa tersenyum.

"Itu akan membuat pekerjaan para penjaga jauh lebih merepotkan."

"Bayar mereka lebih banyak."

Mufasa tertawa kecil.

"Jawaban yang sangat sederhana."

Raizen menatapnya datar.

"Aku tidak ingin mereka mengeluh."

"Kalau begitu saya akan menyampaikannya."

Mufasa hendak pergi.

Namun Raizen menghentikannya.

"Mufasa."

Ia berbalik.

"Ya?"

"Jika kau merasakan pola teleportasi itu lagi..."

Raizen berhenti sejenak.

"...jangan ganggu mereka."

Mufasa mengerutkan kening.

"Jangan menyerang?"

"Tidak."

Raizen menatap bulan merah.

"Amati."

Mufasa memahami maksudnya.

"Anda ingin tahu seberapa jauh mereka bisa mengembangkannya."

"Ya."

Mufasa mengangguk.

"Dimengerti."

Ia berbalik dan meninggalkan ruangan.

Pintu tertutup.

Raizen kembali sendirian.

***

Ia berdiri cukup lama di depan jendela.

Veyth sedang belajar.

Dan untuk pertama kalinya...

mereka telah menghasilkan sesuatu yang bahkan bisa dikenali oleh vampire.

Samar.

Belum sempurna.

Belum cukup kuat.

Tetapi ada.

Raizen mengangkat tangannya.

Ia membuka telapak tangannya perlahan.

Sebuah lingkaran sihir kecil muncul.

Ruang di atas telapak tangannya bergetar.

Kemudian menghilang.

Sederhana.

Mudah.

Bagi Raizen.

Tetapi sekarang ia membayangkan seseorang yang sama sekali tidak memiliki darah vampire...

mempelajari cara membuat ruang bergerak dengan pola serupa.

Sudut bibirnya terangkat tipis.

"Menarik."

Bukan kekaguman.

Bukan ketakutan.

Lebih seperti pengakuan.

Mereka ternyata benar-benar belajar.

Raizen berjalan kembali ke arah kamar.

Namun langkahnya melambat ketika sebuah pikiran muncul.

Jika Veyth terus belajar dari jejak sihir...

maka suatu hari mereka mungkin tidak lagi sekadar mengejar jarak.

Mereka mungkin mulai memahami **cara Shadowcresent berpindah.**

Dan jika itu terjadi...

pertahanan luar tidak akan cukup.

Raizen berhenti.

Ia menoleh ke arah jendela.

Mufasa akan memperkuat perbatasan.

Para penjaga akan mengubah pola.

Hutan dan gunung akan terus bergerak.

Tetapi semua itu hanya membeli waktu.

Raizen membutuhkan sesuatu yang lain.

Sesuatu yang tidak bergantung pada apakah Veyth berhasil menembus pertahanan luar.

Tatapannya perlahan menjadi lebih tajam.

"Kalau begitu..."

Ia kembali berjalan.

"...aku harus menyiapkan langkah berikutnya."

Kali ini...

Raizen tidak sedang memikirkan bagaimana menghentikan Veyth di perbatasan.

Ia mulai memikirkan bagaimana memastikan...

**bahkan jika mereka berhasil melewati perbatasan, mereka tetap tidak akan mendapatkan apa yang mereka cari.**

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience