Completed
594
BAB 399 — PERTEMUAN PERTAMA DENGAN RAJA VAMPIRE
Keesokan paginya—
pagi di Kerajaan Veyth dimulai seperti biasanya.
Namun hari itu—
Darrien dan Kevin tidak memiliki niat untuk saling membunuh.
Maksudnya—
berlatih.
Setidaknya untuk pagi ini.
***
Di ruang kerja kerajaan—
Edward sedang memeriksa beberapa laporan.
Beberapa dokumen tersusun rapi di atas mejanya.
Semuanya terlihat tenang.
Sampai—
udara di dalam ruangan tiba-tiba berubah.
Edward mengangkat kepalanya.
Tidak ada suara pintu terbuka.
Tidak ada langkah kaki.
Tidak ada lingkaran teleportasi yang muncul.
Namun—
seseorang tiba-tiba telah berdiri di tengah ruang kerjanya.
Seorang pria dengan pakaian gelap berdiri beberapa langkah di hadapan Edward.
Edward langsung berdiri.
Tangannya bergerak perlahan menuju senjata di dekat meja.
Tatapan pria itu tetap tenang.
Tidak ada tanda-tanda permusuhan.
Namun cara ia muncul tanpa terdeteksi—
membuat Edward tidak bisa menganggapnya biasa.
Pria itu menatap Edward.
Kemudian berkata dengan suara dingin,
“Rajaku telah menunggu jawaban kalian.”
Edward mengerutkan kening.
Untuk beberapa detik ia hanya menatap pria tersebut.
Kemudian—
ia mengenalinya.
“Mufasa.”
Mufasa menundukkan kepala.
“Benar, Yang Mulia.”
Edward masih memperhatikannya.
“Kau datang sendirian?”
“Ya.”
“Dan bagaimana kau bisa masuk ke sini?”
Mufasa tidak langsung menjawab.
Ia hanya berkata,
“Aku datang untuk mengambil jawaban.”
Edward terdiam.
Tidak ada lingkaran teleportasi.
Tidak ada tanda sihir yang biasa digunakan Veyth.
Bahkan Edward tidak dapat mengetahui bagaimana Mufasa berhasil muncul tepat di tengah ruang kerjanya.
Di sisi lain ruangan—
Gloria berdiri diam.
Tangannya mencengkeram gaunnya dengan erat.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Namun matanya terus mengawasi Mufasa.
Edward kemudian menarik napas.
“Baik.”
Ia mengangkat tangannya.
“Pengawal.”
Seorang penjaga segera masuk.
“Panggil Darrien.”
“Dan seluruh kelompoknya.”
“Bawa mereka kemari.”
“Baik, Yang Mulia.”
Penjaga itu segera pergi.
Mufasa tetap berdiri di tempatnya.
Tenang.
Diam.
Seolah tidak merasa bahwa ia baru saja muncul tanpa izin di ruang pribadi Raja Veyth.
***
Tidak lama kemudian—
pintu ruang kerja kembali terbuka.
Darrien masuk bersama Fiona.
Ace.
Rowan.
Kevin.
Elyon.
Dan Elarion.
Darrien langsung melihat Mufasa.
Tatapannya berubah.
“Kau.”
Mufasa menatapnya.
“Pangeran Darrien.”
Darrien tidak menjawab.
Kevin memandangnya dan masih mengingat pertempuran mereka.
Terutama kecepatannya.
Cara Mufasa bertarung.
Dan bagaimana vampire itu berhasil bertahan hingga akhirnya kembali ke Shadowcresent.
Edward kemudian menjelaskan keadaan.
“Mufasa datang untuk mengambil jawaban kita.”
Fiona mengangguk perlahan.
“Jadi mereka benar-benar datang.”
“Benar,” jawab Edward.
Rowan menatap Mufasa.
“Dan kau mengetahui jalan menuju Shadowcresent?”
“Ya.”
Ace langsung mengangkat alis.
“Bagus.”
“Karena kami bahkan tidak mengetahui di mana wilayah kalian berada.”
Mufasa tidak memberikan reaksi.
Edward kemudian berkata,
“Aku akan pergi.”
Gloria langsung menoleh.
“Edward.”
“Aku harus pergi.”
Gloria menggeleng.
“Aku ikut.”
Edward menatapnya.
“Gloria, seseorang harus tetap berada di Veyth.”
“Aku bisa meminta para penjaga untuk mengurus istana.”
“Tidak.”
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian.”
Edward menghela napas.
“Ini bukan perjalanan biasa.”
“Aku tahu.”
Gloria menatap suaminya.
“Justru karena itu aku harus ikut.”
Hening.
Darrien dan yang lainnya memilih diam.
Edward akhirnya mengusap keningnya.
“Kau keras kepala.”
Gloria menjawab tanpa ragu,
“Dan kau tahu itu.”
Ace menahan senyum.
Rowan menatapnya.
“Jangan tertawa.”
“Aku tidak tertawa.”
“Kau hampir tertawa.”
“Tidak.”
Edward akhirnya menghela napas panjang.
“Baiklah.”
Gloria sedikit tersenyum.
“Aku ikut.”
Edward mengangguk.
“Kalau begitu kita pergi bersama.”
***
Mufasa akhirnya melangkah ke tengah ruangan.
Ia mengangkat satu tangannya.
Darrien langsung memperhatikan.
Tidak ada lingkaran teleportasi.
Tidak ada simbol sihir yang pernah mereka lihat.
Tidak ada cahaya.
Hanya—
bayangan tipis yang perlahan menyebar di bawah kaki mereka.
Darrien mencoba merasakan magicure tersebut.
Namun—
sensasinya asing.
Sangat asing.
Bahkan sulit untuk menentukan bagaimana sihir itu bekerja.
Kevin juga memperhatikannya.
Tatapannya menjadi serius.
Mufasa kemudian berkata,
“Kita berangkat.”
Dalam sekejap—
bayangan menelan seluruh ruangan.
***
SHADOWCRESENT.
**FWOOSH!**
Mereka muncul di tengah aula utama sebuah istana besar.
Tidak ada yang terluka.
Semua tiba dengan selamat.
Namun—
tidak seorang pun langsung bergerak.
Udara di tempat itu berbeda.
Jauh berbeda dari Veyth.
Bahkan berbeda dari Lunaris.
Aura Shadowcresent terasa lebih dingin.
Lebih tua.
Dan anehnya—
mereka tidak dapat menentukan dari mana tekanan magicure itu berasal.
Darrien mencoba merasakannya.
Tidak berhasil.
Kevin juga melakukan hal yang sama.
Hasilnya tidak berbeda.
Ace menatap sekeliling.
Rowan tidak mengatakan apa-apa.
Elyon mengamati aula.
Elarion memperhatikan kristal-kristal gelap yang menghiasi dinding.
Fiona hanya berdiri di samping Darrien.
Mereka semua merasakan hal yang sama.
Tempat ini—
berbeda.
Dan perbedaan itu tidak terasa aman.
***
Kemudian—
sebuah suara terdengar.
**Tap.**
Semua kepala langsung menoleh.
**Tap.**
Suara langkah kaki terdengar dari sebuah lorong yang berada di ujung aula.
Tidak cepat.
Tidak berat.
Namun cukup jelas untuk terdengar di tengah keheningan.
**Tap.**
Langkah berikutnya semakin dekat.
Semua orang menunggu.
Darrien memperhatikan lorong tersebut.
Fiona berdiri sedikit lebih tegak.
Kevin menyipitkan mata.
Ace dan Rowan saling bertukar pandangan.
Bahkan Edward tidak mengatakan apa-apa.
Kemudian—
seseorang muncul dari balik lorong.
Hal pertama yang terlihat adalah rambutnya.
Panjang.
Silver-gray.
Rambut tersebut jatuh melewati bahunya dan bergerak perlahan mengikuti setiap langkahnya.
Ia berjalan dengan tenang.
Tidak terburu-buru.
Tidak menunjukkan sedikit pun kecemasan karena kedatangan mereka.
Pakaian hitam bangsawan membalut tubuhnya dengan sempurna.
Setiap langkahnya membawa kesan seseorang yang telah terbiasa memegang kendali atas tempat ini.
Ia terus berjalan.
Menuju singgasana.
Semua mata mengikuti gerakannya.
Kemudian—
ia berhenti tepat di hadapan singgasana.
Beberapa detik berlalu.
Ia berbalik.
Dan untuk pertama kalinya—
mereka melihat wajahnya dengan jelas.
Pria itu memiliki wajah yang hampir sempurna.
Kulit pucat.
Rahang tegas.
Wajah tampan dengan garis-garis elegan yang menunjukkan darah bangsawan kuno.
Namun yang paling menarik perhatian—
adalah matanya.
Crimson.
Dingin.
Dalam.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada kebencian.
Tidak ada keramahan.
Tidak ada satu pun emosi yang mudah mereka baca.
Tatapannya hanya menyapu seluruh kelompok.
Satu per satu.
Seolah-olah ia sedang mengingat setiap wajah yang berdiri di hadapannya.
Kemudian—
ia duduk perlahan di singgasananya.
Tidak ada gerakan berlebihan.
Tidak ada aura yang sengaja dilepaskan.
Namun justru itulah yang membuat mereka semakin waspada.
Karena—
mereka tidak dapat merasakan kekuatannya.
Sama sekali.
Darrien mencoba menggunakan sensing.
Tidak ada hasil.
Magicure pria itu seolah menyatu dengan seluruh istana.
Atau mungkin—
ia terlalu dalam untuk disentuh oleh sensing mereka.
Kevin juga mencoba.
Tatapannya perlahan berubah serius.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Fiona memperhatikan perubahan ekspresi Kevin.
Edward juga menyadarinya.
Tak seorang pun berbicara.
Mereka hanya merasakan satu hal.
Kekuatan yang berada di hadapan mereka—
tidak dapat mereka ukur.
Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki Shadowcresent—
mereka benar-benar tidak tahu apa yang sedang mereka hadapi.
Mufasa kemudian melangkah maju.
Ia menundukkan kepala.
“Yang Mulia.”
Raizen tidak menjawab.
Mufasa melanjutkan,
“Aku telah membawa mereka seperti yang Anda perintahkan.”
Hening.
Raizen tetap duduk di singgasananya.
Tatapan crimson-nya masih tertuju kepada mereka.
Tidak ada senyum.
Tidak ada kata-kata.
Tidak ada sambutan.
Hanya—
tatapan seorang Raja Vampire yang akhirnya melihat langsung orang-orang yang telah mengubah kehidupannya.
Dan seluruh aula Shadowcresent—
terdiam.
Share this novel