Series
382
BAB 235
Hari kelima latihan akhirnya berakhir lebih cepat dari yang mereka duga.
Tidak ada lagi suara ledakan.
Tidak ada lagi barrier yang bergetar.
Tidak ada lagi teriakan Darrien dari tengah battlefield.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari—
suasana di sekitar mereka terasa tenang.
Darrien dan Fiona berjalan berdampingan meninggalkan area latihan.
Elarion berjalan beberapa langkah di belakang mereka.
Namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.
Sejak cahaya Fiona muncul pagi tadi—
ada terlalu banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya.
Gelang itu.
Energi yang tertinggal di battlefield.
Hubungan dengan mimpi Fiona.
Dan reaksi Kevin.
Semuanya terasa seperti potongan puzzle yang belum lengkap.
Elarion akhirnya berhenti berjalan.
Darrien menoleh.
“Kenapa?”
Elarion mengangkat satu tangan.
“Kalian duluan.”
Fiona berkedip.
“Mau ke mana?”
“Sedikit mencari informasi.”
Darrien mengangkat alis.
“Sekarang?”
“Ya.”
Fiona menatapnya.
“Kau tidak mau istirahat?”
Elarion tersenyum.
“Kalau aku istirahat sekarang, rasa penasaranku tidak akan membiarkanku tidur.”
Darrien menghela napas.
“Sudah kuduga.”
Elarion tertawa kecil.
“Aku akan menyusul.”
Ia kemudian berbalik menuju arah lain.
Fiona menatap punggungnya.
“Dia benar-benar penasaran.”
Darrien mengangguk.
“Kalau Elarion sudah mulai mencari sesuatu…”
Ia berhenti sebentar.
“…biasanya dia akan lupa waktu.”
Fiona tertawa.
“Kasihan dia.”
“Justru dia yang kasihan pada dirinya sendiri.”
Fiona kembali tertawa.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan.
***
Beberapa saat kemudian—
mereka menemukan sebuah area taman kecil di dekat bagian belakang istana.
Tidak terlalu ramai.
Hanya ada beberapa bangku batu, pepohonan, dan bunga-bunga yang mulai bermekaran.
Fiona berhenti.
“Di sini saja?”
Darrien mengangguk.
“Kenapa tidak?”
Mereka duduk.
Untuk beberapa saat—
tidak ada yang berbicara.
Angin bergerak perlahan melewati taman.
Fiona menyandarkan tubuhnya sedikit ke belakang.
“Tenang sekali.”
Darrien mengangguk.
“Setelah beberapa hari berada di battlefield…”
Ia menghela napas.
“…aku baru sadar betapa menyenangkannya tempat seperti ini.”
Fiona tersenyum.
“Kevin membuatmu trauma.”
Darrien menoleh.
“Bukan trauma.”
“Pengalaman?”
Darrien langsung menatapnya.
“Kau dengar percakapanku dengan Ace dan Rowan?”
Fiona tertawa.
“Sedikit.”
Darrien menggeleng.
“Sekarang kau ikut-ikutan.”
Fiona tersenyum puas.
“Karena memang benar.”
Darrien tertawa kecil.
Kemudian keduanya kembali diam.
Fiona memandang bunga di depan mereka.
“Darrien.”
“Hm?”
“Menurutmu…”
Ia berhenti.
“Kevin benar-benar marah karena liburannya dibatalkan?”
Darrien menatapnya beberapa detik.
Kemudian—
“Ya.”
Fiona langsung tertawa.
“Serius?”
“Serius.”
“Sebesar itu?”
Darrien mengangguk.
“Sepertinya liburan Kevin sangat penting.”
Fiona menutup mulutnya.
“Tapi…”
Ia mencoba menahan tawa.
“…dia sudah membalasnya selama berhari-hari.”
Darrien menghela napas.
“Dan sepertinya belum selesai.”
Fiona tertawa lagi.
“Kasihan kau.”
Darrien menoleh.
“Kenapa kau tidak kasihan padaku sejak awal?”
Fiona berpikir.
“Karena waktu itu aku masih tidur.”
Darrien terdiam.
Kemudian tertawa.
“Benar juga.”
Fiona ikut tertawa.
***
Beberapa saat kemudian—
suasana kembali tenang.
Fiona memandang langit.
Kemudian tanpa sadar menyentuh gelang di pergelangan tangannya.
Darrien melihat gerakan itu.
“Kau masih memikirkannya?”
Fiona mengangguk.
“Sedikit.”
“Cahaya tadi?”
“Ya.”
Fiona memutar gelang itu perlahan.
“Aku masih tidak mengerti.”
Darrien menatap gelang tersebut.
“Apakah terasa berbeda?”
Fiona berpikir.
“Tidak.”
“Seperti biasa?”
“Ya.”
Ia menyentuh simbol daun perak itu.
“Padahal tadi…”
Fiona terdiam.
“Tadi rasanya seperti gelang ini mengenali sesuatu.”
Darrien mengerutkan kening.
“Apa?”
“Aku tidak tahu.”
Fiona menggeleng.
“Itulah masalahnya.”
Ia menghela napas.
“Semakin banyak aku menemukan sesuatu…”
“…semakin banyak pertanyaan yang muncul.”
Darrien tersenyum kecil.
“Setidaknya kau tidak sendirian.”
Fiona menoleh.
Darrien menatapnya.
“Kita bisa mencari jawabannya bersama.”
Fiona tersenyum.
“Bersama?”
“Ya.”
“Termasuk kalau aku harus kembali ke tempat dalam mimpiku?”
Darrien mengangguk.
“Termasuk itu.”
Fiona menatapnya beberapa detik.
Kemudian tersenyum.
“Baiklah.”
Ia kembali melihat ke depan.
“Kalau begitu…”
“Aku tidak terlalu takut.”
Darrien mengangguk.
“Bagus.”
Fiona kemudian menoleh lagi.
“Tapi ada satu hal.”
“Apa?”
“Kalau besok Kevin membuatku hampir mati…”
Darrien mengangkat alis.
“Ya?”
“Jangan tertawa.”
Darrien tertawa.
“Aku akan berusaha.”
Fiona langsung memukul lengannya pelan.
“Darrien!”
“Hahaha, baik.”
Ia mengangkat kedua tangan.
“Aku tidak akan tertawa.”
Fiona mengembungkan pipinya.
“Bagus.”
Darrien tersenyum.
Kemudian ia menatap wajah Fiona lebih lama.
Ada sedikit keheningan.
Fiona menyadarinya.
“Apa?”
“Tidak ada.”
“Kau melihatku.”
“Ya.”
“Kenapa?”
Darrien tersenyum kecil.
“Karena kau terlihat lebih tenang sekarang.”
Fiona terdiam.
Kemudian wajahnya sedikit memerah.
“Aku…”
Ia memalingkan wajah.
“…memang sudah tenang.”
Darrien tertawa pelan.
“Baik.”
“Jangan tertawa.”
“Aku tidak tertawa.”
“Kau tersenyum.”
“Itu berbeda.”
Fiona menatapnya lagi.
Kemudian akhirnya ikut tersenyum.
***
Sementara itu—
di sisi lain istana—
Elarion sudah berada di sebuah ruangan yang dipenuhi buku.
Ia menarik satu buku.
Membukanya.
Membaca beberapa halaman.
Kemudian mengerutkan kening.
“Tidak.”
Ia mengembalikannya.
Mengambil buku lain.
“Bukan.”
Buku ketiga.
“Juga bukan.”
Elarion menghela napas.
“Cahaya yang meninggalkan jejak…”
Ia membuka beberapa halaman sekaligus.
“Bukan sihir Light biasa.”
Ia berhenti.
Kemudian matanya tertuju pada sebuah catatan lama.
Sebuah simbol.
Daun kecil.
Mirip dengan simbol pada gelang Fiona.
Elarion mendekat.
“…”
Ia menyentuh halaman itu.
Namun sebelum sempat membaca lebih jauh—
ia berhenti.
Tatapannya berubah serius.
“Jangan-jangan…”
Ia segera membuka halaman berikutnya.
Kosong.
Halaman setelahnya.
Kosong.
Catatan itu terputus.
Elarion mengerutkan kening.
“Siapa yang menghapus bagian ini?”
Ia menutup buku perlahan.
Rasa penasarannya justru semakin besar.
Namun kali ini—
ia tidak langsung kembali kepada Fiona.
Ada sesuatu yang harus ia pastikan terlebih dahulu.
***
Kembali di taman—
Fiona masih duduk bersama Darrien.
Ia bersandar sedikit ke belakang.
Matanya mulai terlihat mengantuk.
Darrien memperhatikannya.
“Lelah?”
“Sedikit.”
“Kau baru bangun kemarin.”
Fiona tertawa kecil.
“Dan hari ini aku masuk battlefield.”
“Benar.”
“Jadi…”
Ia menguap kecil.
“…aku berhak lelah.”
Darrien tersenyum.
“Ya.”
Fiona menutup mulut setelah menguap.
Kemudian tanpa sadar—
kepalanya perlahan bersandar ke bahu Darrien.
Darrien membeku sebentar.
Ia menoleh.
Fiona sudah memejamkan mata.
Namun belum benar-benar tidur.
“Darrien…”
“Hm?”
“Kalau besok aku melakukan sesuatu yang aneh…”
Darrien menatapnya.
“…jangan takut.”
Fiona membuka mata sedikit.
“Aku juga tidak tahu kenapa aku bilang itu.”
Darrien tersenyum lembut.
“Aku tidak akan takut.”
“Kenapa?”
“Karena aku ada di sampingmu.”
Fiona tersenyum kecil.
“…”
Kemudian ia kembali menutup matanya.
Untuk beberapa saat—
mereka hanya duduk di sana.
Tidak ada battlefield.
Tidak ada Kevin.
Tidak ada latihan.
Tidak ada misteri.
Hanya dua orang yang akhirnya mendapatkan sedikit waktu untuk bernapas.
Namun jauh di dalam istana—
Elarion masih membolak-balik halaman tua.
Dan pada halaman yang hampir pudar itu—
simbol daun perak yang sama kembali terlihat.
Di bawahnya hanya tersisa satu kalimat.
**“Cahaya yang kembali tidak selalu berasal dari cahaya.”**
Elarion membaca kalimat itu sekali lagi.
Kemudian perlahan mengangkat kepalanya.
“…”
“Ini…”
Ia menatap halaman tersebut.
“Semakin menarik.”
Share this novel