105. Yang Masih Teringat

Romance Series 382

BAB 105
YANG MASIH TERINGAT

Di kediaman keluarga Varian—

malam terasa jauh lebih sunyi dibandingkan biasanya.

Clark berdiri di dekat jendela.

Tatapannya mengarah ke halaman yang gelap.

Pikirannya kembali pada beberapa hari sebelum pernikahan yang akhirnya tidak pernah terjadi.

Ia masih mengingat percakapan mereka.

Fiona yang terlihat canggung.

Senyumnya yang sopan.

Cara gadis itu berusaha menjawab setiap pertanyaannya meskipun jelas tidak nyaman dengan situasi yang diberikan kepadanya.

Mereka tidak pernah benar-benar menjadi dekat.

Namun Clark tetap mengingatnya.

Terutama setelah kejadian di lembah.

Ia masih tidak tahu bagaimana keadaan Fiona sekarang.

Apakah dia terluka?

Apakah dia ketakutan?

Apakah dia sudah menemukan tempat yang aman?

Clark menghela napas.

“Semoga kau baik-baik saja…”

Pintu di belakangnya terbuka.

Clark tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang.

“Ayah.”

Keith Varian masuk dengan ekspresi dingin.

“Kau masih memikirkannya?”

Clark terdiam.

Keith berdiri beberapa langkah di belakangnya.

“Pernikahan itu sudah dibatalkan.”

“Aku tahu.”

“Dan karena itu, kerja sama kita dengan pihak manusia juga terancam.”

Clark menoleh.

“Aku tahu.”

Keith menatap putranya tajam.

“Tidak. Sepertinya kau tidak mengerti.”

Ia berjalan mendekat.

“Keluarga manusia yang bekerja sama dengan kita sudah menyiapkan jalur perdagangan baru. Kesepakatan itu dibangun berdasarkan hubungan antara kedua keluarga.”

Clark mengerutkan kening.

“Jadi sekarang kita kehilangan kerja sama itu hanya karena pernikahan?”

“Bukan hanya itu.”

Keith menghela napas.

“Aliansi pernikahan membuat kedua pihak merasa aman.”

Clark terdiam.

Keith melanjutkan,

“Kita membutuhkan hubungan tersebut.”

Clark menatap ayahnya.

“Kalau begitu cari keluarga lain.”

Keith langsung mengerutkan kening.

“Apa?”

“Kalau kerja sama itu begitu penting, cari keluarga manusia lain.”

Clark berdiri tegak.

“Atau klan Elf.”

Keith menatapnya dengan tidak percaya.

“Kau serius?”

“Ya.”

Clark menjawab tenang.

“Lebih baik kita membangun kerja sama dengan pihak yang memang bersedia bekerja sama daripada memaksa seseorang menikah demi mempertahankan bisnis.”

Keith mengepalkan tangannya.

“Kau tahu berapa banyak yang sudah kita keluarkan untuk rencana ini?”

“Aku tahu.”

“Dan kau tetap mengatakan ini?”

Clark mengangguk.

“Ya.”

Keith terdiam lama.

Clark kemudian menambahkan,

“Fiona tidak pernah menginginkan pernikahan itu.”

Keith menatapnya.

“Dan kau?”

Clark mengalihkan pandangan.

“Aku juga tidak pernah benar-benar mengenalnya.”

Ia terdiam sebentar.

“Tapi setelah bertemu dengannya…”

Senyum kecil muncul di wajahnya.

“…aku tahu dia bukan orang yang seharusnya dipaksa.”

Keith tidak menjawab.

Clark kembali menatap jendela.

“Aku hanya berharap dia selamat setelah kejadian di lembah.”

Keith menghela napas.

“Perasaanmu itu tidak akan mengembalikan kerja sama kita.”

“Aku tidak meminta itu.”

Clark menoleh.

“Aku hanya ingin dia baik-baik saja.”

Ruangan kembali sunyi.

Akhirnya Keith berbalik.

“Besok kita membahas pilihan klan lain.”

Clark mengangguk.

“Baik.”

Keith berhenti di depan pintu.

“Dan Clark…”

“Ya?”

“Jangan biarkan perasaan membuatmu lupa pada tanggung jawabmu.”

Clark tersenyum tipis.

“Aku tidak akan.”

Pintu tertutup.

Clark kembali menatap malam.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa rasa kehilangan seseorang tidak selalu berarti ingin memilikinya kembali.

Kadang—

hanya ingin tahu bahwa orang itu masih baik-baik saja.

***

Di tempat lain—

Lola duduk sendirian di dekat jendela.

Ia sudah mendengar kabar tentang pernikahan Fiona yang batal.

Awalnya ia tidak tahu harus merasa apa.

Namun setelah mengetahui bahwa Fiona berhasil pergi dari situasi tersebut—

Lola justru menghela napas lega.

“Syukurlah…”

Ia menatap langit malam.

Selama ini, Lola tidak pernah benar-benar menganggap Fiona sebagai saingan.

Bagaimana mungkin?

Fiona bukan seseorang yang mencoba merebut sesuatu darinya.

Fiona bahkan tidak pernah memilih untuk berada dalam situasi itu.

Lola justru merasa berutang kepadanya.

Karena tanpa Fiona—

mungkin banyak hal akan berjalan berbeda.

Ia tersenyum kecil.

“Terima kasih, Fiona.”

Lola memeluk lututnya.

Ia teringat percakapan-percakapan kecil mereka.

Tawa Fiona.

Cara gadis itu selalu mencoba melihat sisi baik dari sesuatu.

Lola menundukkan kepala.

“Aku ingin tahu bagaimana keadaanmu sekarang.”

Ia tidak tahu apakah Fiona sudah aman.

Tidak tahu apakah Fiona terluka.

Tidak tahu apakah ia sedang menangis atau justru tertawa.

Namun satu hal yang Lola tahu—

ia tidak membencinya.

Tidak pernah.

Kalau suatu hari mereka bertemu lagi…

Lola ingin mengatakan sesuatu.

Bukan sebagai pesaing.

Bukan sebagai calon pengantin yang kalah.

Melainkan sebagai seseorang yang benar-benar ingin berterima kasih.

“Jaga dirimu, Fiona.”

Di dua tempat berbeda—

dua orang memikirkan gadis yang sama.

Clark—

karena ia berharap Fiona baik-baik saja.

Dan Lola—

karena ia bersyukur Fiona berhasil melarikan diri dari pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience