Series
382
BAB 283 — ELIXIR DAN ISTIRAHAT
Malam telah berlalu.
Namun ruang penelitian Lunaris masih dipenuhi cahaya.
Elarion masih berdiri di depan meja kerja.
Berbagai botol memenuhi permukaannya.
Herbal dari Pasar Cahaya telah dipisahkan berdasarkan jenis dan kualitasnya.
Beberapa peneliti Lunaris masih berada di sekelilingnya.
Mereka telah bekerja hampir sepanjang malam.
“Tambahkan tiga tetes.”
Salah satu peneliti mengikuti instruksinya.
Cairan di dalam tabung perlahan berubah warna.
Elarion memperhatikan reaksinya dengan serius.
“Stabil.”
Peneliti di sampingnya segera mencatat hasilnya.
“Efek pemulihannya juga lebih cepat.”
Elarion mengangguk.
“Kalau dikombinasikan dengan Moon Veil, seharusnya bisa meningkatkan regenerasi mana.”
Peneliti lainnya langsung tertarik.
“Benarkah?”
“Belum pasti.”
Elarion mengambil catatannya.
“Itu yang harus kita uji.”
Mereka kembali bekerja.
***
Waktu terus berjalan.
Tengah malam telah lewat.
Kemudian—
fajar mulai muncul.
Namun ruang penelitian masih belum sepi.
Beberapa peneliti mulai menguap.
Ada yang memijat bahunya.
Ada yang hampir tertidur di depan meja.
Tetapi Elarion masih terlihat sangat bersemangat.
“Sekali lagi.”
Salah satu peneliti menatapnya.
“Yang terakhir?”
Elarion mengangguk.
“Ya.”
Peneliti lainnya tertawa kecil.
“Bukankah kau mengatakan itu satu jam lalu?”
Elarion terdiam.
“…Mungkin.”
Mereka semua tertawa.
***
Kemudian—
pintu terbuka.
Fiona muncul.
Rambutnya sedikit berantakan.
Wajahnya masih menunjukkan sisa kantuk.
Ia melihat keadaan ruangan.
Kemudian matanya membesar.
“Kalian…”
Semua menoleh.
Fiona melihat Elarion.
“Kalian belum tidur?”
Salah satu peneliti tersenyum lelah.
“Belum.”
Fiona menatap Elarion.
“Kau juga?”
Elarion mengangguk.
“Aku hampir selesai.”
Fiona langsung menghela napas.
“Kau bilang begitu kemarin.”
Elarion tidak menjawab.
Fiona berjalan mendekat.
“Sudah pagi.”
Elarion melihat ke luar jendela.
Cahaya matahari memang sudah mulai masuk.
“Oh.”
Fiona menyilangkan tangan.
“Dan kau belum sarapan.”
“Aku bisa makan nanti.”
“Tidak.”
Elarion menatapnya.
Fiona menunjuk pintu.
“Berhenti.”
Elarion diam.
“Semua orang juga berhenti.”
Para peneliti saling pandang.
Kemudian salah satu dari mereka mengangkat tangan.
“Aku setuju.”
Yang lainnya ikut mengangguk.
“Aku juga.”
Elarion akhirnya menghela napas.
“Baik.”
***
Namun sebelum mereka benar-benar pergi—
Fiona tiba-tiba menatap Elarion.
“Kalau kau mau bahan herbal lagi…”
Elarion langsung menoleh.
Fiona tersenyum kecil.
“…aku bisa meminta Elyon menunjukkan lokasi kios herbal yang lebih langka.”
Elarion terdiam.
Matanya langsung berubah.
“Lebih langka?”
Fiona mengangguk.
“Katanya ada beberapa tempat yang belum kita kunjungi.”
Elyon yang kebetulan berada di luar ruangan mendengar percakapan itu.
Ia masuk.
“Memang ada.”
Elarion langsung menatapnya.
“Di mana?”
Elyon tersenyum tipis.
“Beberapa pedagang tidak membuka toko mereka di Pasar Cahaya utama.”
Ia menjelaskan,
“Mereka biasanya berada di bagian pasar yang lebih dalam, atau menerima barang dari wilayah pegunungan.”
Elarion langsung tertarik.
“Ada herbal langka?”
“Ya.”
Fiona melihat ekspresi Elarion.
Kemudian berkata,
“Tapi bukan sekarang.”
Elarion terdiam.
“Kenapa?”
“Karena kau belum tidur.”
Elarion menatap Fiona.
Fiona menatap balik.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian Fiona menambahkan,
“Kalau kau benar-benar ingin melihat kios itu…”
Ia tersenyum.
“…kau harus beristirahat hari ini.”
Elarion diam.
Ia terlihat seperti sedang menghitung sesuatu di kepalanya.
Fiona menunggu.
Akhirnya—
Elarion mengangguk.
“Baik.”
Fiona tersenyum puas.
“Bagus.”
Elyon menahan tawa.
Seorang peneliti berbisik kepada temannya,
“Dia berhasil.”
Temannya mengangguk.
“Dengan herbal.”
***
Elarion akhirnya meninggalkan ruang penelitian.
Para peneliti juga mulai beristirahat.
Hari itu—
untuk pertama kalinya sejak tiba di Lunaris—
Elarion memutuskan untuk tidak menyentuh eksperimennya.
Setidaknya untuk satu hari.
Dan Fiona merasa sedikit lega.
Namun mereka tidak menyadari—
sejak pagi itu, ada seseorang yang mulai memperhatikan mereka.
***
Tidak jauh dari istana—
seorang wanita berdiri di antara kerumunan.
Penampilannya biasa.
Tidak ada yang akan memperhatikannya.
Tatapannya perlahan mengikuti rombongan dari kejauhan.
Fiona.
Darrien.
Elarion.
Elyon.
Ace.
Rowan.
Kevin.
Ia tidak mendekat.
Tidak menyapa.
Tidak melakukan apa pun.
Hanya mengamati.
Mencatat kebiasaan.
Siapa yang berjalan bersama siapa.
Siapa yang mudah tertarik pada sesuatu.
Siapa yang selalu menjaga sekeliling.
Dan terutama—
siapa yang paling sering berada di sisi Fiona.
Wanita itu tersenyum tipis.
**Giselle.**
Namun wajah yang digunakan hari itu bukanlah wajah aslinya.
Itu hanya satu dari sekian banyak penampilan yang dapat ia gunakan.
Ia telah menemukan target.
Sekarang—
ia hanya perlu mempelajari mereka lebih jauh.
Terutama Fiona.
Karena jika rencananya berhasil—
Fiona sendiri yang akan membuka jalan menuju Darrien.
Share this novel