94. Kalung Daun Perak

Romance Series 94

BAB 94
KALUNG DAUN PERAK

Di dalam arsip—

Kevin menutup gulungan terakhir.

“Cukup.”

Ace mengangkat kepala dari tumpukan dokumen.

“Akhirnya.”

Elarion mengusap wajahnya.

“Kita tidak akan menemukan apa pun lagi malam ini.”

Rowan mengangguk.

“Sebagian besar catatan yang kita butuhkan juga sudah dipindahkan ke bagian arsip kerajaan yang lebih dalam.”

Ace berdiri.

“Jadi?”

Kevin menggulung lengan bajunya.

“Kita istirahat.”

Ace langsung tersenyum.

“Ke taman?”

Elarion tertawa kecil.

“Sepertinya kita semua membutuhkan udara segar.”

Mereka meninggalkan ruangan.

***

Di taman—

Fiona masih memegang daun perak.

Darrien duduk di sampingnya.

Fiona sedang menjelaskan sesuatu dengan penuh semangat.

“Aku benar-benar akan menjadikannya kalung.”

Darrien mengangguk.

“Kalau begitu kita cari pengrajin besok.”

“Tidak.”

Fiona menggeleng.

“Aku ingin membuat desainnya sendiri.”

Darrien tersenyum.

“Baik.”

“Aku ingin rantainya tipis.”

Ia mengangkat daun tersebut.

“Dan daun ini diletakkan di tengah.”

“Seperti liontin?”

“Ya.”

Fiona tersenyum puas.

“Supaya selalu dekat dengan hatiku.”

Darrien terdiam sejenak.

Kemudian tersenyum.

“Itu bagus.”

Fiona menatapnya.

“Kau suka?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Karena kau menyukainya.”

Fiona tertawa kecil.

“Kau semakin pandai menjawab.”

“Belajar dari seseorang.”

“Siapa?”

“Kau.”

Fiona tersenyum.

***

Suara langkah kaki terdengar.

Kevin muncul lebih dulu.

“Jadi kalian di sini.”

Ace menyusul.

Kemudian Elarion dan Rowan.

Fiona menoleh.

“Kalian sudah selesai?”

Kevin mengangguk.

“Untuk hari ini.”

Ace langsung duduk di tanah.

“Aku tidak mau melihat dokumen lagi.”

Elarion tertawa.

Fiona kemudian menunjukkan daun peraknya.

“Aku punya ide.”

Ace menatapnya.

“Apa?”

“Aku ingin menjadikannya kalung.”

Ace melihat daun itu.

“Oh.”

Elarion juga memperhatikannya.

“Kalung?”

Fiona mengangguk.

“Ya.”

Rowan, yang baru saja duduk, tiba-tiba diam.

Tatapannya tertuju pada daun tersebut.

Namun kali ini ia tidak mengatakan apa-apa.

Kevin memperhatikan reaksinya.

“Kau tahu sesuatu?”

Rowan menggeleng.

“Belum cukup.”

Ace mengangkat alis.

“Jawabanmu mencurigakan.”

Rowan hanya tersenyum.

Fiona tidak memperhatikan mereka.

Ia masih sibuk menjelaskan desainnya.

“Rantainya harus tipis.”

Darrien mengangguk.

“Dan kuat.”

“Kenapa harus kuat?”

“Karena kau selalu membawa benda itu ke mana-mana.”

Fiona berpikir sebentar.

“Benar juga.”

Ace akhirnya ikut melihat.

“Kalau begitu gunakan logam yang tahan sihir.”

Fiona menoleh.

“Bisa?”

Ace mengangguk.

“Bisa.”

Kevin menatap Ace.

“Kau sekarang ikut mendesain?”

Ace mengangkat bahu.

“Aku hanya tidak ingin liontinnya hancur.”

Elarion tertawa.

“Kalian semua terlalu serius.”

Fiona tersenyum.

“Berarti kalian setuju?”

Darrien menjawab lebih dulu.

“Setuju.”

Kevin mengangguk.

“Selama tidak membahayakanmu.”

Ace mengangguk.

“Setuju.”

Elarion tersenyum.

“Aku juga.”

Semua kemudian melihat Rowan.

Rowan terdiam beberapa detik.

“Kalau itu membuatmu bahagia…”

Ia mengangguk.

“Buatlah.”

Fiona tersenyum lebar.

“Kalau begitu sudah diputuskan!”

Ia menggenggam daun perak itu erat.

“Aku akan membuatnya menjadi kalung.”

Darrien melihat senyumnya.

Ia tersenyum juga.

Namun—

di balik pepohonan, jauh dari pandangan mereka—

Elyon masih berdiri.

Ia mendengar semuanya.

Tatapannya jatuh pada daun perak.

“Kalung…”

Ia menghela napas kecil.

“Kalau dia benar-benar memakainya…”

Tatapannya berubah serius.

“…seluruh klan akan bisa merasakannya.”

Elyon menatap kediaman Rowan.

Namun ia tidak menghentikan Fiona.

Karena mungkin—

sudah waktunya daun itu kembali menunjukkan kepada dunia…

siapa yang sebenarnya dipilihnya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience