91. Yang Tak Ingin Ku Katakan

Romance Series 94

BAB 91
YANG TAK INGIN KUKATAKAN

Taman itu masih sunyi.

Fiona tetap bersandar di bahu Darrien.

Namun Darrien tidak lagi memperhatikan bunga atau suara angin.

Pikirannya kembali pada lembah.

Darah.

Tubuh Fiona yang terkulai.

Dan denyut yang hampir tidak bisa ia rasakan.

Tangannya perlahan mengepal.

Fiona menyadarinya.

“Darrien?”

“Hm?”

“Kau memikirkannya lagi.”

Darrien diam.

“Lembah itu?”

Ia mengangguk.

Fiona mengangkat kepalanya dari bahunya.

“Jangan.”

“Aku tidak bisa.”

Fiona menatapnya.

Darrien menunduk.

“Aku pikir aku sudah cukup kuat.”

Suaranya rendah.

“Aku berlatih. Aku belajar mengendalikan sihir. Aku bahkan datang untuk membawamu pulang.”

Ia berhenti.

“Tapi ketika aku melihatmu jatuh…”

Tangannya mulai gemetar.

“…aku kembali merasa tidak berdaya.”

Fiona menggenggam tangannya.

“Kau menyelamatkanku.”

“Hampir terlambat.”

“Tapi kau datang.”

“Bagaimana kalau aku terlambat?”

Fiona terdiam.

Darrien menatapnya.

“Bagaimana kalau waktu itu denyutmu benar-benar berhenti?”

Fiona melihat ketakutan di matanya.

Bukan kemarahan.

Bukan kekuatan.

Ketakutan.

Ketakutan seorang anak laki-laki yang sudah tiga kali merasa akan kehilangan orang yang sama.

“Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan.”

Darrien menarik napas.

“Mungkin aku akan menghancurkan semuanya.”

Fiona mengusap tangannya.

“Tapi kau berhenti.”

“Karena aku merasakanmu.”

Darrien menatapnya.

“Dan saat itu aku sadar…”

Ia berhenti cukup lama.

“…aku tidak ingin menjadi orang yang hanya bisa menghancurkan dunia karena kehilanganmu.”

Fiona menatapnya lembut.

“Lalu apa yang kau inginkan?”

Pertanyaan itu membuat Darrien terdiam.

Untuk pertama kalinya—

ia tidak bersembunyi di balik kekuatan.

Tidak bersembunyi di balik latihan.

Tidak bersembunyi di balik alasan untuk melindungi Fiona.

Ia berkata,

“Aku ingin kau tetap bersamaku.”

Fiona tersenyum kecil.

“Aku sudah di sini.”

“Bukan hanya sekarang.”

Darrien menggenggam tangannya.

“Untuk nanti.”

Fiona menatapnya.

“Darrien…”

“Aku tidak tahu kapan perasaan ini berubah.”

Ia tertawa kecil, gugup.

“Mungkin sejak kita mulai bersama.”

Ia menatap mata Fiona.

“Atau mungkin sejak pertama kali aku sadar bahwa ketika kau terluka, seluruh dunia terasa salah.”

Fiona tidak mengatakan apa-apa.

Darrien melanjutkan.

“Aku takut mengatakannya.”

“Kenapa?”

“Karena setelah kehilanganmu sekali…”

Ia menarik napas.

“…aku takut kalau aku menginginkanmu terlalu banyak, aku akan kehilanganmu lagi.”

Fiona perlahan mendekat.

“Kau bodoh.”

Darrien tersenyum kecil.

“Aku tahu.”

Fiona menggenggam kedua tangannya.

“Kalau begitu dengarkan aku.”

Darrien menatapnya.

“Aku tidak ingin kembali ke Ardika.”

“Aku tahu.”

“Aku tidak ingin menikah dengan Clark.”

Darrien mengangguk.

“Aku tahu.”

“Aku juga tidak ingin hidup sebagai pengganti siapa pun.”

Fiona tersenyum.

“Aku ingin memilih sendiri.”

Darrien menahan napas.

“Dan apa yang kau pilih?”

Fiona menatapnya tepat di mata.

“Kau.”

Darrien membeku.

Fiona tertawa kecil melihat reaksinya.

“Kenapa diam?”

“Aku…”

Untuk pertama kalinya, Darrien kehilangan kata-kata.

Fiona mendekat sedikit.

“Aku juga sudah tahu apa yang kuinginkan.”

Darrien menatapnya.

“Dan?”

Fiona tersenyum.

“Aku ingin tetap bersamamu.”

Darrien menundukkan kepala.

Senyumnya muncul perlahan.

Bukan senyum kemenangan.

Bukan senyum lega.

Hanya senyum seorang anak laki-laki yang akhirnya mendapat jawaban yang selama ini diam-diam ia tunggu.

Ia mengangkat tangan Fiona dan menggenggamnya.

“Kalau begitu…”

Ia menarik napas.

“…jangan pergi lagi.”

Fiona tersenyum.

“Kalau kau tidak melepaskanku.”

Darrien menggeleng.

“Aku tidak akan.”

Mereka saling menatap.

Tidak ada janji besar.

Tidak ada kata-kata berlebihan.

Hanya dua orang yang akhirnya berhenti menyangkal apa yang sebenarnya mereka inginkan.

Darrien mendekat perlahan.

Ia berhenti sesaat, memberi Fiona kesempatan untuk mundur.

Fiona tidak bergerak.

Ia justru tersenyum.

Darrien menyentuhkan dahinya pada dahi Fiona.

“Terima kasih.”

Fiona memejamkan mata.

“Untuk apa?”

“Karena memilihku.”

Fiona tersenyum.

“Aku memang ingin memilihmu.”

Di balik jendela arsip—

Ace melihat mereka.

Ia terdiam.

Kemudian perlahan menutup tirai.

Kevin menoleh.

“Apa?”

Ace tersenyum.

“Tidak ada.”

Elarion mengangkat alis.

“Kau terlihat terlalu senang.”

Ace duduk kembali.

“Biarkan mereka.”

Rowan tersenyum kecil.

“Setidaknya satu hal akhirnya jelas.”

Kevin menghela napas.

“Jangan mulai.”

Namun di taman—

Darrien masih memegang tangan Fiona.

Dan untuk pertama kalinya sejak perjalanan panjang itu dimulai…

ia tidak memikirkan bagaimana cara menyelamatkannya.

Ia hanya menikmati kenyataan bahwa Fiona masih berada di sisinya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience