Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 468 — MALAM PANJANG SANG RAJA
Pintu kamar Raizen terbuka dengan cepat.
Mufasa masuk bersama beberapa orang yang membawa perlengkapan penyembuhan.
Di belakangnya terdapat seorang penyembuh tua dan dua penyihir medis terbaik yang dimiliki Shadowcresent.
Mereka segera mendekati tempat tidur.
Fiona terbaring di sana.
Wajahnya masih pucat.
Namun napasnya sudah jauh lebih teratur dibandingkan sebelumnya.
Raizen berdiri di sisi tempat tidur.
Tatapannya tidak pernah meninggalkan Fiona.
"Periksa dia."
Suaranya terdengar tenang.
Tetapi Mufasa dapat merasakan ketegangan di baliknya.
"Baik, Yang Mulia."
Salah seorang penyembuh mendekat dan mulai memeriksa kondisi Fiona.
Tangannya menyentuh dahi Fiona.
Kemudian memeriksa denyut nadinya.
Satu penyihir lainnya menggunakan sihir penyembuhan ringan untuk memeriksa aliran energi dalam tubuhnya.
Beberapa saat berlalu.
Raizen tetap diam.
Hanya matanya yang bergerak mengikuti setiap tindakan mereka.
Akhirnya penyembuh itu menarik napas lega.
"Yang Mulia."
Raizen langsung menatapnya.
"Bagaimana kondisinya?"
Penyembuh itu membungkuk.
"Sepertinya tidak ada luka atau gangguan sihir yang serius."
Raizen sedikit mengendurkan bahunya.
"Kalau begitu?"
"Kemungkinan besar hanya demam ringan."
Raizen mengerutkan kening.
"Demam?"
"Ya."
Penyembuh itu melanjutkan dengan tenang.
"Beberapa hari terakhir, suhu udara di Shadowcresent memang turun cukup drastis."
Mufasa mengangguk pelan.
"Saya juga menyadarinya."
"Paling terasa pada malam hari," lanjut penyembuh itu. "Angin malam beberapa hari terakhir jauh lebih dingin dibandingkan biasanya."
Ia kembali memeriksa Fiona.
"Untuk seseorang dengan kondisi tubuh seperti Fiona, perubahan suhu yang cukup mendadak dapat menyebabkan flu ringan."
Raizen terdiam.
Matanya turun kepada Fiona.
"...flu?"
"Sepertinya begitu."
Penyembuh itu tersenyum kecil.
"Untungnya tidak parah."
Raizen masih terlihat serius.
"Apa yang harus dilakukan?"
"Biarkan dia beristirahat."
Penyembuh mengambil sebuah botol kecil berisi cairan bening berkilau.
"Berikan sedikit eliksir ini setelah dia sadar."
Ia menyerahkan botol itu kepada Raizen.
"Dan pastikan tubuhnya tetap hangat."
Raizen menerima botol tersebut.
"Berapa lama?"
"Jika tidak ada komplikasi, beberapa hari."
Beberapa hari.
Raizen mengulang kata-kata itu dalam pikirannya.
Hanya beberapa hari.
Bukan penyakit berbahaya.
Bukan racun.
Bukan kutukan.
Bukan serangan Veyth.
Hanya flu ringan.
Untuk pertama kalinya sejak menemukan Fiona di bawah pohon...
ketegangan dalam tubuhnya benar-benar berkurang.
Raizen mengembuskan napas panjang.
"Baik."
Penyembuh itu membungkuk.
"Kami akan meninggalkan beberapa ramuan tambahan."
Mufasa kemudian melangkah mendekat.
"Kalau begitu, mari kita keluar."
Para penyembuh mengikuti Mufasa.
Namun sebelum keluar, Mufasa menoleh sebentar kepada Raizen.
"Yang Mulia."
Raizen menatapnya.
"?"
"Beberapa hari terakhir memang lebih dingin."
Raizen diam.
Mufasa melanjutkan.
"Fiona mungkin tidak terbiasa dengan udara Shadowcresent."
Raizen mengangguk pelan.
"Aku tahu."
Mufasa tidak mengatakan apa-apa lagi.
Ia hanya membungkuk.
Kemudian keluar bersama para penyembuh.
Pintu kembali tertutup.
Sunyi.
Raizen berdiri seorang diri di kamar.
Ia menatap botol eliksir di tangannya.
Kemudian perlahan meletakkannya di meja.
Tatapannya kembali kepada Fiona.
Ia berjalan mendekat.
Duduk di sisi tempat tidur.
Tangannya terangkat dan menyentuh dahi Fiona.
Masih hangat.
Tetapi tidak sepanas sebelumnya.
Raizen menghela napas kecil.
Baru sekarang ia menyadarinya.
Beberapa malam terakhir memang terasa lebih dingin.
Ia bahkan sempat merasakan perubahan angin ketika berada di balkon.
Namun bagi dirinya—
itu tidak berarti apa-apa.
Tubuhnya sudah terbiasa dengan dinginnya Shadowcresent selama ribuan tahun.
Angin malam tidak pernah mengganggunya.
Karena itu...
ketika Fiona beberapa kali terlihat sedikit menggigil atau menarik pakaiannya lebih rapat...
ia tidak memikirkannya terlalu jauh.
Ia mengira Fiona hanya merasa sedikit dingin.
Raizen menundukkan kepala.
"Seharusnya aku memperhatikannya."
Jarinya perlahan menyentuh rambut Fiona.
Ada sedikit rasa bersalah di matanya.
Ia yang membawa Fiona berjalan-jalan di malam hari.
Ia yang membiarkannya duduk di taman.
Ia yang tidak menyadari perubahan suhu.
Dan sekarang Fiona terbaring sakit.
Raizen memejamkan mata sebentar.
"Betapa bodohnya aku..."
Ia membuka mata kembali.
Fiona masih tidur.
Napasnya halus.
Teratur.
Jauh lebih tenang.
Raizen mengulurkan tangannya.
Ia menggenggam tangan Fiona dengan lembut.
Tangan itu terasa jauh lebih kecil di dalam genggamannya.
Beberapa detik ia hanya diam.
Kemudian tubuhnya sedikit membungkuk.
Bibirnya mendekati telinga Fiona.
Suaranya nyaris seperti bisikan.
"...Maaf."
Jari-jarinya mengusap punggung tangan Fiona.
"Seharusnya aku lebih memperhatikanmu."
Fiona tidak menjawab.
Ia masih tertidur.
Namun jarinya bergerak sedikit di dalam genggaman Raizen.
Gerakan kecil itu membuat Raizen terdiam.
Ia menatap tangan mereka.
Kemudian menggenggamnya sedikit lebih erat.
Bukan untuk menahan.
Hanya untuk memastikan bahwa Fiona benar-benar berada di sana.
"Aku akan lebih berhati-hati."
Raizen mengangkat pandangannya kepada wajah Fiona.
"Mulai sekarang."
Malam perlahan turun di luar jendela.
Cahaya merah bulan Shadowcresent kembali memenuhi ruangan.
Biasanya Raizen menyukai malam.
Malam adalah waktu ketika istana menjadi paling tenang.
Ketika seluruh Shadowcresent berada dalam keheningan.
Namun malam itu terasa berbeda.
Ia tidak pergi ke balkon.
Tidak mengunjungi taman.
Tidak membaca laporan.
Tidak memikirkan Veyth.
Ia hanya duduk di sisi tempat tidur.
Menjaga Fiona.
Sesekali tangannya menyentuh dahi Fiona.
Memastikan suhunya tidak kembali naik.
Sesekali ia menarik selimut sedikit lebih tinggi ketika melihat tubuh Fiona bergerak.
Dan setiap kali Fiona mengubah posisi tidurnya...
mata Raizen langsung terbuka.
Seolah tubuhnya sendiri telah belajar untuk memperhatikan setiap gerakan kecil Fiona.
Waktu berlalu.
Tengah malam.
Kemudian lewat.
Raizen masih di sana.
Fiona masih tidur.
Napasnya semakin halus.
Kondisinya jelas lebih baik.
Namun Raizen belum juga beranjak.
Ia menatap wajah Fiona dalam cahaya bulan.
Ada sesuatu yang belum bisa ia lepaskan.
Rasa bersalah.
Ia telah hidup terlalu lama.
Telah melihat terlalu banyak hal.
Telah menghadapi perang, kematian, pengkhianatan, dan kesunyian selama ribuan tahun.
Tetapi penyakit kecil seperti ini...
justru membuatnya merasa tidak berdaya.
Bukan karena ia tidak bisa menyembuhkan Fiona.
Ia bisa.
Tetapi karena ia baru menyadari bahwa ada begitu banyak hal kecil tentang Fiona yang masih belum ia pahami.
Hal-hal sederhana.
Seperti seberapa kuat tubuhnya terhadap dingin.
Apa yang membuatnya tidak nyaman.
Kapan ia merasa lelah.
Kapan ia membutuhkan istirahat.
Raizen menatap tangan mereka.
Ia mengusap ibu jarinya perlahan di atas punggung tangan Fiona.
"Aku masih harus belajar."
Bisikannya begitu pelan hingga hampir hilang bersama suara malam.
Fiona bergerak kecil.
Kepalanya sedikit bergeser ke arah tangannya.
Raizen langsung terdiam.
Kemudian sudut bibirnya terangkat tipis.
"Ya..."
Ia membiarkan tangannya tetap berada di sana.
"Aku akan belajar."
Malam itu terasa sangat panjang bagi sang Raja.
Namun untuk pertama kalinya...
Raizen tidak merasa terganggu oleh panjangnya malam.
Ia hanya ingin tetap berada di sisi Fiona sampai pagi.
Sampai demam itu benar-benar hilang.
Sampai ia membuka mata.
Dan sampai Fiona kembali tersenyum kepadanya.
Untuk malam ini—
itu saja yang ia inginkan.
