Series
390
BAB 334 — KEBIASAAN YANG BELUM HILANG
Pelukan itu berlangsung beberapa saat.
Tidak terlalu lama.
Namun cukup untuk membuat Fiona merasa—
tenang.
Untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun, ia tidak perlu takut bahwa orang yang berada di dalam pelukannya akan menghilang lagi.
Darrien juga tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya membiarkan Fiona tetap berada di dalam pelukannya.
Namun—
ada satu masalah.
Fiona perlahan membuka matanya.
Dan melihat ke sekeliling.
Elyon.
Elarion.
Sylvester.
Ace.
Rowan.
Kevin.
Zeith.
Seraphine.
Edward.
Gloria.
Semuanya—
masih ada di sana.
Menonton.
Diam.
Sangat diam.
Fiona membeku.
“….”
Darrien menyadari perubahan tubuhnya.
“Ada apa?”
Fiona tidak menjawab.
Matanya perlahan bergerak ke kiri.
Ace sedang menahan tawa.
Rowan sudah tersenyum.
Kevin memalingkan wajah, tetapi bahunya bergerak sedikit.
Elarion memasang ekspresi tenang yang justru membuatnya terlihat semakin jelas sedang menahan senyum.
Elyon—
bahkan sudah mengangkat alis.
Zeith tersenyum tipis.
Seraphine menutup mulutnya.
Edward dan Gloria?
Gloria terlihat sangat bahagia.
Edward bahkan terlihat seperti sedang berusaha untuk tidak tertawa.
Fiona:
“….”
Baru sekarang ia menyadari—
**ia baru saja memeluk Darrien di depan semua orang.**
Wajahnya langsung memerah.
Darrien menatapnya.
“Kau baik-baik saja?”
“…”
Fiona masih membeku.
Kemudian perlahan—
ia melepaskan pelukannya.
“Ah…”
Suaranya sangat kecil.
Ace akhirnya tidak tahan.
“Jadi…”
Fiona langsung menoleh.
Ace tersenyum lebar.
“Saintess ternyata bisa malu juga.”
“…”
Fiona menatapnya.
Ace langsung menunjuk Rowan.
“Bukan aku yang bilang!”
Rowan langsung mengangkat kedua tangannya.
“Aku tidak mengatakan apa-apa.”
Kevin menambahkan dengan tenang,
“Tapi wajahmu merah.”
“Kevin!”
Fiona semakin merah.
Elarion akhirnya tertawa kecil.
“Menarik.”
Fiona menatapnya.
“Apa yang menarik?”
“Tidak ada.”
Elarion tersenyum.
“Hanya melihat seseorang yang mampu mengendalikan Forbidden Magic tanpa chanting…”
Ia berhenti.
“…ternyata tidak mampu mengendalikan rasa malu.”
Ace langsung tertawa.
“Benar!”
“Cukup!”
Fiona menutupi wajahnya.
Seraphine bahkan ikut tertawa kecil.
Zeith menggeleng.
“Sepertinya setelah semua kejadian hari ini…”
Ia menatap Darrien dan Fiona.
“…akhirnya ada sesuatu yang normal.”
Edward menatap Darrien.
“Putraku.”
Darrien menoleh.
“Ya?”
Edward tersenyum.
“Kau akhirnya berhasil membuatnya malu.”
Darrien terdiam.
Ia melihat Fiona.
Fiona semakin merah.
“Ayah…”
Darrien menghela napas.
“Aku tidak melakukan apa-apa.”
Ace langsung menyahut,
“Justru itu masalahnya.”
Semua tertawa.
***
Fiona menundukkan kepala.
“Kenapa kalian semua tertawa…”
Rowan menjawab,
“Karena suasana sebelumnya terlalu berat.”
Kevin mengangguk.
“Dan sekarang jauh lebih baik.”
Fiona terdiam.
Ia sebenarnya tidak bisa membantah.
Namun rasa malu itu masih membuat wajahnya panas.
Ia melihat Darrien.
Darrien tersenyum kecil.
Fiona langsung mengalihkan pandangan.
“Jangan lihat aku.”
Darrien mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Tidak ada.”
“Kau malu?”
“Tidak.”
Ace langsung tertawa.
“Dia malu!”
“ACE!”
Fiona akhirnya kehilangan kesabaran.
Cahaya tipis muncul di sekeliling tubuhnya.
Elyon langsung menyadarinya.
“Oh tidak.”
Elarion tersenyum.
“Sepertinya kita akan melihat teknik favoritnya.”
Fiona menatap semuanya.
“Aku pergi dulu.”
Darrien langsung bertanya,
“Ke mana?”
Fiona tidak menjawab.
Cahaya Silver Leaf menyelimuti tubuhnya.
Darrien hanya sempat berkata—
“Fiona, tunggu—”
**WHOOSH!**
Fiona menghilang.
Seketika.
Tidak ada teleportation circle.
Tidak ada chanting.
Tidak ada peringatan.
Hanya—
hilang.
Crystal Hall menjadi sunyi selama dua detik.
Kemudian—
Ace tertawa paling keras.
“DIA KABUR LAGI!”
Rowan langsung tertawa.
Kevin menggeleng sambil tersenyum.
Elarion menutup wajahnya.
“Sudah kuduga.”
Elyon menghela napas.
“Setidaknya kali ini dia tidak kabur karena trauma.”
Seraphine tersenyum.
“Dia hanya malu.”
Zeith mengangguk.
“Jauh lebih baik.”
Edward tertawa kecil.
Gloria juga.
Namun satu orang—
tidak tertawa.
Darrien.
Ia masih berdiri di tempat Fiona tadi berada.
Matanya menatap kosong ke arah ruang yang baru saja ditinggalkan Fiona.
“….”
Ace menoleh kepadanya.
“Darrien?”
Darrien perlahan menghela napas.
“Dia pergi lagi.”
Rowan menepuk bahunya.
“Biasakan.”
Darrien menatapnya.
“Aku tidak tahu apakah aku bisa terbiasa.”
Kevin menjawab datar,
“Kau akan terbiasa.”
Elarion menambahkan,
“Atau tidak.”
Darrien menghela napas lagi.
***
Di tempat lain—
Fiona berhenti setelah berlari jauh menggunakan kecepatannya.
Ia berdiri di sebuah koridor yang sepi.
Napasnya sedikit cepat.
Wajahnya masih merah.
Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
“Ya ampun…”
Ia menggeleng.
“Kenapa mereka semua harus melihat?”
Ia menarik napas.
Kemudian teringat Darrien.
Wajahnya kembali memerah.
“Dan kenapa dia harus memelukku seperti itu…”
Fiona berhenti.
Kemudian bergumam,
“…padahal aku yang memeluknya duluan.”
Ia terdiam.
Beberapa detik kemudian—
Fiona menutup wajahnya lagi.
“Aku ingin menghilang.”
***
Kembali ke Crystal Hall—
Darrien masih berdiri.
Ace berjalan melewatinya.
“Jangan khawatir.”
Darrien menoleh.
“Dia akan kembali.”
Darrien menghela napas.
“Aku tahu.”
Namun setelah beberapa detik—
ia menambahkan,
“Tapi aku tetap tidak terbiasa ketika dia tiba-tiba menghilang.”
Elyon tertawa kecil.
“Kalau begitu, selamat datang di kehidupan bersama Fiona.”
Semua kembali tertawa.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama—
Crystal Hall tidak dipenuhi oleh ketakutan, perang, atau misteri.
Hanya tawa.
Dan satu kebiasaan Fiona yang sepertinya—
masih belum akan berubah dalam waktu dekat.
**Kalau malu, lari.**
Share this novel