Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 441 — GUNUNG YANG TIDAK PERNAH MENGULANGI DIRI
Veyth terus berjalan.
Mereka sudah memahami satu hal.
Shadowcresent tidak akan memberikan jalan yang sama dua kali.
Mereka baru saja melewati perangkap persepsi.
Namun beberapa menit kemudian...
jalan di depan kembali berubah.
Batu besar yang sebelumnya berada di sebelah kiri kini berada di kanan.
Pohon tua yang mereka tandai dengan pisau kini menghilang.
Rowan berhenti.
"Tunggu."
Semua ikut berhenti.
Ia melihat tanda kecil pada batang pohon.
"Tanda ini milikku."
Kevin memeriksa sekeliling.
"Berarti kita berputar."
Elyon menggeleng.
"Tidak."
Ia menatap posisi matahari.
"Bayangan berubah."
Darrien mengangkat tangan.
Angin bergerak perlahan.
"Jalurnya tidak berubah."
Ace menunjuk ke belakang.
"Kalau begitu kenapa kita kembali ke sini?"
Darrien terdiam.
Elarion menjawab,
"Karena gunungnya yang berubah."
Ace menatapnya.
"...Aku tidak suka kalimat itu."
Mereka melanjutkan.
Kali ini lebih hati-hati.
Tidak lama kemudian, mereka menemukan tiga jalur.
Kiri.
Tengah.
Kanan.
Tidak ada rune.
Tidak ada jebakan.
Tidak ada suara aneh.
Justru itu yang membuat mereka curiga.
Kevin memperhatikan tanah.
"Ketiganya terlihat sama."
Rowan memeriksa aliran energi.
"Semuanya memiliki jejak sihir."
Elyon menutup mata.
"Namun tidak dengan pola yang sama."
Darrien memandang ketiga jalur itu.
Ia merasakan sesuatu.
"Yang kiri terlalu tenang."
Ace mengerutkan kening.
"Jadi?"
"Seperti tidak pernah dilewati."
Kevin menatap jalur tengah.
"Yang tengah?"
"Ada residu energi."
Elarion mengangguk.
"Berarti pernah digunakan."
Ace menunjuk kanan.
"Dan yang kanan?"
Darrien diam lebih lama.
"...Tidak bisa kurasakan."
Semua langsung menoleh.
Elyon tersenyum tipis.
"Menarik."
Ace menghela napas.
"Kalau sesuatu tidak bisa dirasakan Darrien, biasanya itu bukan kabar baik."
Mereka memilih jalur kanan.
Baru beberapa langkah...
tanah di bawah kaki mereka tidak berubah.
Tidak ada teleportasi.
Tidak ada ilusi.
Namun suara hutan mendadak menghilang.
Sepi.
Terlalu sepi.
Ace melambaikan tangan di depan wajah Kevin.
"Hei."
Kevin menatapnya.
"Apa?"
Ace langsung mundur.
"Kau masih bisa mendengarku?"
"Ya."
"Bagus."
Ace menunjuk telinganya sendiri.
"Aku tidak bisa mendengar apa pun."
Elyon menyadari sesuatu.
"Zona hening."
Elarion menyentuh udara.
"Dan bukan hanya suara."
Ia menatap sekeliling.
"Getaran sihir juga ditekan."
Darrien mencoba menggunakan angin.
Tidak ada respons.
Untuk pertama kalinya...
anginnya tidak menjawab.
Darrien mengerutkan kening.
"Ini berbeda."
Kevin segera memasang posisi bertahan.
"Serangan?"
"Tidak."
Darrien menatap jalur di depan.
"Ujian."
Mufasa menerima laporan melalui kristal.
"Mereka memilih jalur kanan."
Salah satu penyihir vampir bertanya,
"Haruskah kita aktifkan tahap berikutnya?"
Mufasa menggeleng.
"Biarkan zona itu tetap aktif."
"Berapa lama?"
"Sampai mereka menemukan cara menggunakan sesuatu selain sihir."
Penyihir itu memahami maksudnya.
"Jadi mereka dipaksa berhenti bergantung pada kemampuan mereka."
Mufasa tersenyum.
"Shadowcresent tidak peduli seberapa kuat seseorang."
Ia memandang pegunungan.
"Kalau mereka tidak bisa memahami tempat ini, kekuatan mereka tidak banyak berarti."
Kembali kepada Veyth...
Darrien akhirnya melepas fokus pada angin.
Ia melihat tanah.
Daun.
Batu.
Kemiringan jalur.
Jejak kaki.
Semua hal sederhana yang biasanya mereka abaikan.
Rowan mengikuti tatapannya.
"Jadi kita menggunakan lingkungan."
Darrien mengangguk.
"Shadowcresent mematikan sihir kita."
Elarion melanjutkan,
"Tapi tidak bisa menghapus hukum alam."
Kevin mulai memperhatikan kemiringan tanah.
"Air mengalir ke bawah."
Elyon menunjuk pepohonan.
"Dan lumut tumbuh di sisi yang lebih lembap."
Rowan menemukan jejak kecil.
"Jalur ini pernah dilewati."
Ace tersenyum lebar.
"Akhirnya perangkap yang bisa dilawan dengan otak normal."
Kevin menatapnya.
"Jangan terlalu percaya diri."
"Aku hanya bilang—"
Ace melangkah maju.
Tanah di bawah kakinya langsung amblas sedikit.
Ace membeku.
Semua menatapnya.
Ace perlahan melihat ke bawah.
"...Aku menarik kembali perkataanku."
Kevin menghela napas.
Namun jebakan kecil itu tidak menyerang.
Hanya membuat Ace kehilangan keseimbangan.
Elarion tertawa kecil.
"Setidaknya Shadowcresent punya selera humor."
Ace menatap langit.
"Kalau ini humor, aku tidak tertawa."
Mereka akhirnya menemukan jalan keluar dari zona hening.
Suara burung kembali terdengar.
Angin kembali bergerak.
Darrien mengembuskan napas.
Namun kali ini mereka tidak merasa frustrasi.
Mereka justru memahami sesuatu.
Setiap bagian gunung memiliki aturan berbeda.
Perangkap pertama menguji persepsi.
Yang kedua mematikan kemampuan sihir.
Dan pilihan jalan...
menguji kemampuan mereka membaca lingkungan.
Mufasa menerima laporan terakhir.
"Mereka keluar."
Salah satu penjaga bertanya,
"Mereka semakin dekat?"
Mufasa menatap kristal.
"Ya."
"Haruskah kita memperkuat pertahanan?"
Mufasa tersenyum.
"Tentu."
Ia berdiri.
"Tapi jangan gunakan perangkap yang sama."
Para penjaga segera bergerak.
Tidak ada satu pun perangkap yang akan diulang.
Bukan karena Veyth terlalu kuat.
Melainkan karena mereka mulai belajar.
Dan gunung Shadowcresent...
juga belajar dari mereka.
Jauh di depan, Darrien menatap jalur yang semakin dalam menuju pegunungan.
Ada sesuatu yang berubah.
Mereka belum sampai ke Shadowcresent.
Belum mendekati istana.
Namun sekarang mereka tahu satu hal penting.
Pertahanan tempat ini bukan sekumpulan perangkap terpisah.
Semuanya terhubung.
Dan semakin mereka maju...
semakin banyak sistem itu membaca mereka.
