Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 440 — PERANGKAP YANG MULAI BELAJAR
Pagi kedua di pegunungan Shadowcresent datang tanpa belas kasihan.
Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan ketika Veyth kembali bergerak.
Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak malam sebelumnya.
Ace bahkan sudah berhenti mengeluh.
Bukan karena ia sudah menerima keadaan.
Melainkan karena ia terlalu lelah untuk mengeluh.
"Kalau kita berhasil pulang hari ini..." gumam Ace sambil berjalan, "...aku mau tidur tiga hari."
Kevin meliriknya.
"Kalau kita berhasil pulang."
Ace berhenti.
"...Kenapa kau harus menambahkan kata 'kalau'?"
"Karena realistis."
"Aku benci realisme."
Elarion mengabaikan mereka.
Perhatiannya tertuju pada tanah di depan.
Ada sesuatu yang berbeda.
Bukan jejak kaki.
Bukan akar.
Bukan pula batu yang bergeser seperti sebelumnya.
Sebuah garis tipis berwarna keperakan membentuk pola lingkaran di permukaan tanah.
Rowan berjongkok.
"Rune."
Kevin ikut memperhatikan.
"Rune teleportasi?"
Elarion menggeleng perlahan.
"Bukan."
Darrien berdiri beberapa langkah di belakang mereka, matanya menyipit.
"Ada sesuatu di dalamnya."
Semua menoleh.
Darrien tidak menyentuh rune tersebut.
Ia hanya merasakan aliran energinya.
"Rune ini tidak sedang menunggu untuk diaktifkan."
Elyon mengangkat alis.
"Lalu?"
"Sepertinya sedang mengamati."
Ace langsung mundur satu langkah.
"Rune bisa mengamati?"
"Secara teknis, bukan seperti manusia."
"Bagus."
Ace menunjuk rune itu.
"Aku tidak mau benda di tanah punya pendapat tentangku."
Elarion hampir tersenyum.
Namun perhatian mereka segera kembali pada rune.
Darrien mengulurkan tangannya sedikit.
Angin tipis bergerak di sekeliling jarinya.
Rune itu langsung bereaksi.
Cahaya keperakan muncul.
Bukan ledakan.
Bukan serangan.
Rune tersebut justru menyerap sedikit energi dari udara.
Kemudian...
polanya berubah.
Kevin menatapnya.
"Dia menyesuaikan diri."
Elyon perlahan berdiri.
"Itu bukan perangkap biasa."
Elarion mengangguk.
"Shadowcresent tidak hanya membangun perangkap."
Ia menatap pola rune yang terus berubah.
"Mereka membuat perangkap yang bisa membaca respons lawan."
Darrien terdiam.
Itulah yang selama ini mereka cari.
Bukan sekadar bagaimana mereka dipindahkan.
Tetapi bagaimana sistem pertahanan Shadowcresent bekerja.
Di tempat lain, jauh di balik hutan...
Mufasa berdiri di atas sebuah batu tinggi.
Beberapa penjaga vampir berada di sekitarnya.
Para penyihir vampir memegang kristal komunikasi kecil yang terhubung dengan rune-rune di pegunungan.
Salah seorang penjaga berkata,
"Mereka menemukan rune pengamat."
Mufasa tersenyum tipis.
"Biarkan."
"Haruskah kami mengaktifkan perangkap?"
Mufasa menggeleng.
"Tidak."
Ia memandang jauh ke arah Veyth.
"Biarkan mereka menyentuhnya."
Para penjaga saling melirik.
Mufasa melanjutkan,
"Kalau kita terus memindahkan mereka setiap kali mereka menemukan sesuatu, mereka tidak akan belajar apa pun."
Ia menatap rune yang baru saja berubah.
"Aku ingin tahu seberapa cepat mereka belajar."
Kembali ke tempat Veyth berada...
Darrien akhirnya menyentuh batas rune.
Dunia berubah.
Tidak secara fisik.
Namun persepsi mereka mendadak menjadi kacau.
Pepohonan di sekitar mereka tampak bergerak.
Bayangan jatuh ke arah yang salah.
Suara langkah terdengar dari belakang.
Padahal tidak ada siapa-siapa.
Ace langsung berbalik.
"Siapa itu?!"
Tidak ada jawaban.
Ia menoleh ke depan.
Kevin berada di sana.
Namun ketika Ace melihat ke samping...
Kevin juga berada di sana.
Ace membeku.
"...Aku mulai tidak suka tempat ini."
Kevin yang asli mengerutkan kening.
"Jangan lihat bayangannya."
"Aku bahkan tidak tahu mana bayangan dan mana Kevin!"
Elarion menutup mata.
"Jangan percaya mata."
Elyon mengikuti.
"Jangan percaya suara."
Rowan menarik napas perlahan.
"Gunakan energi."
Darrien sudah melakukannya.
Angin tipis bergerak di sekitar tubuhnya.
Ia merasakan aliran udara.
Pepohonan yang terlihat bergerak ternyata tidak bergerak sama sekali.
Yang berubah hanyalah persepsi mereka.
Darrien membuka mata.
"Ke kiri."
Kevin mengikutinya.
Elyon menyusul.
Rowan bergerak setelah mereka.
Ace masih berdiri di tempat.
"Kenapa kiri?"
Darrien menjawab tanpa menoleh.
"Karena jalan di kanan tidak ada."
Ace menatap kanan.
Ada jalan besar di sana.
"...Aku bisa melihatnya."
"Itulah masalahnya."
Ace menelan ludah.
"Baiklah."
Ia mengikuti.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Bayangan di sekitar mereka mulai kembali normal.
Rune keperakan perlahan meredup.
Tidak ada teleportasi.
Tidak ada serangan.
Tidak ada satu pun dari mereka yang terluka.
Mereka berhasil melewatinya.
Elarion melihat kembali ke rune.
"Perangkap ini menguji persepsi."
Elyon mengangguk.
"Dan respons terhadap ilusi."
Kevin menambahkan,
"Berarti setiap perangkap mungkin dirancang untuk menguji sesuatu yang berbeda."
Darrien memandang jauh ke dalam hutan.
"Dan semakin kita memahami satu perangkap..."
Ia berhenti.
"...semakin perangkap berikutnya mungkin berubah."
Di tempat lain, Mufasa menerima laporan.
"Mereka melewatinya."
Mufasa tersenyum.
"Bagus."
Seorang penjaga bertanya,
"Haruskah kami menghentikan mereka sekarang?"
Mufasa menggeleng.
"Belum."
Ia memandang ke arah pegunungan.
"Biarkan mereka merasa mereka menang."
Senyumnya semakin tipis.
"Kita lihat seberapa jauh perasaan itu membawa mereka."
Sementara itu, Veyth terus berjalan.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki pegunungan Shadowcresent...
mereka merasa bukan hanya sedang bertahan.
Mereka mulai memahami.
Sedikit.
Sangat sedikit.
Namun cukup untuk membuat mereka sadar bahwa pertahanan Shadowcresent bukan sekadar dinding.
Ia seperti bahasa.
Dan setiap perangkap...
adalah satu kata baru yang harus mereka pelajari.
