408. Taman Sang Raja

Romance Completed 594

BAB 408 — TAMAN SANG RAJA

Shadowcresent—

Waktu terasa berjalan sangat lambat.

Terlalu lambat.

Fiona telah menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar Karachi.

Ia sudah melihat jendela.

Rak buku.

Meja.

Lukisan.

Pintu.

Bahkan beberapa artefak yang tidak berani disentuhnya.

Namun setelah beberapa waktu—

tidak ada lagi yang menarik.

Fiona duduk di sisi tempat tidur.

Ia menghela napas panjang.

“Bosan…”

Ia menjatuhkan tubuhnya ke belakang.

Matanya menatap langit-langit.

“Benar-benar bosan.”

Ia membalik tubuhnya.

Kemudian kembali duduk.

Kedua tangannya menopang dagu.

“Darrien…”

Ia menghela napas lagi.

“Kalau kau datang lebih cepat, aku tidak perlu duduk di sini sepanjang hari.”

Suara langkah terdengar dari luar.

Fiona langsung menoleh.

Pintu kamar terbuka.

Raizen masuk.

Tatapannya langsung tertuju kepada Fiona.

Fiona menatapnya.

Keduanya saling diam.

Raizen kemudian melihat posisi Fiona.

Duduk di tempat tidur.

Wajah bosan.

Tatapan kosong.

Raizen sedikit mengangkat alis.

“Kau bosan.”

Bukan pertanyaan.

Fiona mendengus.

“Menurutmu?”

Raizen berjalan melewatinya.

“Aku tahu tempat yang mungkin kau sukai.”

Fiona mengerutkan kening.

“Tempat apa?”

“Taman.”

Fiona terdiam.

“Taman?”

Karachi mengangguk.

“Taman favoritku.”

Fiona langsung mengangkat alis.

“Kau punya taman favorit?”

“Ya.”

Raizen berhenti di dekat pintu.

“Kau ingin melihatnya?”

Fiona memandang pintu.

Kemudian melihat Raizen.

Ia masih tidak percaya padanya.

Namun tetap saja—

berada di kamar ini sepanjang hari jauh lebih membosankan.

Fiona berdiri.

“Baik.”

Raizen menatapnya.

Fiona mengangkat jarinya.

“Tapi jangan salah paham.”

Raizen diam.

“Aku tetap tidak setuju menjadi ratumu.”

Raizen hanya menjawab,

“Aku mengerti.”

Fiona berjalan melewatinya.

“Bagus.”

Kemudian—

ia mengikuti Raizen.

***

Koridor Shadowcresent ternyata jauh lebih panjang daripada yang Fiona bayangkan.

Mereka berjalan dalam keheningan.

Tidak ada pelayan yang terlihat.

Tidak ada suara percakapan.

Hanya langkah kaki mereka yang terdengar di atas lantai batu.

**Tok.**

**Tok.**

**Tok.**

Dinding di sepanjang koridor dihiasi ukiran kuno.

Tidak seperti Veyth.

Tidak seperti Lunaris.

Tidak ada kristal bercahaya yang biasanya menjadi sumber penerangan.

Sebagai gantinya—

lampu-lampu kecil berbentuk bulan sabit tertanam di dinding.

Cahayanya redup.

Merah tua.

Sesekali terdapat lukisan tua yang tergantung di antara pilar.

Beberapa menggambarkan pegunungan.

Beberapa menggambarkan kota kuno.

Dan beberapa—

Fiona tidak mengenali apa yang digambarkan.

Ia memperhatikan semuanya sambil berjalan.

“Tempat ini tua.”

Karachi menoleh sedikit.

“Ya.”

“Berapa tua?”

Karachi tidak langsung menjawab.

“Lebih tua dari kebanyakan kerajaan yang masih berdiri.”

Fiona menatapnya.

“Jawaban yang sangat tidak membantu.”

Karachi hanya melanjutkan langkah.

Fiona mendengus.

***

Mereka akhirnya berhenti di depan sebuah pintu besar.

Fiona langsung memperlambat langkahnya.

Pintu itu berbeda dari semua pintu yang pernah ia lihat.

Tidak terbuat dari kristal.

Tidak transparan.

Tidak memancarkan cahaya magicure seperti pintu-pintu kerajaan Veyth dan Lunaris.

Pintu tersebut terbuat dari kayu hitam tua.

Permukaannya dihiasi ukiran yang sangat rumit.

Pola tanaman merambat mengelilingi seluruh permukaan.

Di bagian tengah—

terdapat ukiran bulan sabit.

Namun bulan tersebut dikelilingi oleh duri-duri kecil.

Fiona mendekat.

“Indah…”

Ia tanpa sadar mengatakan itu.

Raizen berhenti.

Ia menoleh kepadanya.

Fiona segera menyadari apa yang baru saja dikatakannya.

“Bukan berarti aku suka tempatmu.”

Raizen tidak menjawab.

Fiona mendengus.

Ia kembali melihat pintu.

“Ini bukan desain Veyth.”

“Bukan.”

“Juga bukan Lunaris.”

“Benar.”

Fiona menyentuh udara di depannya tanpa benar-benar menyentuh pintu.

“Bahkan tidak ada kristal.”

Raizen membuka pintu.

Suara kayu tua bergeser terdengar perlahan.

**Kreeeek…**

Fiona terdiam.

Kemudian—

pemandangan di balik pintu membuatnya berhenti.

***

Taman.

Namun bukan taman seperti yang biasa ia lihat.

Fiona melangkah keluar perlahan.

Udara di sana berbeda.

Lebih dingin.

Namun tidak sedingin kamar.

Aroma bunga memenuhi udara.

Fiona melihat ke depan.

Ratusan bunga tumbuh di sepanjang jalan batu.

Namun hampir semuanya—

berwarna hitam.

Mawar hitam.

Lili hitam.

Bunga kecil berwarna gelap yang belum pernah Fiona lihat sebelumnya.

Beberapa bunga memiliki ujung kelopak berwarna merah tua.

Beberapa lainnya tampak seperti menyerap cahaya di sekitarnya.

Fiona berjalan perlahan.

“…”

Ia benar-benar terdiam.

Raizen memperhatikannya.

Fiona berjongkok di depan sebuah mawar hitam.

Ia tidak menyentuhnya.

Hanya melihat.

“Bunga ini…”

Raizen menjawab,

“Black Rose.”

Fiona mengangkat alis.

“Nama yang sederhana.”

“Namun sulit tumbuh.”

Fiona menoleh.

“Kenapa?”

Raizen melihat taman.

“Tidak semua tanah bisa membuatnya hidup.”

Fiona kembali menatap bunga.

“Seperti Shadowcresent?”

Raizen diam beberapa detik.

“Kurang lebih.”

Fiona tersenyum tipis.

Ia kemudian berdiri.

Di kejauhan—

terdapat sebuah kolam kecil.

Airnya sangat jernih.

Namun warnanya gelap seperti kaca hitam.

Beberapa bunga kecil mengambang di atas permukaan air.

Di belakangnya terdapat pohon-pohon tua dengan daun berwarna hijau gelap.

Beberapa bahkan memiliki daun berwarna hampir hitam.

Fiona berjalan mendekat.

“Bahkan tamannya berbeda.”

Raizen mengangguk.

“Lunaris memiliki taman yang dipenuhi cahaya.”

“Veyth memiliki taman yang dipenuhi kristal.”

Ia melihat bunga-bunga di sekelilingnya.

“Shadowcresent memiliki ini.”

Fiona tersenyum kecil.

“Gelap.”

Raizen menatapnya.

“Namun indah.”

Fiona menoleh.

Raizen masih melihat taman.

Fiona terdiam.

Ia tidak menyangka jawabannya.

Kemudian ia kembali melihat bunga.

“Ya…”

Suaranya pelan.

“Indah.”

***

Mereka berjalan semakin jauh.

Jalur batu membelah taman menjadi beberapa bagian.

Di sisi kiri—

terdapat bunga-bunga hitam.

Di sisi kanan—

terdapat pohon-pohon tua.

Di bagian tengah—

terdapat kolam besar dengan sebuah patung bulan sabit di tengahnya.

Patung tersebut tampak sangat tua.

Permukaannya penuh retakan.

Namun tidak ada satu pun retakan yang merusak bentuknya.

Fiona berhenti.

“Berapa lama taman ini ada?”

Raizen menatap patung itu.

“Sudah ada sejak sebelum aku menjadi Raja.”

Fiona menoleh.

“Berarti sangat tua.”

Raizen mengangguk.

“Ya.”

Fiona melihat sekeliling.

Untuk pertama kalinya sejak dibawa ke Shadowcresent—

ia tidak merasa seperti berada di sebuah tempat asing.

Taman ini memiliki sesuatu.

Ketenangan.

Meski auranya gelap.

Meski semuanya berbeda dari Veyth dan Lunaris.

Ada keindahan yang tidak bisa ia jelaskan.

Namun Fiona tetap mengingat alasan dirinya berada di sini.

Ia menoleh kepada Raizen.

“Jangan pikir karena tamannya indah…”

Ia menunjuk dirinya sendiri.

“…aku berubah pikiran.”

Raizen menatapnya.

“Aku tahu.”

Fiona mengangguk puas.

“Bagus.”

Kemudian ia kembali berjalan.

Karachi mengikuti beberapa langkah di belakangnya.

Untuk sesaat—

tidak ada pembicaraan.

Hanya suara angin yang bergerak melalui pepohonan.

Kelopak mawar hitam bergoyang perlahan.

Dan jauh di atas mereka—

langit Shadowcresent mulai berubah warna.

Taman tua itu tetap tenang.

Tidak mengetahui bahwa perempuan Pure Light yang berdiri di dalamnya—

mungkin akan menjadi bagian dari sejarah baru Shadowcresent.

Dan Raizen —

belum menyadari seberapa besar perubahan yang akan dibawa Fiona ke dalam kerajaannya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience