Series
382
BAB 247
Untuk pertama kalinya sejak pesta dimulai—
Fiona akhirnya meletakkan garpunya.
Ia bersandar sedikit pada kursinya dan menghela napas puas.
“Sudah.”
Darrien yang duduk di sampingnya menoleh.
“Sudah?”
Fiona mengangguk mantap.
“Aku kenyang.”
Ace melihat piring di depannya.
Kemudian melihat Fiona.
“Benarkah?”
“Benar.”
Rowan ikut melihat.
“Ini pencapaian besar.”
Fiona mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Ace menunjuk piring Fiona.
“Karena sejak pesta dimulai, sepertinya kau tidak melakukan apa pun selain makan.”
Fiona terdiam.
Kemudian—
“Memangnya kenapa?”
Rowan langsung tertawa.
Darrien juga tersenyum.
Elarion hanya menghela napas.
“Biarkan saja.”
Fiona mengangguk puas.
“Terima kasih, Elarion.”
Kemudian ia berdiri.
“Aku ingin berjalan sebentar.”
Darrien ikut berdiri.
“Ke mana?”
“Crystal Garden.”
Elarion menutup buku kecil yang sejak tadi berada di tangannya.
“Aku ikut.”
Ace juga bangkit.
“Aku juga.”
Rowan mengangguk.
“Begitu juga aku.”
Fiona tersenyum.
“Baik.”
***
Namun sebelum mereka pergi—
Darrien sempat menoleh ke arah Kevin.
“Kevin?”
Kevin sedang berdiri tidak jauh dari area utama aula.
Ia mengenakan perlengkapan resmi Elite Guard Veyth.
Tatapannya bergerak mengawasi seluruh ruangan.
Para bangsawan.
Para tamu.
Para pelayan.
Setiap pintu masuk.
Setiap gerakan yang terasa mencurigakan.
Ia tidak bisa meninggalkan posisinya.
Hari ini adalah hari penting bagi Veyth.
Dan tugasnya adalah memastikan keamanan para bangsawan selama perayaan berlangsung.
Kevin hanya mengangkat tangannya.
“Pergilah.”
“Kau tidak ikut?”
“Tidak.”
Kevin kembali memperhatikan aula.
“Aku bertugas.”
Ace mengangguk.
“Benar juga.”
Fiona tersenyum.
“Kalau begitu kami pergi dulu.”
Kevin mengangguk.
“Jangan terlalu jauh.”
Darrien tersenyum kecil.
“Baik.”
Mereka kemudian meninggalkan Crystal Hall.
Kevin tetap di tempatnya.
Tidak mengikuti.
Tidak perlu.
Sebagai salah satu Elite Guard Veyth—
tanggung jawabnya berada di sini.
Menjaga para bangsawan.
Menjaga tamu.
Dan memastikan tidak ada gangguan selama upacara.
***
Crystal Garden terletak tidak jauh dari Crystal Hall.
Begitu memasuki taman—
Fiona langsung memperlambat langkah.
Kristal-kristal besar tumbuh di antara bebatuan dan pepohonan.
Cahaya matahari sore memantul di permukaannya.
Menciptakan warna-warni lembut di sepanjang jalan.
Fiona tersenyum.
“Indah.”
Darrien mengangguk.
“Ini salah satu tempat favorit ibuku.”
Fiona melihat sekeliling.
“Pantas.”
Ia mendekati sebuah kristal.
Menyentuh permukaannya.
“Hangat.”
Elarion menjelaskan,
“Kristal Veyth menyimpan energi mana dari lingkungan sekitarnya.”
Fiona mengangguk.
“Jadi kalian memang suka batu dan kristal.”
Darrien tertawa.
“Jangan mulai.”
Fiona menahan tawa.
“Kenapa?”
“Nanti kau bilang istana kami dibangun dari batu.”
Fiona melirik bangunan di kejauhan.
“Bukankah memang begitu?”
Ace langsung tertawa.
Rowan ikut tertawa.
Elarion menghela napas.
Darrien hanya menatap Fiona.
“Kau memang suka menggodaku.”
Fiona tersenyum.
“Sedikit.”
***
Mereka terus berjalan.
Tidak terburu-buru.
Untuk pertama kalinya hari itu—
tidak ada suasana formal.
Tidak ada tatapan para bangsawan.
Tidak ada pengumuman.
Hanya mereka.
Namun—
beberapa orang mengikuti dari kejauhan.
Surya Ardika.
Susanti.
Marcus.
Lola.
Sementara dari sisi lain—
Keith Varian.
Clara.
Dan Clark.
Mereka tidak mendekat.
Tidak ingin mengganggu.
Mereka hanya ingin memastikan sesuatu.
Apakah pemuda yang baru saja diperkenalkan sebagai pewaris Veyth itu—
benar-benar Darrien yang pernah mereka temui?
Dan jika memang iya—
mereka ingin memastikan satu hal lain.
Fiona aman.
Setelah apa yang terjadi di lembah—
mereka merasa memiliki hutang yang belum selesai.
Terutama kepada Fiona.
***
Lola berjalan bersama Clark.
“Jangan terlalu dekat.”
Clark mengangguk.
“Aku tahu.”
“Kita hanya memastikan.”
“Ya.”
Lola kemudian melihat ke depan.
Fiona sedang berjalan bersama Darrien.
Ia tersenyum kecil.
“Dia terlihat bahagia.”
Clark ikut melihat.
“Ya.”
Mereka terus mengikuti.
***
Fiona tiba-tiba berhenti.
Darrien hampir menabraknya.
“Kenapa?”
Fiona tidak menjawab.
Tatapannya tertuju ke belakang.
Lola.
Clark.
Ia mengenali keduanya.
Tidak sulit.
Fiona mengingat mereka.
Namun—
ia tidak langsung mengatakan apa-apa.
Darrien ikut melihat.
Dan pada saat itu—
sesuatu berubah.
Bukan karena ia mengenali wajah mereka.
Ia tidak mengenal mereka.
Setidaknya—
tidak secara pribadi.
Namun melihat mereka membuat sesuatu di dalam dirinya terasa tidak nyaman.
Darrien mengerutkan kening.
“Aku…”
Sebuah tekanan tiba-tiba muncul di kepalanya.
***
Sebuah lembah.
Suara pertempuran.
Tanah.
Batu.
Darah.
Kemudian—
Fiona.
Tubuhnya jatuh.
Darrien berlari.
“Fiona!”
Seseorang berteriak.
Ada banyak orang.
Namun semuanya kabur.
Ia tidak melihat wajah mereka.
Ia tidak peduli siapa mereka.
Karena saat itu—
hanya ada satu hal yang memenuhi pikirannya.
**Fiona.**
Fiona yang terluka.
Fiona yang jatuh.
Fiona yang mungkin tidak akan bangun lagi.
Sesuatu di dalam dirinya pecah.
Kekuatan gelap meledak keluar.
***
Darrien kembali tersadar.
Napasnya sedikit berat.
Fiona langsung menoleh.
“Darrien?”
Darrien menatapnya.
“Kau tidak apa-apa?”
Fiona mendekat.
“Aku baik-baik saja.”
Darrien melihatnya beberapa detik.
Kemudian mengangguk.
“Ya.”
Ia kembali melihat orang-orang di belakang mereka.
Tatapannya berubah waspada.
Ia tidak tahu siapa mereka.
Namun keberadaan mereka membuat tubuhnya secara naluriah bergerak lebih dekat kepada Fiona.
Ia berdiri sedikit di depannya.
Hanya sedikit.
Namun cukup untuk menjadi penghalang.
Aura gelap yang sangat tipis keluar dari tubuhnya.
Tidak cukup kuat untuk menyerang.
Hanya sebuah peringatan.
**Jangan mendekat.**
Lola dan Clark langsung berhenti.
Surya juga ikut berhenti.
Begitu pula Keith dan yang lainnya.
Fiona memperhatikan Darrien.
“Darrien…”
“Aku tidak mengenal mereka.”
Suaranya tenang.
Namun waspada.
“Kalau begitu kenapa kau…”
Fiona berhenti.
Darrien menatap mereka.
“Aku tidak tahu.”
Ia mengepalkan tangannya.
“Melihat mereka membuatku mengingat sesuatu.”
Fiona bertanya pelan,
“Apa?”
Darrien menghela napas.
“Lembah.”
Fiona terdiam.
Darrien menatapnya.
“Kau jatuh.”
Suaranya semakin rendah.
“Aku ingat kau terluka.”
Kemudian—
ia menggeleng.
“Aku tidak ingat wajah mereka.”
Lola menundukkan kepala.
Sekarang ia mengerti.
Darrien tidak melupakan mereka.
Ia memang tidak pernah benar-benar mengenal mereka.
Di hari itu—
perhatiannya hanya tertuju kepada Fiona.
***
Surya akhirnya maju satu langkah.
Namun ia berhenti sebelum mendekat.
“Kami tidak datang untuk membuat masalah.”
Darrien tetap diam.
Surya menatap Fiona.
“Kami hanya ingin berbicara dengannya.”
Darrien tidak menjawab.
Fiona akhirnya menyentuh lengannya.
“Darrien.”
Darrien menoleh.
“Mereka tidak akan membawaku.”
Ia menatap Fiona.
“Kau yakin?”
Fiona mengangguk.
“Ya.”
Darrien perlahan mengendurkan tangannya.
Aura gelapnya juga mulai menghilang.
Namun ia tetap berdiri di dekat Fiona.
***
Lola kemudian maju sedikit.
“Fiona…”
Fiona menatapnya.
Lola menarik napas.
“Kami datang bukan untuk membawamu.”
Ia menundukkan kepala.
“Kami datang untuk meminta maaf.”
Fiona terdiam.
Clark ikut menundukkan kepala.
“Kami tahu kata maaf tidak akan menghapus apa yang terjadi.”
Lola melanjutkan,
“Tapi kami tetap ingin mengatakannya langsung kepadamu.”
Fiona memandang mereka.
“Kenapa?”
Surya menjawab dari belakang.
“Karena kami merasa memiliki tanggung jawab atas apa yang terjadi di lembah.”
Fiona diam.
Lola menggigit bibir.
“Kami seharusnya bisa mencegahnya.”
Clark menambahkan,
“Dan kami menyesal.”
Hening.
Angin bergerak melewati pepohonan kristal.
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Kemudian Fiona tersenyum tipis.
“Aku baik-baik saja.”
Lola mengangkat kepala.
“Benarkah?”
Fiona mengangguk.
“Ya.”
Ia kemudian menatap mereka satu per satu.
“Aku memang terluka.”
Darrien menatapnya.
“Tapi aku sudah sembuh.”
Fiona tersenyum.
“Jadi…”
Ia menarik napas.
“…kalian tidak perlu terus membawa rasa bersalah itu.”
Lola terdiam.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Fiona…”
Fiona tersenyum.
“Aku tidak membenci kalian.”
Darrien menoleh sedikit.
Elarion memperhatikan dalam diam.
Ace dan Rowan juga tidak mengatakan apa-apa.
Untuk beberapa saat—
Crystal Garden benar-benar sunyi.
Kemudian Lola tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Fiona mengangguk.
“Ya.”
Ia kemudian menoleh kepada Darrien.
“Kita kembali?”
Darrien tersenyum.
“Baik.”
Fiona mulai berjalan.
Namun sebelum mereka pergi—
Clark memperhatikan Fiona lebih lama.
“Fiona.”
Ia berhenti.
“Hm?”
Clark tersenyum kecil.
“Kau juga berubah.”
Fiona berkedip.
“Aku?”
Lola mengangguk.
“Banyak.”
Fiona menyentuh wajahnya sendiri.
“Separah itu?”
Ace tertawa.
“Sepertinya semua orang mengatakan itu hari ini.”
Fiona menatapnya.
“Jangan ikut-ikutan.”
Rowan tertawa.
Darrien hanya tersenyum.
Namun—
di belakang mereka,
Ardika dan Varian akhirnya mendapatkan jawaban yang mereka cari.
Fiona benar-benar aman.
Dan untuk saat ini—
itu sudah cukup.
Mereka tidak perlu mengganggu hidupnya lebih jauh.
Mereka berbalik perlahan.
Meninggalkan Crystal Garden.
Tanpa mengetahui—
bahwa pertemuan singkat itu mungkin akan menjadi kali terakhir mereka berada begitu dekat dengan kehidupan Fiona.
***
Jauh di Crystal Hall—
Kevin masih menjalankan tugasnya sebagai Elite Guard Veyth.
Ia mengamati seluruh aula.
Tidak tahu apa yang baru saja terjadi di taman.
Namun ia tahu satu hal—
selama perayaan berlangsung,
tidak boleh ada seorang pun yang mengancam keselamatan para bangsawan.
Dan untuk sementara—
semuanya masih aman.
Share this novel