181. Istana Yang Familiar

Romance Series 382

BAB 180
ISTANA YANG TERASA FAMILIAR

Perjalanan menuju Kerajaan Veyth akhirnya berakhir.

Darrien membawa Fiona masuk ke dalam istana.

Fiona masih tertidur.

Tidak ada tanda bahwa ia akan segera bangun.

Gloria terus memperhatikannya.

Sesekali matanya berpindah kepada Darrien.

Ada terlalu banyak hal yang ingin ia tanyakan.

Namun belum sekarang.

***

Edward membawa mereka menuju ruang istirahat kerajaan.

“Kalian semua bisa beristirahat di sini.”

Elarion mengangguk.

“Terima kasih, Yang Mulia.”

Edward tersenyum tipis.

“Kalian sudah membantu putraku.”

Darrien terdiam mendengar kata itu.

Namun ia tidak membantah.

Gloria memperhatikan reaksi putranya.

Kemudian berkata pelan,

“Kita akan berbicara nanti.”

Darrien mengangguk.

***

Setelah semuanya sedikit tenang—

Edward dan Gloria berbicara secara pribadi.

Gloria duduk sambil memikirkan sesuatu.

“Tanda itu…”

Edward mengangguk.

“Ya.”

“Jika benar-benar sama…”

“Maka kita memiliki bukti.”

Gloria menatap suaminya.

“Tapi bagaimana kita memastikannya?”

Edward terdiam.

Mereka tidak bisa begitu saja meminta Darrien membuka pakaiannya.

Mereka membutuhkan cara yang wajar.

Sebuah pemeriksaan.

Catatan lama.

Atau seseorang yang mengetahui tanda tersebut.

Gloria menundukkan kepala.

“Sudah terlalu lama.”

Edward menggenggam tangannya.

“Kita akan menemukannya.”

***

Di sisi lain—

Elarion, Elyon, Kevin, Rowan, dan Ace mulai berkumpul.

Pembicaraan mereka perlahan beralih kepada satu hal.

Fiona.

Kevin menatapnya dari kejauhan.

“Penampilannya…”

Rowan mengangguk.

“Berubah.”

Ace terdiam.

Elarion masih mengingat cahaya tadi.

“Itu bukan sekadar perubahan fisik.”

Elyon menyilangkan tangan.

“Aku bahkan tidak tahu harus menyebutnya apa.”

Kevin menatapnya.

“Kau Light Elf.”

Elyon menghela napas.

“Itulah masalahnya.”

Ia menatap Fiona.

“Aku belum pernah melihat Light Magic seperti itu.”

Elarion mengangguk.

“Dan Darrien?”

Semua mata berpindah kepada Darrien.

Darrien hanya berdiri diam.

Ia tidak mengatakan apa pun.

Tidak menjelaskan.

Tidak memberikan dugaan.

Tatapannya hanya tertuju kepada Fiona.

Kevin menghela napas.

“Dia tidak mau membicarakannya.”

Rowan tersenyum kecil.

“Biarkan dia.”

***

Sementara itu—

di dalam mimpi Fiona—

ia membuka matanya.

Ia tidak lagi berada di depan pintu.

Ia sudah berada di dalam istana.

Fiona berkedip.

Kemudian melihat sekeliling.

Aula kristal masih sama.

Namun kali ini—

ia duduk di atas singgasana.

Fiona menatap ke bawah.

“…”

Ia menyentuh sandaran singgasana.

Kristal dingin terasa nyata di bawah jarinya.

“Bagaimana aku bisa sampai di sini?”

Tidak ada jawaban.

Dua peri kecil kembali terbang di sekelilingnya.

Mereka tertawa kecil.

Fiona menatap mereka.

“Kalian…”

Salah satu terbang mendekat.

Kemudian yang lainnya berputar mengelilinginya.

Fiona tersenyum.

“Kalian ingin menunjukkan sesuatu?”

Mereka terbang menjauh.

Fiona akhirnya berdiri.

Ia turun dari singgasana.

Kemudian berjalan ke arah lorong yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Aula utama ternyata jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.

Ada banyak pintu.

Banyak lorong.

Banyak ruangan yang tersembunyi di balik dinding kristal.

Fiona berhenti di depan salah satunya.

Ia menyentuh gagangnya.

Pintu terbuka sendiri.

Cahaya lembut keluar dari dalam.

Fiona mengintip.

“Hmm…”

Ia melangkah masuk.

Ruangan itu berbeda dari aula utama.

Ada rak-rak tinggi.

Benda-benda kristal tersimpan di dalamnya.

Beberapa terlihat seperti perhiasan.

Beberapa seperti benda sehari-hari.

Namun semuanya memiliki satu kesamaan.

Kristal.

Fiona berjalan perlahan.

Dua peri kecil mengikuti di belakangnya.

Ia menyentuh salah satu benda.

Kemudian melihat sekeliling.

“Tempat apa ini?”

Tidak ada jawaban.

Namun anehnya—

Fiona tidak merasa takut.

Justru sebaliknya.

Tempat ini terasa…

familiar.

Terlalu familiar.

Seolah-olah ia pernah berjalan di lorong-lorong ini sebelumnya.

Namun pikirannya tidak mampu mengingatnya.

Fiona terus berjalan.

Dua peri kecil terbang di atas kepalanya.

Dan untuk pertama kalinya—

ia mulai menjelajahi istana kristal itu sendirian.

Tanpa mengetahui berapa banyak bagian dari dirinya sendiri yang mungkin masih tersembunyi di dalamnya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience