382. Saintess Yang Hilang

Romance Completed 594

BAB 382 — SAINTESS YANG HILANG

Darrien masih berdiri di tengah barrier.

Ia terus mencoba merasakan keberadaan Fiona.

Tidak ada.

Ia memperluas magic sense-nya.

Masih tidak ada.

Kemudian—

ia mendengar suara tawa dari luar.

Darrien mengerutkan kening.

“Apa yang mereka tertawakan?”

Ia mencoba mengabaikannya.

Namun suara itu semakin jelas.

Tawa Ace.

Rowan.

Elarion.

Bahkan Elyon.

Dan—

suara Kevin.

Darrien menghela napas.

*Apa yang terjadi di luar?*

Ia kembali mencoba mencari Fiona.

Tetap tidak ada.

Akhirnya—

Darrien berjalan menuju sisi barrier.

Dan ketika ia melihat ke luar—

ia membeku.

Fiona berdiri bersama mereka.

Santai.

Bahkan tersenyum.

Sementara dirinya—

ditinggalkan sendirian di dalam barrier.

Darrien:

“…”

Fiona menatapnya.

Mereka saling memandang.

Beberapa detik.

Kemudian Fiona tersenyum.

Darrien menghela napas lega.

Setidaknya—

Fiona tidak benar-benar pergi.

Namun rasa lega itu segera bercampur dengan rasa tidak percaya.

“Kapan kau keluar?”

Fiona menjawab santai.

“Beberapa saat lalu.”

Darrien menunjuk dirinya sendiri.

“Dan kau meninggalkanku di dalam?”

Fiona mengangguk.

“Untuk sementara.”

Ace langsung tertawa.

Rowan menepuk bahunya.

“Jangan terlalu tersinggung.”

Darrien menatap mereka.

“Kalian juga tahu?”

Ace mengangguk.

“Ya.”

“Dan tidak ada yang memberitahuku?”

Rowan tersenyum.

“Tidak.”

Darrien menutup wajahnya.

“…Teman macam apa kalian?”

Elarion tertawa.

“Teman yang menikmati pertunjukan.”

Elyon mengangguk.

“Cukup menghibur.”

Darrien menatap mereka satu per satu.

“Pengkhianat.”

***

Fiona akhirnya mengangkat tangannya.

Barrier perlahan menghilang.

Cahaya transparan di sekitar area latihan memudar.

Begitu barrier benar-benar lenyap—

Darrien langsung berjalan menuju Fiona.

Bukan berlari.

Tubuhnya sudah terlalu lelah untuk berlari.

Namun langkahnya cukup cepat.

Fiona melihatnya mendekat.

Darrien berhenti tepat di depannya.

Ia menarik napas.

“Kau baik-baik saja?”

Fiona berkedip.

“Aku baik-baik saja.”

Darrien terdiam.

Kemudian menghela napas lega.

“Bagus.”

Fiona memperhatikan wajahnya.

“Kau terlihat khawatir.”

Darrien menggeleng.

“Tidak.”

Fiona tersenyum.

“Bohong.”

Darrien akhirnya mengaku.

“Sedikit.”

Ia menatap Fiona.

“Ketika aku tidak bisa merasakan keberadaanmu…”

Ia berhenti.

“…aku benar-benar tidak tahu kau berada di mana.”

Fiona tersenyum lembut.

“Itulah yang sedang kita latih.”

Darrien mengangguk.

“Aku tahu.”

Kemudian ia menghela napas lagi.

“Tapi jangan lakukan itu lagi.”

Fiona memiringkan kepalanya.

“Kenapa?”

“Karena aku hampir membongkar seluruh hutan untuk mencarimu.”

Ace langsung tertawa.

Rowan ikut tertawa.

Elarion menahan senyum.

Kevin hanya menggeleng.

Fiona tertawa kecil.

“Kalau begitu kau masih punya banyak hal untuk dipelajari.”

Darrien menatapnya.

“…Aku tahu.”

Fiona kemudian menepuk bahunya.

“Untuk hari ini cukup.”

Darrien mengangkat alis.

“Sudah?”

“Ya.”

Fiona tersenyum.

“Kau sudah berkembang cukup banyak hari ini.”

Darrien menatap tangannya.

Ia bisa merasakan magicure-nya memang jauh lebih berbeda daripada pagi tadi.

Lebih ringan.

Lebih cepat.

Lebih mudah dikendalikan.

“Benarkah?”

Fiona mengangguk.

“Benar.”

Darrien tersenyum kecil.

“Kalau begitu…”

Ia menoleh ke arah Kevin.

“…aku masih bisa latihan dengannya.”

Kevin langsung tersenyum.

“Tentu.”

Darrien membeku.

“…Aku belum selesai bicara.”

Kevin tertawa.

“Besok.”

Darrien langsung menunjuknya.

“Tidak.”

“Besok.”

“Kevin.”

“Besok.”

Ace menepuk bahu Rowan.

“Dia tidak punya kesempatan.”

Rowan mengangguk.

“Tidak pernah.”

Darrien menatap mereka.

“Kalian berdua juga diam.”

Fiona tertawa.

Kemudian ia berjalan lebih dulu.

Darrien mengikuti.

Namun sebelum pergi—

ia menoleh sekali lagi ke arah barrier yang baru saja menghilang.

Ia menghela napas.

Hari ini—

ia belajar banyak.

Kecepatan.

Magic.

Movement.

Magic sense.

Dan yang paling penting—

ia belajar bahwa Fiona bisa menghilang dari indranya kapan saja.

Darrien mempercepat langkahnya sedikit.

Fiona menoleh.

“Ada apa?”

Darrien tersenyum.

“Tidak ada.”

Ia berjalan di sampingnya.

“Cuma memastikan kau tidak menghilang lagi.”

Fiona tertawa kecil.

“Siapa tahu?”

Darrien langsung menatapnya.

“Fiona.”

Fiona tertawa semakin keras.

Di belakang mereka—

Ace dan Rowan sudah tertawa lagi.

Elarion hanya menggeleng.

Elyon tersenyum.

Dan Kevin?

Ia hanya memikirkan satu hal.

Besok—

latihan Darrien akan menjadi lebih berat.

Karena sekarang—

muridnya sudah mulai mengejar level yang sebenarnya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience