Series
382
BAB 190
MAHKOTA YANG BERUBAH
Darrien akhirnya membawa Fiona kembali menuju kamarnya.
Bukan kamar Fiona.
Kali ini—
ia membawanya menuju kamarnya sendiri.
Fiona masih tertidur lelap di dalam pelukannya.
Darrien membuka pintu dengan satu tangan.
Kemudian membawa Fiona masuk.
Ia meletakkannya dengan hati-hati di tempat tidur.
Namun sebelum melepaskannya—
Fiona bergerak sedikit.
Tangannya secara refleks mencengkeram pakaian Darrien.
Darrien berhenti.
Ia menatap tangan kecil itu.
Kemudian menatap wajah Fiona.
“…”
Ia akhirnya duduk di sisi tempat tidur.
Tidak mengatakan apa pun.
Hanya memperhatikan wajah Fiona yang sedang tertidur.
Raut wajahnya terlihat jauh lebih tenang sekarang.
Tidak ada rasa takut.
Tidak ada ketegangan.
Hanya napas lembut yang teratur.
Darrien mengulurkan tangannya.
Ia merapikan beberapa helai rambut yang jatuh di wajah Fiona.
“Tidurlah.”
Fiona tidak menjawab.
Darrien tersenyum tipis.
Untuk saat ini—
ia tidak membutuhkan apa pun.
Tidak ada latihan.
Tidak ada penelitian.
Tidak ada pertempuran.
Hanya ingin memastikan Fiona baik-baik saja.
***
Sementara itu—
di dalam mimpi Fiona.
Fiona membuka matanya.
Ia berada di sebuah kamar.
Namun kamar itu bukan kamar yang baru saja diberikan kepadanya di Istana Veyth.
Dindingnya terbuat dari kristal.
Lantainya juga.
Cahaya lembut memenuhi ruangan.
Fiona duduk perlahan.
“…”
Ia menatap sekeliling.
“Di mana aku?”
Dua tiny elf langsung muncul.
Mereka terbang mengelilingi Fiona.
“Ah…”
Fiona menghela napas.
“Kalian lagi.”
Kedua tiny elf itu tertawa kecil.
Kemudian terbang menuju pintu.
Fiona berdiri.
“Kalian ingin aku mengikuti kalian lagi?”
Mereka terus tertawa.
Fiona menggeleng.
“Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kalian katakan.”
Namun ia tetap mengikuti.
***
Mereka berjalan melewati sebuah aula kristal yang panjang.
Fiona memperhatikan sekeliling.
Setiap kali ia berjalan—
perasaan familiar kembali muncul.
Seolah-olah ia pernah melewati tempat ini.
Namun ingatannya masih kosong.
Akhirnya kedua tiny elf berhenti di depan sebuah pintu.
Fiona berhenti.
“Di sini?”
Kedua tiny elf mengangguk dengan cara mereka sendiri.
Fiona membuka pintu.
***
Ruangan di baliknya jauh lebih tenang.
Tidak seperti aula utama.
Tidak banyak benda.
Namun ada satu hal yang langsung menarik perhatian Fiona.
Sebuah potret besar tergantung tinggi di dinding.
Fiona mendongak.
Matanya membesar.
Seorang wanita terlihat dalam lukisan tersebut.
Rambutnya panjang.
Wajahnya lembut.
Telinganya sedikit runcing.
Dan—
wajah itu sangat mirip dengannya.
Fiona berdiri terpaku.
“…”
Ia mendekat beberapa langkah.
“Siapa dia?”
Tidak ada jawaban.
Dua tiny elf hanya terbang di belakangnya.
Fiona kembali melihat lukisan tersebut.
Perasaan aneh muncul di dadanya.
Seperti mengenal seseorang—
yang seharusnya tidak ia kenal.
Namun sebelum ia bisa berpikir lebih jauh—
sesuatu di tengah ruangan menarik perhatiannya.
Sebuah meja kecil berdiri di sana.
Tingginya kira-kira hanya sampai pinggang Fiona.
Di atasnya—
terdapat cahaya ajaib yang melayang.
Cahaya itu perlahan bergerak.
Fiona mendekat.
Kemudian melihat sesuatu di dalamnya.
Sebuah mahkota.
Mahkota itu memiliki desain kristal yang indah.
Bagian tengahnya memiliki hiasan yang dirancang untuk diletakkan di dahi.
Fiona membelalakkan mata.
“Cantiknya…”
Mahkota itu perlahan melayang beberapa inci di atas meja.
Fiona mengamatinya.
Ia bahkan mengulurkan tangannya.
Namun kemudian menggeleng.
“Sayangnya terlalu besar untukku.”
Ia berpikir sejenak.
Kemudian berkata santai,
“Kalau dibuat versi gelang pasti lebih bagus.”
Dua tiny elf berhenti terbang.
Mereka menatap mahkota tersebut.
Fiona juga terdiam.
“Eh?”
Mahkota itu mulai bercahaya.
Cahayanya semakin terang.
“Apa?”
Fiona mundur.
“Kenapa?”
**WHOOOOSH!**
Cahaya memenuhi seluruh ruangan.
Fiona langsung menutup matanya.
“Aaah!”
Cahaya semakin kuat.
Mahkota tersebut berputar di udara.
Kristal-kristalnya berubah bentuk.
Kemudian—
sebuah kilatan cahaya putih memenuhi ruangan.
Cahaya perlahan mereda.
Mahkota itu sudah tidak lagi berada di atas meja.
Bentuknya telah berubah.
Kini menjadi sebuah gelang tipis yang indah.
Di bagian tengahnya terdapat sebuah simbol kecil—
daun perak.
Sama persis dengan simbol yang selama ini terdapat pada kalung Fiona.
Fiona menatapnya.
“Wah…”
Gelang itu perlahan melayang mendekatinya.
Fiona mengulurkan tangan.
Namun sebelum ia sempat menyentuhnya—
cahaya kembali memenuhi ruangan.
Fiona menutup matanya.
Ketika ia membukanya kembali—
ruangan itu kosong.
Gelang tersebut sudah tidak terlihat.
Fiona melihat sekeliling.
“Ke mana?”
Kedua tiny elf hanya tertawa kecil.
Fiona menghela napas.
“Kalian benar-benar aneh.”
Ia tidak tahu—
bahwa gelang kecil itu tidak benar-benar menghilang.
***
Fiona membuka matanya.
Pandangan pertamanya masih buram.
Ia melihat Darrien duduk di sampingnya.
Lengannya masih menopang tubuh Fiona.
“Darrien…?”
“Kau sudah bangun?”
Fiona berkedip.
Kemudian menyadari posisi dirinya.
Wajahnya langsung memerah.
Ia perlahan duduk.
Namun sesuatu bergerak kecil di pergelangan tangannya.
Fiona tidak memperhatikannya.
Gelang tipis berwarna lembut kini melingkar di pergelangan tangannya.
Di bagian tengahnya—
terdapat sebuah simbol kecil berbentuk daun perak.
Simbol yang sama seperti kalungnya.
Namun Fiona terlalu mengantuk untuk menyadarinya.
Ia hanya menguap.
“Hmm…”
Darrien tersenyum.
“Kau masih lelah?”
Fiona mengangguk.
“Sedikit…”
Ia kembali bersandar padanya.
Dan gelang itu—
diam-diam tetap berada di pergelangan tangannya.
Menunggu waktunya sendiri.
Share this novel