273. Cahaya Di Tengah Malam

Romance Series 382

BAB 273 — CAHAYA DI TENGAH MALAM

Malam semakin dalam.

Istana Lunaris akhirnya benar-benar sunyi.

Satu demi satu lampu di sepanjang koridor mulai diredupkan.

Para pelayan telah kembali ke tempat mereka.

Para penjaga mengambil posisi masing-masing.

Dan seluruh kerajaan perlahan tenggelam dalam ketenangan malam.

Di salah satu kamar tamu—

Fiona telah tertidur.

Napasnya lembut dan teratur.

Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan malam ketika ia terbangun karena mimpi buruk beberapa hari sebelumnya.

Tidak ada ketakutan.

Tidak ada kegelisahan.

Hanya tidur.

Namun—

tanpa ia sadari—

sesuatu terjadi.

Kalung yang berada di lehernya mulai memancarkan cahaya yang sangat samar.

Bukan cahaya terang.

Hanya kilau lembut yang muncul sesaat.

Kemudian menghilang.

Beberapa detik berlalu.

Silver Leaf Bracelet di pergelangan tangannya ikut bereaksi.

Sebuah cahaya tipis mengalir di sepanjang permukaan perak.

Keduanya tidak menyala bersamaan.

Seolah-olah—

mereka sedang merespons sesuatu yang tidak terlihat.

Fiona tidak menyadarinya.

Ia tetap tertidur.

***

Kemudian—

mimpinya kembali.

Fiona berdiri di sebuah tempat yang asing.

Namun kali ini—

ia tidak langsung merasa takut.

Tempat itu terasa familiar.

Cahaya lembut memenuhi sekelilingnya.

Udara dipenuhi energi magis yang sangat murni.

Fiona melihat ke depan.

Ada sebuah jalan panjang.

Di kedua sisinya—

kristal-kristal tumbuh dari tanah.

Cahayanya lembut.

Tidak menyilaukan.

Fiona berjalan perlahan.

Ia tidak tahu ke mana harus pergi.

Namun kakinya terus bergerak.

Seolah-olah sesuatu sedang menuntunnya.

Kemudian—

ia mendengar suara.

“Fiona.”

Ia berhenti.

Menoleh.

Namun tidak ada siapa-siapa.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Fiona melangkah lagi.

Cahaya di sekelilingnya perlahan menjadi lebih terang.

Dan di kejauhan—

ia melihat sebuah sosok.

Darrien.

Namun sekali lagi—

bukan Darrien yang ia kenal sekarang.

Ia terlihat lebih dewasa.

Lebih matang.

Tatapannya tenang.

Auranya jauh lebih dalam.

Fiona berdiri diam.

“Darrien…?”

Sosok itu menoleh kepadanya.

Ia tersenyum.

Fiona hendak berjalan mendekat—

namun pemandangan itu tiba-tiba berubah.

***

Gelap.

Fiona kembali melihat darah.

Tubuh Darrien berada di dalam pelukannya.

Tidak bergerak.

“Tidak…”

Fiona langsung menangis.

“Darrien…”

Namun kali ini—

sebelum ia sempat melakukan apa pun—

pemandangan itu kembali pecah.

Cahaya memenuhi semuanya.

Fiona terbangun di tempat lain dalam mimpinya.

Ia berdiri sendirian.

Tidak ada Darrien.

Tidak ada darah.

Hanya sebuah ruangan yang dipenuhi kristal.

Fiona menatap sekeliling.

“Di mana ini?”

Salah satu kristal di depannya berdenyut.

Sekali.

Kemudian—

cahaya itu padam.

Fiona mendekatinya.

Namun begitu tangannya hampir menyentuh permukaan kristal—

mimpi itu kembali berubah.

***

Fiona bergerak gelisah dalam tidurnya.

Tangannya mencengkeram selimut.

Namun ia tidak terbangun.

Kalungnya kembali bercahaya.

Silver Leaf Bracelet juga ikut berpendar.

Kali ini sedikit lebih lama.

Kemudian—

keduanya kembali redup.

***

Jauh dari kamar Fiona—

di bagian terdalam Istana Lunaris—

sebuah cahaya samar terlihat.

Crystal Hall.

Ruangan besar itu hampir sepenuhnya gelap.

Kristal-kristal raksasa yang biasanya memancarkan cahaya hanya menyisakan sedikit energi di malam hari.

Sylvester sedang berdiri di sana.

Ia sedang memeriksa sesuatu ketika—

sebuah cahaya kecil muncul.

Sylvester berhenti.

“…Apa?”

Ia menoleh.

Salah satu kristal utama baru saja berpendar.

Sangat samar.

Hanya beberapa detik.

Kemudian—

mati kembali.

Sylvester mendekatinya.

Ia menyentuh permukaan kristal.

Tidak ada respons.

Ia mencoba mengalirkan sedikit mana.

Tidak ada apa-apa.

Sylvester mengerutkan kening.

“Aneh.”

Suara langkah kaki terdengar dari belakang.

Elyon masuk ke dalam ruangan.

“Ada apa?”

Sylvester menoleh.

“Kristalnya bereaksi.”

Elyon berhenti.

“Lagi?”

Sylvester mengangguk.

“Baru saja.”

Elyon berjalan mendekat.

Ia memandang kristal tersebut.

“Seberapa kuat?”

“Lemah.”

“Berapa lama?”

“Beberapa detik.”

Elyon terdiam.

Kemudian menyentuh permukaan kristal.

Tidak ada reaksi.

Ia menunggu.

Tidak terjadi apa-apa.

Elyon menarik tangannya.

“…Menarik.”

Sylvester menatapnya.

“Kau masih memikirkan Fiona?”

Elyon menghela napas.

“Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya?”

Sylvester tersenyum tipis.

“Karena dia hanya seorang tamu.”

“Justru itu masalahnya.”

Elyon menatap kristal.

“Kristal ini tidak bereaksi seperti ini kepada setiap tamu.”

Sylvester mengangguk.

“Benar.”

Mereka terdiam.

Beberapa saat berlalu.

Tidak ada reaksi.

Elyon mulai terlihat sedikit kesal.

“…”

Sylvester memperhatikannya.

“Kenapa?”

“Tidak ada.”

Elyon menatap kristal.

Kemudian menunggu.

Masih tidak ada apa-apa.

Ia berjalan ke sisi lain.

Menunggu lagi.

Tetap tidak ada reaksi.

Elyon menghela napas.

“Kenapa kau hanya bereaksi ketika aku tidak sedang melihat?”

Sylvester menahan senyum.

“Berbicara dengan kristal?”

“Tidak.”

Elyon menjawab cepat.

“Aku sedang berbicara tentang perilakunya.”

“Sepertinya kristalnya tidak peduli.”

Elyon menatapnya.

“Terima kasih atas pengamatan yang sangat membantu.”

Sylvester tertawa kecil.

Elyon kembali menatap kristal.

“Pertama kali…”

Ia mengingat reaksi kristal ketika Fiona datang.

“Kemudian lagi.”

Ia menyipitkan mata.

“Dan sekarang.”

Sylvester bertanya,

“Menurutmu apa penyebabnya?”

Elyon diam.

“Aku belum tahu.”

“Energi Fiona?”

“Mungkin.”

“Cahaya kekuatannya?”

“Mungkin.”

“Kristal itu sendiri?”

“Tidak tahu.”

Sylvester mengangkat alis.

“Jadi kau tidak tahu apa-apa.”

Elyon menoleh.

“Aku tahu ada sesuatu.”

Sylvester tersenyum.

“Bedanya?”

Elyon menghela napas.

“Cukup besar.”

Ia kembali memandang kristal.

“Masalahnya…”

Elyon menyentuh dagunya.

“…reaksinya tidak konsisten.”

Sylvester mengangguk.

“Dan itu mengganggumu.”

“Ya.”

“Kenapa?”

Elyon terdiam.

Kemudian menjawab dengan jujur,

“Karena aku tidak suka sesuatu yang tidak bisa kupahami.”

Sylvester tertawa kecil.

“Itu memang masalahmu.”

Elyon menatapnya datar.

“Dan sekarang kau mulai menggangguku.”

Sylvester tersenyum.

“Aku hanya mengatakan kenyataan.”

***

Di tempat lain—

Fiona masih tertidur.

Ia sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.

Tidak mengetahui bahwa kalungnya dan Silver Leaf Bracelet kembali bereaksi.

Tidak mengetahui bahwa Crystal Hall kembali menerima gelombang energi samar.

Dan terlebih lagi—

tidak mengetahui bahwa dua orang di dalam istana sedang mencoba memahami sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tidak mengerti.

Fiona hanya tidur.

Membawa sebuah mimpi yang perlahan menjadi semakin aneh.

Sementara jauh di dalam Crystal Hall—

Elyon masih menatap kristal yang kembali diam.

Ia menghela napas panjang.

“Baiklah.”

Ia menyilangkan tangan.

“Kalau kau tidak mau memberiku jawaban…”

Ia menatap kristal itu dengan tatapan kesal.

“…aku akan mencari tahu sendiri.”

Sylvester tertawa kecil.

“Selamat mencoba.”

Elyon tidak menjawab.

Matanya tetap tertuju pada kristal.

Malam kembali sunyi.

Namun sesuatu di dalam Lunaris—

telah mulai bergerak.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience