439. Jalan Yang Ditemukan Hilang Lagi

Romance Completed 594

BAB 439 — JALAN YANG DITEMUKAN HILANG LAGI

Pagi telah tiba.

Namun Veyth tidak terlihat seperti kelompok yang baru saja bangun untuk memulai perjalanan.

Mereka terlihat seperti sekelompok orang yang baru saja kalah perang.

Ace berdiri sambil memijat pinggangnya.

"Aku ingin pulang."

Kevin menatapnya.

"Kita baru saja mulai."

"Itulah masalahnya."

Elarion menggeleng.

Darrien sudah berdiri di depan mereka, menatap lereng gunung.

Kabut pagi perlahan menghilang.

Dengan cahaya matahari, beberapa tanda sihir yang sebelumnya tidak terlihat mulai muncul di permukaan batu.

Elyon langsung mendekat.

"Tunggu."

Ia berjongkok.

Di bawah lapisan lumut terdapat garis tipis berwarna keperakan.

Rowan ikut mendekat.

"Rune?"

"Ya."

Elyon menyentuhnya dengan ujung jarinya.

"Ini berbeda dari perangkap sebelumnya."

Kevin mengamati pola tersebut.

"Fungsinya?"

Elyon tersenyum.

"Penunjuk."

Semua langsung diam.

Ace mendekat dengan mata berbinar.

"Penunjuk jalan?"

"Sepertinya."

Ace langsung menepuk bahu Kevin.

"KITA MENANG!"

Kevin menyingkirkan tangannya.

"Jangan terlalu cepat."

Ace menatapnya.

"Biarkan aku bahagia selama lima detik."

Darrien memperhatikan rune tersebut.

"Ke mana arahnya?"

Elyon mengikuti garis energi.

"Utara."

Rowan membuka peta.

"Jika ini benar..."

Ia menggerakkan jarinya di atas peta.

"...jalurnya mengarah ke bagian dalam wilayah Shadowcresent."

Ace tersenyum lebar.

"AKHIRNYA!"

Mereka segera bergerak.

Kali ini dengan lebih hati-hati.

Mereka mengikuti rune satu demi satu.

Satu batu.

Dua batu.

Tiga pohon.

Kemudian sebuah celah sempit di antara dua tebing.

Tidak ada perangkap.

Tidak ada kabut.

Tidak ada perubahan medan.

Ace mulai merasa percaya diri.

"Sepertinya mereka akhirnya menyerah."

Darrien menoleh.

"Jangan bicara seperti itu."

"Kenapa?"

"Setiap kali kau mengatakan sesuatu seperti itu—"

*CLICK.*

Semua membeku.

Ace menutup mulut.

"...Aku tahu."

Tanah bergetar.

Dari kedua sisi tebing, batu-batu besar mulai bergerak.

Elarion langsung mengangkat tangan.

"Perisai!"

*BOOM!*

Batu-batu itu jatuh.

Namun kali ini Veyth sudah siap.

Lapisan pelindung sihir menahan semuanya.

Debu memenuhi udara.

Ketika debu menghilang...

mereka masih berdiri.

Ace tersenyum.

"Kali ini tidak."

Kevin tersenyum.

"Kita berhasil."

Elyon melihat ke depan.

Dan tersenyum.

"Perangkap itu tidak dimaksudkan untuk menjatuhkan kita."

Rowan mengerti.

"Untuk memaksa kita berhenti di titik tertentu."

Darrien menatap batu di depan.

"Kenapa?"

Elyon menunjuk ke bawah.

Ada rune lain.

Jauh lebih besar.

"Karena ini."

Mereka semua mendekat.

Sebuah lingkaran sihir kuno tertanam di tanah.

Bukan perangkap.

Bukan teleportasi.

Sebuah...

penanda wilayah.

Elyon menarik napas.

"Ini bagian dari jaringan Shadowcresent."

Darrien menatapnya.

"Seberapa dekat?"

Elyon memeriksa aliran energinya.

"Lebih dekat."

Ace tersenyum.

"Seberapa dekat?"

"Beberapa kilometer."

Ace langsung mengangkat kedua tangannya.

"YES!"

Kevin tertawa.

Elarion bahkan terlihat lega.

Namun Darrien tidak ikut tersenyum.

Ia menatap lingkaran itu dengan serius.

"Kalau kita bisa membaca jaringan ini..."

Elyon mengangguk.

"...kita tidak perlu mencari jalan secara membabi buta."

Rowan langsung membuka buku catatannya.

"Jadi kita harus mengikuti jaringan, bukan jalur."

"Benar."

Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba...

mereka merasa benar-benar mendapatkan terobosan.

---

Di menara pengawasan...

Mufasa membaca laporan terbaru.

"Mereka menemukan penanda wilayah."

Seorang penyihir vampire mengangguk.

"Ya."

Mufasa diam beberapa detik.

Kemudian...

tersenyum.

"Bagus."

Penyihir itu berkedip.

"Bagus?"

"Biarkan."

"Biarkan mereka mengikuti?"

"Ya."

Penjaga lain terlihat bingung.

"Kenapa?"

Mufasa menunjuk peta.

"Karena mereka memang harus menemukan jaringan itu."

Ia menggeser jarinya.

"Jaringan pertahanan bukan sesuatu yang bisa disembunyikan selamanya."

"Kalau begitu mereka akan semakin dekat."

"Benar."

Mufasa tersenyum.

"Tapi mereka belum tahu bagaimana jaringan ini memilih jalurnya."

Penyihir vampire itu perlahan memahami.

"Jadi..."

Mufasa mengangguk.

"Kita tidak perlu menyembunyikan jalannya."

Ia mengambil satu batu penanda.

"Kita hanya perlu membuat mereka memilih jalan yang kita inginkan."

---

Beberapa jam kemudian...

Veyth sudah berada jauh lebih dalam.

Mereka menemukan satu penanda.

Kemudian penanda kedua.

Lalu ketiga.

Setiap penanda membuat peta mereka semakin jelas.

Rowan mulai menggambar jaringan tersebut.

"Jika pola ini benar..."

Ia menghubungkan beberapa titik.

"...semua jalur akhirnya berkumpul di satu wilayah."

Darrien menatap peta.

"Shadowcresent."

Elyon mengangguk.

"Ya."

Ace tersenyum.

"Berarti kita sudah hampir sampai."

Kevin menatapnya.

"Kali ini jangan bilang—"

"AKU TIDAK BILANG APA-APA."

Hening.

Mereka berjalan lagi.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Dua puluh menit.

Tidak ada apa-apa.

Ace mulai curiga.

"Ini terlalu tenang."

Kevin langsung memegang kepalanya.

"Kenapa kau harus mengatakan itu?"

Ace mengangkat tangan.

"Refleks."

Tiba-tiba...

sebuah cahaya muncul di depan.

Semua berhenti.

Sebuah gerbang batu tua berdiri di antara pepohonan.

Tidak besar.

Tidak megah.

Namun jelas bukan formasi alamiah.

Elyon mendekat.

"Ini..."

Ia menyentuh permukaan batu.

Rune menyala.

Darrien menatap gerbang itu.

"Apakah ini jalan masuk?"

Elyon mengamati simbolnya.

"Entahlah."

Ace berjalan mendekat.

"Kalau ada gerbang, biasanya ada pintu."

Ia memegang gagangnya.

*CLICK.*

Pintu terbuka.

Ace tersenyum bangga.

"Ha."

Ia menoleh kepada yang lain.

"Aku bilang juga—"

*WHOOSH!*

Seluruh kelompok menghilang.

Ace:

"..."

Kevin:

"..."

Elarion:

"..."

Rowan:

"..."

Elyon:

"..."

Darrien:

"..."

Mereka muncul kembali...

di atas sebuah tebing.

Semua terdiam.

Ace melihat ke bawah.

Kemudian melihat yang lain.

"...Aku tidak akan bicara."

Kevin mengangguk.

"Itu keputusan terbaikmu hari ini."

Elyon memeriksa rune di tanah.

Ia mendadak tertawa kecil.

"Apa?"

Darrien menatapnya.

Elyon menunjuk ke belakang.

Gerbang tadi...

sudah tidak ada.

Ace menatap kosong ke udara.

"Jadi..."

Ia menarik napas.

"Kita akhirnya menemukan pintu..."

"Ya."

"...dan pintunya memindahkan kita."

"Ya."

Ace duduk.

"Gunung ini memang jahat."

Darrien menghela napas.

Namun kali ini...

ia tersenyum tipis.

Karena meskipun mereka kembali dibuat berputar—

mereka akhirnya memahami sesuatu.

Mereka bukan lagi sekadar mencari istana.

Mereka sedang belajar bagaimana Shadowcresent berpikir.

Dan semakin lama mereka berada di gunung itu...

semakin jelas bahwa pertahanan kerajaan tersebut bukan sekadar penghalang.

Ia adalah sebuah sistem.

Sistem yang hidup melalui ruang, tanah, sihir, dan wilayah.

Dan Veyth perlahan mulai belajar membaca bahasanya.

Sayangnya...

bahasa itu ternyata memiliki banyak sekali kata untuk mengatakan:

**"SILAKAN COBA LAGI."**

Ace menatap langit.

"Besok kita masih di sini, kan?"

Tidak ada yang menjawab.

Ace menghela napas.

"...Aku sudah tahu jawabannya."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience