113. Daun Yang Memilih

Romance Series 382

BAB 113
DAUN YANG MEMILIH

Pagi itu, Lunaris kembali diselimuti cahaya lembut.

Elyon berjalan sendirian melewati koridor istana.

Tidak ada pengawal yang menghentikannya.

Tidak ada penjaga yang meminta izin.

Sebagai Guru Agung Lunaris, ia telah terbiasa berjalan di dalam istana tanpa harus menjelaskan tujuannya.

Namun pagi ini—

tujuannya jelas.

Perpustakaan Kerajaan.

***

Pintu besar perpustakaan terbuka ketika Elyon mendekat.

Penjaga membungkuk.

“Guru Agung.”

Elyon mengangguk.

“Terima kasih.”

Ia masuk.

Ruangan itu sangat luas.

Rak-rak tinggi memenuhi hampir seluruh dinding.

Buku-buku tua tersimpan dalam kotak pelindung.

Beberapa gulungan disegel dengan sihir.

Kristal-kristal kecil melayang di antara rak untuk memberikan cahaya.

Elyon berjalan menuju bagian yang jarang disentuh.

Ia tidak mencari catatan kerajaan biasa.

Ia mencari sesuatu yang jauh lebih tua.

***

Di salah satu meja—

Elyon membuka sebuah buku.

Catatan tentang artefak Elf kuno.

Ia membalik halaman.

Tidak.

Buku berikutnya.

Catatan tentang tanaman sihir.

Tidak.

Buku ketiga.

Artefak yang berhubungan dengan energi cahaya.

Elyon berhenti.

Matanya bergerak membaca beberapa baris.

Kemudian ia menutup buku itu kembali.

“Bukan.”

Ia bersandar di kursinya.

Pikirannya kembali kepada Fiona.

Seorang gadis manusia.

Tidak menunjukkan aura Elf.

Tidak menunjukkan tanda garis keturunan kerajaan.

Tidak memiliki kemampuan sihir yang jelas.

Setidaknya—

tidak ada yang terlihat.

Namun daun perak itu memilihnya.

Itulah yang mengganggunya.

Elyon mengambil buku lain.

“Benda seperti itu tidak seharusnya memilih sembarang orang.”

Ia membuka halaman berikutnya.

Beberapa ilustrasi daun perak memenuhi halaman.

Elyon memperhatikan salah satunya.

Bentuknya hampir sama.

Hampir.

Namun tidak sepenuhnya.

Ia menyipitkan mata.

“Jadi kau bukan daun biasa.”

Ia membaca catatan di bawah gambar.

Sebagian besar tulisan telah memudar.

Hanya beberapa kata yang masih terbaca.

**“Respon terhadap…”**

Bagian berikutnya rusak.

Elyon menghela napas.

“Bagus.”

Ia menutup buku itu.

“Justru bagian pentingnya yang hilang.”

Ia mengambil catatan lain.

Kali ini tentang artefak yang memiliki kemampuan mengenali energi pemiliknya.

Elyon membaca beberapa halaman.

Kemudian berhenti.

Sebuah kalimat menarik perhatiannya.

**“Artefak tertentu tidak dapat dipaksa untuk menerima pemilik.”**

Elyon terdiam.

Ia membaca kalimat berikutnya.

**“Jika benda tersebut menerima seseorang tanpa penolakan, maka pemilihannya bersifat alami.”**

Elyon menyandarkan tubuhnya.

“Jadi…”

Ia mengingat saat pertama kali melihat Fiona.

Daun itu tidak menyerangnya.

Tidak menolak.

Tidak membakar tangannya.

Bahkan ketika Fiona memegangnya—

daun itu tenang.

Ketika pengrajin mencoba menyentuhnya—

gagal.

Ketika berada dekat Fiona—

daun itu justru bereaksi.

Elyon mengusap dagunya.

“Bukan Fiona yang mengendalikan daun itu.”

Ia menatap halaman tersebut.

“Daun itu yang memilih Fiona.”

Untuk pertama kalinya, ekspresi Elyon menjadi serius.

“Kenapa?”

Ia kembali membuka buku-buku lain.

Satu demi satu.

Catatan kuno.

Catatan tentang artefak cahaya.

Catatan tentang ras Elf.

Catatan tentang kristal kerajaan.

Namun tidak ada jawaban lengkap.

Hanya potongan-potongan informasi.

Elyon akhirnya berhenti.

Ia menatap tumpukan buku di depannya.

“Gadis biasa…”

Ia menggeleng.

“Tidak.”

Ia tidak mau membuat kesimpulan terlalu cepat.

Fiona mungkin memang manusia biasa.

Namun ada sesuatu yang membuat artefak kuno itu menerimanya.

Dan sampai ia mengetahui alasannya—

ia tidak akan mengabaikan hal tersebut.

Elyon menutup buku terakhir.

“Aku perlu mencari catatan yang lebih tua.”

Ia berdiri.

Kemudian berjalan menuju bagian perpustakaan yang lebih dalam.

Di sana—

rak-rak buku menjadi semakin tua.

Beberapa bahkan tertutup debu.

Beberapa segel sihir telah memudar.

Elyon berhenti di depan satu rak.

Tatapannya jatuh pada sebuah simbol lama yang hampir tidak terlihat.

Simbol cahaya.

Ia mengulurkan tangan.

Namun sebelum menyentuh buku—

ia berhenti.

“Tidak sekarang.”

Ia menarik tangannya.

Tidak perlu terburu-buru.

Jika Fiona memang terhubung dengan sesuatu yang sangat tua—

jawabannya akan ditemukan.

Dan kali ini—

Elyon ingin memastikan jawabannya sendiri.

Bukan berdasarkan dugaan.

Bukan berdasarkan cerita.

Melainkan berdasarkan bukti.

Ia kembali membawa beberapa buku ke meja.

Penelitian itu baru saja dimulai.

Sementara jauh di Veyra—

Fiona sedang menjalani pagi seperti biasa.

Tanpa mengetahui bahwa seseorang di Lunaris sedang mencari jawaban tentang dirinya.

Bukan karena siapa orang tuanya.

Bukan karena gelar.

Bukan karena kerajaan.

Melainkan karena satu hal sederhana—

**sebuah daun perak memilihnya.**

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience