389. Batas Baru

Romance Completed 594

BAB 389 — BATAS BARU

Hari terakhir latihan sebelum mereka mengambil waktu untuk beristirahat—

Kevin berdiri di tengah hutan.

Darrien berada di hadapannya.

Tidak ada banyak kata.

Keduanya sudah memahami apa yang harus dilakukan.

Kevin mengangkat tangannya.

“Sekarang, gunakan semuanya.”

Darrien menarik napas.

Magicure di dalam tubuhnya bergerak.

Tenang.

Dalam.

Tidak ada chanting.

Tidak ada gerakan berlebihan.

Kemudian—

Darrien menghilang.

Kevin ikut menghilang.

***

Pertarungan berlangsung jauh lebih cepat daripada hari-hari sebelumnya.

Darrien menggunakan magic sense untuk membaca perubahan kecil di sekitarnya.

Kevin menyerang dari arah yang tidak terduga.

Darrien menghindar.

Berpindah.

Menyerang.

Menghilang.

Dark magic bergerak bersama tubuhnya.

Tidak lagi terasa seperti dua hal yang berbeda.

Movement dan magic telah menjadi satu.

Kevin meningkatkan kecepatannya.

Darrien mengikutinya.

Lebih cepat.

Lebih tajam.

Lebih tenang.

***

Di luar barrier—

Fiona dan yang lainnya kembali menyaksikan.

Ace mengerutkan kening.

“Sekarang aku benar-benar tidak bisa melihat mereka.”

Rowan mengangguk.

“Setidaknya kita masih bisa mendengar ledakannya.”

**BOOM!**

Ace menunjuk.

“Nah. Itu.”

Elarion tertawa.

“Sepertinya mereka masih baik-baik saja.”

Elyon memejamkan mata.

Ia mencoba merasakan magicure mereka.

Namun—

bahkan dirinya mulai kesulitan.

“Kecepatan mereka sudah jauh berbeda.”

Fiona hanya tersenyum.

“Darrien berkembang lebih cepat dari yang kukira.”

***

Di dalam hutan—

Kevin muncul.

Serangannya langsung menuju Darrien.

Darrien menghindar.

Namun Kevin sudah memprediksi gerakannya.

Serangan kedua datang.

Darrien berputar.

Serangan ketiga—

ia tidak menghindar.

Ia justru menghilang.

Kevin berhenti.

“…”

Tidak ada jejak.

Tidak ada aura.

Tidak ada magicure yang jelas.

Kevin memperluas magic sense.

Kosong.

Kemudian—

ia merasakan sesuatu.

Terlambat.

Darrien muncul tepat di belakangnya.

Dark magic sudah berada di tangannya.

Namun—

Darrien tidak menyerang.

Ia hanya berhenti beberapa sentimeter dari bahu Kevin.

Keduanya diam.

Kevin perlahan menoleh.

Darrien tersenyum.

“Ketemu.”

Hening.

Kemudian Kevin tertawa kecil.

“Bagus.”

Darrien menurunkan tangannya.

“Jadi…”

Ia menarik napas.

“…aku berhasil?”

Kevin mengangguk.

“Kali ini.”

Darrien tersenyum puas.

Namun Kevin langsung menambahkan,

“Jangan terlalu bangga.”

Darrien:

“….”

Kevin berbalik.

“Kau masih punya banyak hal yang harus dipelajari.”

Darrien menghela napas.

“Sudah kuduga.”

Kevin tersenyum.

“Tapi sekarang kau sudah melewati tahap dasar.”

Darrien terdiam.

Ia memandang tangannya.

Magicure-nya terasa berbeda.

Lebih dalam.

Lebih tenang.

Lebih mudah dikendalikan.

Ia tidak lagi sekadar meniru gerakan yang ia lihat dalam mimpinya.

Ia mulai memahami prinsip di baliknya.

Dan mungkin—

itu adalah langkah pertama menuju sesuatu yang jauh lebih besar.

***

Kevin berjalan keluar dari area latihan.

Darrien mengikutinya.

Saat melewati barrier—

Fiona langsung mendekat.

“Bagaimana?”

Darrien tersenyum.

“Aku berhasil mengejutkan Kevin.”

Ace langsung berseru,

“Serius?!”

Rowan menatap Kevin.

“Benarkah?”

Kevin mengangguk.

“Ya.”

Ace langsung tertawa.

“Darrien akhirnya menang!”

Kevin menoleh.

“Aku tidak mengatakan dia menang.”

Ace berhenti.

“Oh.”

Rowan tertawa.

“Dia hanya berhasil tidak kalah.”

Darrien menatap keduanya.

“Kalian…”

Fiona tertawa kecil.

Kemudian ia mendekati Darrien.

“Bagaimanapun juga…”

Ia tersenyum.

“…kau sudah berkembang jauh.”

Darrien menatapnya.

“Terima kasih.”

Fiona mengangguk.

“Sekarang kau boleh beristirahat.”

Darrien langsung tersenyum lega.

“Benarkah?”

Kevin dari belakang menjawab,

“Untuk hari ini.”

Darrien langsung menoleh.

“…Aku tidak suka kalimat itu.”

Semua tertawa.

***

Malamnya—

Darrien berdiri di balkon kamarnya.

Ia menatap bulan.

Pikirannya kembali kepada semua yang terjadi beberapa hari terakhir.

Grandmaster.

Magicure.

Dream.

Training.

Fiona.

Kevin.

Ia membuka telapak tangannya.

Dark magic muncul tipis.

Kemudian menghilang.

Darrien tersenyum.

Ia tahu—

perjalanannya belum selesai.

Namun untuk pertama kalinya—

ia tidak takut pada kekuatan yang perlahan muncul di dalam dirinya.

Ia akan membiarkannya tumbuh.

Sedikit demi sedikit.

Tanpa memaksa ingatan.

Tanpa mengejar masa lalu.

Karena sekarang—

ia memiliki masa kini yang ingin ia lindungi.

Dan seseorang yang ingin ia tetap berada di sisinya.

Fiona.

Darrien menatap bulan sekali lagi.

Kemudian tersenyum.

Besok—

mungkin ia akan beristirahat.

Untuk sementara.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience