466. Malam Yang Kembali Tenang

Romance Completed 594

BAB 466 — MALAM YANG KEMBALI TENANG

Hari mulai beranjak malam.

Setelah seharian berjalan mengelilingi berbagai bagian Shadowcresent, Fiona akhirnya kembali ke istana bersama Raizen.

Begitu memasuki kamar—

Fiona langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.

"Ahh..."

Raizen yang baru menutup pintu menatapnya.

"Lelah?"

Fiona membalik tubuhnya hingga menghadap langit-langit.

"Sangat."

Ia mengangkat satu tangan.

"Kakiku protes."

Raizen berjalan mendekat.

"Kita tidak harus pergi sejauh itu."

Fiona langsung menoleh.

"Tapi aku ingin melihat semuanya."

"Dan sekarang?"

"Aku menyesal sedikit."

Raizen tertawa kecil.

"Sedikit?"

Fiona mengangguk.

"Sedikit."

Ia kemudian menarik selimut.

"Besok aku tidak mau berjalan."

Raizen mengangkat alis.

"Besok?"

Fiona sudah mulai memejamkan mata.

"Besok..."

Ia menguap.

"...kita tinggal di kamar."

Raizen tersenyum.

"Baik."

Fiona menggeser tubuhnya sedikit.

Raizen duduk di sisi tempat tidur.

Fiona meraih tangannya.

"Jangan pergi."

Raizen menatapnya.

"Aku hanya akan sebentar."

"Sebentar berapa lama?"

"Sebentar."

Fiona mengerutkan kening dengan mata setengah tertutup.

"Kau selalu bilang begitu."

Raizen tersenyum.

"Karena memang begitu."

Fiona menguap lagi.

Beberapa detik kemudian—

napasnya mulai teratur.

Ia tertidur.

Raizen masih duduk di sana.

Ia memperhatikan wajah Fiona yang sudah benar-benar tenang.

Tidak ada kerutan di dahinya.

Tidak ada kegelisahan.

Hanya tidur yang dalam setelah hari yang panjang.

Raizen menarik selimutnya sedikit lebih tinggi.

Kemudian menyentuh rambut Fiona dengan lembut.

"Selamat tidur."

Ia berdiri.

Sebelum pergi, ia menatap Fiona sekali lagi.

Lalu keluar dari kamar.

---

Di salah satu ruangan lain di istana—

Mufasa sudah menunggu.

Beberapa laporan terbuka di atas meja.

Raizen masuk dan duduk.

Mufasa berdiri di seberangnya.

"Yang Mulia."

"Bagaimana?"

Mufasa menyerahkan salah satu laporan.

"Belum ada pergerakan langsung dari Veyth."

Raizen membaca sebentar.

"Dan wilayah luar?"

"Tenang."

"Penjaga?"

"Semua kembali ke pola biasa."

Raizen mengangguk.

Untuk beberapa saat—

mereka hanya diam.

Mufasa kemudian berkata,

"Namun saya tidak yakin ketenangan ini akan berlangsung lama."

Raizen menutup laporan.

"Aku juga."

"Setelah apa yang mereka temukan terakhir kali..."

Mufasa berhenti.

"...mereka pasti tidak akan menyerah."

Raizen bersandar pada kursinya.

"Memang."

Mufasa menatapnya.

"Apakah kita perlu memperkuat pertahanan?"

Raizen berpikir sejenak.

"Pertahankan seperti biasa."

"Tanpa perubahan?"

"Perubahan tetap dilakukan."

Raizen menatap jendela.

"Jangan biarkan pola kita mudah dibaca."

Mufasa mengangguk.

"Baik."

Ia kemudian membuka laporan lain.

"Ada satu hal lagi."

Raizen menatapnya.

"Veyth kemungkinan besar sudah memahami sebagian dari hubungan antara sihir kuno dan wilayah Shadowcresent."

"Aku tahu."

"Kalau mereka terus meneliti..."

"Mereka akan semakin dekat."

Mufasa terdiam.

Raizen tidak terlihat khawatir.

Namun Mufasa sudah cukup lama mengenalnya untuk mengetahui—

ketenangan itu bukan berarti ia mengabaikan ancaman.

Raizen hanya tidak ingin membiarkan ancaman tersebut mengambil setiap harinya.

Tatapannya beralih ke pintu.

Ke arah kamar Fiona.

"Untuk malam ini..."

Ia berhenti.

"...aku tidak ingin membicarakan mereka terlalu lama."

Mufasa tersenyum tipis.

"Karena Fiona sedang tidur?"

"Ya."

"Yang Mulia takut membangunkannya?"

Raizen menatap Mufasa.

"Dia kelelahan."

Mufasa menahan senyum.

"Benar."

Raizen kembali melihat laporan.

"Besok kita lanjutkan."

Mufasa mengangguk.

"Baik."

Ia mulai mengumpulkan dokumen.

Namun sebelum pergi, ia berhenti.

"Yang Mulia."

"Hm?"

Mufasa menatapnya.

"Anda terlihat lebih tenang sekarang."

Raizen diam sebentar.

Kemudian menjawab sederhana,

"Aku punya alasan untuk tenang."

Mufasa tahu jawabannya.

Fiona.

Ia mengangguk.

"Kalau begitu..."

Mufasa tersenyum kecil.

"Selamat malam, Yang Mulia."

Raizen mengangguk.

"Selamat malam."

Mufasa meninggalkan ruangan.

Raizen tetap duduk beberapa saat.

Di luar jendela—

bulan merah Shadowcresent menggantung di langit.

Jauh di luar wilayah mereka, Veyth masih terus bergerak.

Masih meneliti.

Masih mencari jalan.

Namun malam ini—

tidak ada perang.

Tidak ada penyusup.

Tidak ada sihir yang bertabrakan.

Hanya sebuah kerajaan kuno yang kembali tidur.

Dan di kamar yang tidak jauh dari sana—

Fiona tertidur lelap.

Sementara Raizen duduk dalam keheningan malam, mengetahui bahwa suatu hari nanti Veyth mungkin akan datang lagi.

Tetapi bukan malam ini.

Untuk malam ini—

Shadowcresent beristirahat.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience