198. Ujian Pertama

Romance Series 382

BAB 198
UJIAN PERTAMA

Suasana di dalam area latihan berubah setelah Kevin memberi tanda dimulainya latihan.

Darrien berdiri beberapa langkah di depannya.

Aura Dark Elf masih terkendali di sekitar tubuhnya.

Namun Kevin tidak langsung menyerang.

Ia hanya berdiri.

Tenang.

Darrien mengerutkan kening.

“Bukankah kita akan mulai?”

“Kita sudah mulai.”

Darrien terdiam.

“Apa?”

Kevin tersenyum tipis.

“Sejak kau masuk ke area ini.”

Darrien menghela napas.

“Baiklah.”

Ia mengambil posisi bertarung.

Kevin masih tidak bergerak.

“Serang aku.”

Darrien mengangkat alis.

“Begitu saja?”

“Ya.”

“Tidak ada sihir?”

“Belum.”

Darrien menatapnya beberapa detik.

Kemudian—

ia melesat maju.

Langkahnya cepat.

Dalam sekejap, Darrien sudah berada di depan Kevin.

Tangannya bergerak menuju bahu Kevin.

Namun—

Kevin menghindar.

Hanya satu langkah.

Serangan Darrien melewati tubuhnya.

Darrien segera berbalik.

Kevin masih berdiri di tempat yang hampir sama.

“Lambat.”

Darrien mengerutkan kening.

“Lambat?”

“Untuk ukuranmu.”

Darrien langsung maju lagi.

Kali ini lebih cepat.

Satu serangan.

Dua.

Tiga.

Kevin terus menghindar.

Tidak ada serangan balik.

Tidak ada sihir.

Hanya gerakan tubuh.

Darrien mulai kesal.

“Berhenti menghindar.”

Kevin tersenyum.

“Kenapa?”

“Lawan aku.”

“Aku sedang melakukannya.”

Darrien mengepalkan tangan.

Ia kembali menyerang.

Kevin menunduk.

Kemudian bergeser ke samping.

Darrien kehilangan keseimbangan sedikit.

Sebuah sentuhan ringan mengenai punggungnya.

Darrien langsung berhenti.

Kevin sudah berada di belakangnya.

“Kalau ini pertempuran sungguhan…”

Kevin menunjuk punggung Darrien.

“…kau sudah terkena serangan.”

Darrien menatapnya.

“…”

Ia menghela napas.

“Sekali lagi.”

Kevin mengangguk.

“Bagus.”

***

Di luar barrier—

Fiona memperhatikan dengan serius.

“Dia belum menggunakan sihir.”

Elarion mengangguk.

“Kevin sedang menguji kemampuan dasar Darrien.”

Fiona terlihat lega.

“Berarti belum terlalu berat.”

Elarion terdiam.

“Untuk sekarang.”

Fiona menoleh.

“…Kenapa kau mengatakan itu?”

Elarion tersenyum kecil.

“Karena kau belum melihat Kevin benar-benar serius.”

Fiona kembali melihat ke dalam barrier.

Darrien sedang mencoba menyerang lagi.

Kevin masih menghindar.

Rowan dan Ace yang duduk di sisi lapangan justru terlihat santai.

Ace tertawa kecil.

“Dia masih sama.”

Rowan mengangguk.

“Darrien selalu terlalu fokus pada serangan pertama.”

Fiona menatap mereka.

“Kalian sudah tahu?”

“Tentu.”

Rowan tersenyum.

“Kami sudah melihat mereka berlatih berkali-kali.”

Fiona kembali melihat Darrien.

Ia mulai memahami sesuatu.

Darrien memang kuat.

Namun Kevin tidak sedang mencoba mengalahkan kekuatannya.

Ia sedang mencari kelemahan di balik kekuatan itu.

***

Di dalam barrier—

Darrien menarik napas.

Ia berhenti menyerang secara membabi buta.

Kevin mengangkat alis.

“Bagaimana?”

Darrien tidak menjawab.

Ia mulai memperhatikan.

Gerakan kaki Kevin.

Posisi bahunya.

Cara tubuhnya bergerak setiap kali Darrien menyerang.

Darrien menunggu.

Kevin juga menunggu.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian Darrien kembali bergerak.

Namun kali ini—

ia tidak langsung menyerang.

Ia membuat gerakan tipuan.

Kevin bergerak.

Darrien langsung mengubah arah.

Tangannya hampir mengenai Kevin.

Namun Kevin berhasil menghindar lagi.

Hampir.

Darrien berhenti.

Kevin tersenyum.

“Nah.”

Darrien menatapnya.

“Apa?”

“Sekarang kau mulai berpikir.”

Darrien menghela napas.

“Jadi sejak tadi kau hanya mengajariku membaca gerakan?”

“Ya.”

Kevin berdiri tegak.

“Karena kekuatanmu sudah besar.”

“Yang kau butuhkan bukan sekadar lebih banyak kekuatan.”

“Kalau kau hanya mengandalkan itu…”

Ia menatap Darrien serius.

“…lawan yang lebih pintar akan menggunakan kekuatanmu sendiri untuk menjatuhkanmu.”

Darrien terdiam.

Ia memahami maksudnya.

Koga.

Pertarungan di lembah.

Tubuhnya yang akhirnya tidak mampu bergerak.

Darrien menarik napas.

“Sekali lagi.”

Kevin tersenyum.

“Kali ini lebih baik.”

Darrien mengambil posisi.

Di luar barrier, Fiona kembali menyatukan kedua tangannya.

“Semoga berhasil…”

Elarion mengangguk.

Rowan dan Ace saling berpandangan.

Mereka tahu—

latihan sebenarnya baru saja dimulai.

Share this novel

Fatimah Mutazali
2026-09-17 17:39:48 

hello author mana chapter 197 terus ke chapter 198 pulak atau memang tak ada chapter tu


NovelPlus Premium

The best ads free experience