Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 150
CAHAYA DAN BAYANGAN
Setelah sarapan selesai—
Fiona meninggalkan ruang makan.
Darrien masih berada di halaman bersama Elarion.
Keduanya sedang membicarakan latihan berikutnya.
Fiona berjalan menuju taman kecil di belakang kediaman Rowan.
Tempat itu cukup jauh dari mereka.
Ia berhenti di tengah taman.
Kemudian melihat kedua tangannya.
Sejak kejadian di hutan—
pikirannya terus kembali pada malam itu.
Tiga pasang mata merah.
Suara tawa mereka.
Tangan dan kakinya yang terikat oleh sihir.
Dan wajah pemimpin vampir yang semakin mendekat.
Fiona memejamkan mata.
“Jangan…”
Ia membuka mata kembali.
Napasnya sedikit tidak teratur.
Ia tidak ingin memikirkannya lagi.
Namun semakin ia mencoba melupakan—
semakin jelas ingatan itu muncul.
Suara tawa.
Bisikan.
Dan saat Darrien dipaksa berdiri jauh darinya.
Fiona menggenggam tangannya sendiri.
“Aku tidak ingin mengalami itu lagi.”
Ia menarik napas panjang.
Kemudian mengembuskannya perlahan.
“Aku harus tetap tenang.”
Ia tahu dirinya sudah berlatih.
Ia tahu bagaimana menggunakan sihirnya.
Ia juga tahu bahwa kekuatannya tidak lemah.
Namun rasa takut tidak selalu hilang hanya karena seseorang sudah belajar bertarung.
Dan malam itu—
ia benar-benar takut.
Bukan hanya karena para vampir.
Tetapi karena untuk sesaat—
ia mengira Darrien akan kehilangan dirinya lagi.
Seperti saat keluarga Ardika memisahkan mereka.
Fiona memejamkan mata.
“Tidak lagi.”
Ia membuka kedua tangannya.
Cahaya keemasan perlahan muncul.
Lembut.
Hangat.
Fiona mengatur napas.
Kali ini—
ia tidak membiarkan ingatan itu menguasainya.
Ia merasakan aliran sihirnya.
Kemudian mengubah bentuknya.
Cahaya berkumpul di telapak tangannya.
Menjadi lapisan tipis yang mengelilingi tubuhnya.
Sebuah pelindung.
Fiona mempertahankannya beberapa saat.
Kemudian mengubah alirannya.
Cahaya tersebut berkumpul menjadi satu titik kecil.
Ia memperhatikan energi itu.
“Kalau aku harus menghadapi sesuatu seperti itu lagi…”
Fiona memperkuat cahayanya.
“…aku tidak boleh hanya menunggu diselamatkan.”
Ia mengangkat tangannya.
Cahaya meluas.
Kemudian perlahan kembali mengecil.
Fiona mencoba memurnikan sisa energi gelap yang masih tertinggal dari salah satu latihan sebelumnya.
Cahaya menyentuh energi tersebut.
Perlahan—
energi gelap menghilang.
Fiona mengangguk kecil.
“Masih bisa.”
Ia kemudian menarik napas.
Dan sengaja menghentikan aliran sihirnya.
Cahaya padam.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada sisa energi besar.
Hanya beberapa kilau kecil yang melayang di udara sebelum ikut menghilang.
Fiona tersenyum tipis.
“Aku bisa mengendalikannya.”
Namun sebelum ia sempat berbalik—
sebuah suara terdengar dari kejauhan.
Langkah kaki.
Fiona langsung menegang.
Untuk sesaat—
bayangan tiga vampir kembali muncul dalam ingatannya.
Mata merah.
Taring.
Tawa.
Fiona mundur satu langkah.
Kemudian menyadari—
itu hanya suara tiupan angin dibalik dedaunan pohon.
Ia mengembuskan napas panjang.
“Tenang…”
Ia menekan dadanya sendiri.
“Ini bukan mereka.”
Fiona menutup mata.
Perlahan ketakutan itu kembali mereda.
Namun jauh di luar taman—
seseorang berdiri di antara pepohonan.
Elyon.
Ia baru saja kembali dari Lunaris.
Awalnya ia hanya melewati kediaman Rowan.
Namun ia merasakan perubahan energi.
Ia melihat Fiona menggunakan Sihir Cahaya.
Bukan sekali.
Beberapa kali.
Pengendalian yang cukup rapi.
Pelindung.
Pemurnian.
Kemudian—
Fiona memadamkan seluruh cahayanya dengan kemauannya sendiri.
Elyon menyipitkan mata.
“…”
Ini bukan seseorang yang baru menemukan kekuatannya.
Gadis itu sudah berlatih.
Dan ia tahu bagaimana mengendalikannya.
Namun tetap ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Elyon merasakan energi tersebut dari kejauhan.
Sihir Cahaya.
Tetapi sifatnya berbeda.
Lebih lembut.
Lebih dekat dengan kehidupan.
Dan tidak meninggalkan jejak yang mudah dilacak.
Elyon mengingat kembali kejadian di hutan.
Jejak yang tidak berhasil ia kenali.
Cahaya yang tidak bisa ia temukan dalam sisa energi pertarungan.
Kini ia mulai memiliki dugaan.
Bukan jawaban.
Hanya dugaan.
Tatapannya tertuju pada Fiona.
“Jadi…”
Ia bergumam pelan.
“Seberapa jauh sebenarnya kemampuanmu?”
Fiona tidak menyadari keberadaannya.
Ia hanya berdiri di tengah taman.
Menatap kedua tangannya.
Rasa takut itu masih ada.
Namun sekarang—
ia tahu satu hal.
Jika kejadian seperti malam itu kembali terjadi suatu hari nanti—
ia tidak ingin hanya berdiri dan menunggu Darrien datang menyelamatkannya.
Ia ingin bisa berdiri di sisinya.
Bukan di belakangnya.
