Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 464 — SUARA DI ANTARA ANGIN
Pagi di Shadowcresent selalu terasa berbeda setelah malam berlalu.
Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan ketika cahaya matahari perlahan menembus langit.
Di dalam istana, sarapan telah selesai.
Fiona meninggalkan ruang makan lebih dulu.
Raizen menyusul beberapa saat kemudian.
Seperti beberapa minggu terakhir, mereka tidak memiliki tujuan khusus.
Tidak ada urusan kerajaan yang harus dibicarakan.
Tidak ada tamu.
Tidak ada ancaman.
Hari itu hanya milik mereka.
Fiona berjalan melewati koridor dengan langkah ringan.
"Raizen."
"Hm?"
"Setelah ini kita ke taman?"
Raizen berjalan di sampingnya.
"Taman mawar?"
Fiona mengangguk.
"Ya."
"Kau belum bosan?"
Fiona langsung menoleh.
"Bosan?"
Ia terlihat sedikit tersinggung.
"Tidak mungkin."
Raizen tersenyum kecil.
"Aku hanya bertanya."
"Kalau begitu jangan bertanya lagi."
"Baik."
Fiona berjalan beberapa langkah di depannya.
Kemudian ia menoleh sambil tersenyum.
"Dan setelah taman..."
Ia berpikir.
"...aku mau teh."
"Teh?"
"Ya."
"Teh yang kemarin?"
Fiona mengangguk.
"Yang itu enak."
"Baik."
"Dan mungkin makanan manis."
Raizen mengangkat alis.
"Baru sarapan."
"Aku tahu."
Fiona tersenyum polos.
"Aku sudah memikirkan makanan berikutnya."
Raizen tertawa kecil.
"Kau memang mudah memikirkan makanan."
"Karena makanan penting."
"Aku tahu."
Mereka terus berjalan.
Percakapan kecil seperti itu sudah menjadi sesuatu yang biasa bagi mereka.
Tidak penting.
Tidak mendalam.
Namun justru hal-hal kecil seperti itulah yang membuat hari-hari mereka terasa hidup.
---
Tak lama kemudian—
mereka tiba di taman mawar.
Fiona langsung memperlambat langkah.
Mawar-mawar hitam bermekaran di sepanjang jalan batu.
Beberapa kelopak masih memiliki embun pagi.
Cahaya matahari menyentuh permukaannya dan membuat bunga-bunga itu terlihat hampir seperti terbuat dari kaca gelap.
Fiona mendekati salah satu tanaman.
Ia menunduk sedikit.
"Yang ini baru mekar."
Raizen berdiri di belakangnya.
"Ya."
Fiona menyentuh kelopak bunga dengan ujung jarinya.
"Warnanya lebih gelap dari yang kemarin."
"Karena sudah matang."
Fiona menoleh.
"Kau tahu semuanya tentang taman ini?"
"Hampir."
"Hampir?"
Raizen mengangguk.
"Beberapa tanaman hanya mekar pada waktu tertentu."
Fiona melihat sekeliling.
"Berarti setiap kali aku datang, mungkin ada sesuatu yang baru."
"Ya."
Fiona tersenyum.
"Bagus."
Ia kembali berjalan.
Raizen mengikutinya.
Kadang tangan mereka saling bersentuhan.
Kadang Fiona berhenti hanya untuk melihat bunga.
Kadang Raizen harus menunggu karena Fiona terlalu tertarik pada sesuatu yang sebenarnya sederhana.
Dan Raizen tidak pernah terlihat terganggu.
Ia hanya menunggu.
---
Mereka berjalan lebih jauh ke bagian taman yang lebih sepi.
Suara burung hampir tidak terdengar di sana.
Hanya angin pagi yang bergerak melewati pepohonan.
Fiona sedang berbicara tentang makanan yang ingin ia coba ketika tiba-tiba—
langkahnya berhenti.
Raizen langsung berhenti juga.
Ia menatap Fiona.
"Ada apa?"
Fiona tidak menjawab.
Ia perlahan menoleh ke belakang.
Tatapannya menyapu jalan yang baru saja mereka lewati.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Mawar bergerak perlahan.
Fiona berdiri diam.
Raizen memperhatikan perubahan kecil pada wajahnya.
"Fiona?"
Fiona berkedip.
Ia masih melihat ke arah belakang.
"Aku..."
Tangannya perlahan terangkat.
Satu jarinya menyentuh dagunya.
Keningnya berkerut.
Ia mencoba mengingat sesuatu.
"Tadi aku..."
Ia berhenti.
Raizen menunggu.
"Aku merasa..."
Fiona kembali melihat sekeliling.
"...seperti ada seseorang."
Raizen langsung menjadi lebih waspada.
"Seseorang?"
Fiona mengangguk kecil.
"Seperti..."
Ia memejamkan mata.
"...seseorang memanggil namaku."
Raizen tidak mengatakan apa-apa.
Tatapannya menyapu seluruh taman.
Ia merasakan udara.
Mendengarkan suara di sekitar mereka.
Tidak ada langkah.
Tidak ada energi asing.
Tidak ada aura lain.
Hanya angin.
Raizen kembali menatap Fiona.
"Di mana?"
Fiona membuka matanya.
"Itu masalahnya."
Ia tersenyum kecil, sedikit bingung.
"Aku tidak tahu."
"Kau mendengar suaranya?"
Fiona berpikir.
"Entahlah."
Ia menyentuh pelipisnya.
"Rasanya seperti..."
Ia berhenti lagi.
"...jauh."
Raizen menunggu.
Fiona kemudian menggeleng.
"Mungkin aku hanya membayangkannya."
Ia tertawa kecil.
"Entah kenapa akhir-akhir ini aku jadi aneh."
Raizen menatapnya beberapa detik.
"Kau tidak aneh."
Fiona mengangkat alis.
"Benarkah?"
"Ya."
"Kalau aku bilang aku mendengar seseorang memanggilku padahal tidak ada siapa-siapa?"
"Mungkin angin."
Fiona menatapnya.
"Angin bisa memanggil namaku?"
Raizen tersenyum tipis.
"Mungkin anginnya berbakat."
Fiona tertawa.
"Raizen..."
"Ya?"
"Kau tidak pandai menghibur orang."
"Aku tidak sedang mencoba menghiburmu."
"Lebih buruk lagi."
Raizen tertawa pelan.
Fiona akhirnya ikut tersenyum.
Namun beberapa detik kemudian—
senyumnya sedikit memudar.
Entah kenapa suara tadi masih terasa mengganggu pikirannya.
Bukan karena menakutkan.
Justru karena terasa...
familiar.
Ia tidak tahu kenapa.
Dan ia tidak tahu dari mana.
Fiona menatap jalan di belakang mereka sekali lagi.
Tetap kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Akhirnya ia menghela napas.
"Sudahlah."
Kemudian ia berbalik.
Namun bukannya kembali berjalan—
Fiona justru melangkah mendekati Raizen.
Raizen sempat mengangkat alis.
Fiona tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya meraih pakaian Raizen dan masuk ke dalam pelukannya.
Raizen langsung memahami.
Tangannya melingkari tubuh Fiona.
Lembut.
Tenang.
Ia menundukkan kepala.
Dagunya bertumpu di atas kepala Fiona.
Fiona menyandarkan wajahnya pada dadanya.
Beberapa saat mereka tidak berbicara.
Angin kembali bergerak.
Kelopak mawar hitam berjatuhan perlahan di sekitar mereka.
Fiona menghela napas.
"Nyaman."
Raizen mengusap punggungnya perlahan.
"Kalau begitu tetap di sini."
Fiona mengangguk kecil.
"Mm."
Raizen tidak bertanya lagi tentang suara itu.
Ia tidak memaksanya menjelaskan sesuatu yang bahkan Fiona sendiri tidak mengerti.
Ia hanya memeluknya.
Dan Fiona membiarkan dirinya berada di sana.
Beberapa menit berlalu.
Tidak ada yang terburu-buru.
Tidak ada yang perlu dilakukan.
Fiona akhirnya mendongak.
"Raizen."
"Hm?"
"Kalau aku benar-benar mendengar seseorang..."
Raizen menatap matanya.
"...dan ternyata bukan imajinasiku?"
Raizen terdiam sebentar.
Kemudian menjawab tenang.
"Kalau begitu kita akan mencari tahu siapa dia."
Fiona menatapnya.
"Besok?"
"Kalau kau mau."
Fiona tersenyum.
"Baik."
Kemudian ia kembali menyandarkan kepalanya.
"Tapi sekarang aku mau di sini dulu."
Raizen tersenyum.
"Baik."
Ia memeluk Fiona sedikit lebih erat.
Mereka kembali diam.
Di antara mawar-mawar hitam.
Di bawah cahaya pagi.
Untuk saat ini—
tidak ada alasan untuk mencari jawaban.
Dan Fiona pun membiarkan suara misterius itu pergi bersama angin.
Setidaknya untuk pagi ini.
