Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 303 — SETELAH KEKACAUAN
Malam akhirnya menjadi lebih tenang.
Setelah pemeriksaan panjang—
para healer akhirnya keluar dari ruang perawatan.
Seraphine segera mendekat.
“Bagaimana keadaannya?”
Salah satu healer menundukkan kepala.
“Lukanya sudah stabil, Yang Mulia.”
Seraphine menghela napas lega.
“Dan kondisinya?”
Healer itu terdiam sebentar.
“Untuk saat ini… aman.”
“Tapi?”
“Kami tidak menemukan alasan mengapa dia masih belum sadar.”
Ruangan menjadi sunyi.
Elyon menatap Fiona.
Elarion juga masih memeriksa beberapa catatan hasil pemeriksaan.
Tidak ada racun.
Tidak ada kerusakan besar pada organ.
Lukanya telah berhenti berdarah.
Energinya juga perlahan kembali stabil.
Namun Fiona—
tetap tidak bangun.
Salah satu healer menghela napas.
“Sejujurnya…”
Ia terlihat bingung.
“Kami tidak tahu apa lagi yang bisa dilakukan.”
Seraphine mengangguk pelan.
“Kalau begitu biarkan dia beristirahat.”
Para healer membungkuk.
“Baik.”
Mereka kemudian meninggalkan ruangan.
***
Satu demi satu—
anggota kelompok mulai kembali ke kamar masing-masing.
Ace sudah terlalu lelah untuk berbicara.
Rowan membawa buku yang masih ia genggam sejak pasar.
Kevin memastikan keadaan sekitar aman sebelum akhirnya pergi beristirahat.
Elarion juga akhirnya berhenti bekerja.
Bahkan Elyon yang sejak tadi bertahan di dekat Fiona mulai terlihat kelelahan.
“Darrien.”
Darrien menoleh.
“Kami akan kembali besok pagi.”
Darrien mengangguk.
“Pergilah.”
Elyon menatap Fiona sekali lagi.
Kemudian keluar bersama Elarion.
Pintu tertutup.
***
Ruangan menjadi sunyi.
Hanya suara napas Fiona yang terdengar.
Darrien masih duduk di samping tempat tidurnya.
Ia tidak tidur.
Tidak bergerak banyak.
Hanya diam.
Sesekali—
matanya turun melihat wajah Fiona.
Kemudian kembali menatap kosong ke depan.
Tangannya perlahan menyentuh tangan Fiona.
Hangat.
Masih ada.
Darrien menghela napas pelan.
“Kau membuat semua orang kacau malam ini.”
Tidak ada jawaban.
Ia tersenyum tipis.
“Bangunlah.”
Tetap tidak ada jawaban.
Darrien akhirnya menyandarkan tubuhnya pada kursi.
Namun tangannya tidak melepaskan tangan Fiona.
Ia akan tetap di sana.
***
Jauh dari ruang perawatan—
di bagian istana yang lain—
Crystal Hall masih gelap.
Tidak ada penjaga yang masuk.
Tidak ada aktivitas.
Kristal besar yang biasanya hanya memancarkan cahaya samar—
diam.
Namun malam itu—
sebuah denyut kecil muncul.
**…tik.**
Kemudian berhenti.
Beberapa detik kemudian—
**…tik.**
Cahaya sangat samar bergerak di dalam kristal.
Tidak cukup terang untuk menerangi ruangan.
Tidak cukup kuat untuk membangunkan siapa pun.
Namun—
denyut itu kembali.
**…tik.**
Seolah sesuatu di dalam kristal—
sedang merespons.
Tidak jauh dari sana—
Fiona masih terbaring dalam tidurnya.
Kalung dan gelang daun perak berada di tubuhnya.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui hubungan antara keduanya.
Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa Crystal Hall—
perlahan memberikan respons terhadap kehadiran Fiona.
Dan tidak ada seorang pun yang tahu—
apa yang sebenarnya sedang berusaha dibangunkan oleh denyut kecil itu.
***
Kembali di ruang perawatan—
Darrien masih duduk di samping Fiona.
Matanya mulai terasa berat.
Namun ia tidak tidur.
Ia hanya berbisik,
“Aku di sini.”
Fiona tetap tidak sadar.
Tetapi untuk sesaat—
jari Fiona bergerak sangat kecil di dalam genggamannya.
Darrien tidak menyadarinya.
Dan jauh di Crystal Hall—
sebuah denyut kecil kembali terdengar.
**…tik.**
Malam terus berjalan.
