312. Makan Siang Untuk Sang Pasien

Romance Series 382

BAB 312 — MAKAN SIANG UNTUK SANG PASIEN

Kabar bahwa Fiona telah sadar menyebar dengan cepat ke seluruh Istana Lunaris.

Begitu mendengar kabar itu, Queen Seraphine langsung berdiri.

“Fiona sudah sadar?”

Pelayan yang membawa kabar itu segera mengangguk.

“Benar, Yang Mulia.”

Zeith yang sedang membaca di dekatnya langsung menutup bukunya.

“Kalau begitu, mari kita pergi.”

Seraphine tersenyum.

“Tentu.”

Keduanya segera menuju ruang perawatan.

***

Ketika pintu kembali terbuka—

Fiona mengangkat kepalanya.

Ia berkedip beberapa kali.

“Yang Mulia?”

Seraphine tersenyum hangat.

“Nah, akhirnya kau bangun juga.”

Ia mendekati tempat tidur dan memperhatikan keadaan Fiona.

“Bagaimana perasaanmu?”

“Lebih baik.”

“Masih terasa sakit?”

Fiona menggeleng.

“Tidak terlalu.”

Seraphine menghela napas lega.

“Kami semua sangat mengkhawatirkanmu.”

Fiona menundukkan kepala sedikit.

“Maaf.”

Zeith yang berdiri di samping Seraphine langsung berkata,

“Kau tidak perlu meminta maaf karena tertidur dalam keadaan terluka.”

Fiona menatapnya.

“Aku tidur selama tujuh hari.”

Zeith mengangguk.

“Benar.”

Fiona menghela napas.

“Itu cukup memalukan.”

Ace yang berada di belakang langsung tertawa.

“Kau melewatkan tujuh hari penuh!”

Fiona langsung menatapnya.

“Aku terluka!”

“Benar.”

Rowan tersenyum.

“Tapi kau tetap bangun dalam keadaan lapar.”

Fiona langsung memasang wajah serius.

“Itu tidak ada hubungannya.”

Darrien yang berdiri di sampingnya mengangguk tenang.

“Dia benar.”

Semua orang menatap Darrien.

Fiona juga menatapnya.

Kemudian Darrien menambahkan dengan santai,

“Dia memang selalu lapar.”

“DARRIEN!”

Tawa langsung memenuhi ruangan.

Bahkan Seraphine menutup mulutnya, berusaha menahan tawa.

***

Setelah suasana sedikit lebih tenang—

Seraphine menoleh kepada healer.

“Apakah dia sudah boleh makan?”

Healer mengangguk.

“Sudah, Yang Mulia. Namun sebaiknya mulai dengan makanan yang ringan dan mudah dicerna.”

Mata Fiona langsung berbinar.

“Makanan seperti apa?”

Healer tersenyum.

“Yang mudah dicerna.”

Bahu Fiona langsung turun.

“Oh…”

Darrien langsung mengetahui apa yang ada di pikirannya.

“Kau berharap dessert.”

Fiona memalingkan wajah.

“…Sedikit.”

Seraphine tertawa kecil.

“Kalau begitu, kita buat sederhana saja.”

Ia menoleh kepada pelayan.

“Siapkan makan siang.”

Pelayan membungkuk.

“Baik, Yang Mulia.”

Zeith mengangkat alis.

“Untuk semua?”

Seraphine mengangguk.

“Untuk semua.”

Ace langsung tersenyum.

“Sekarang itu keputusan yang bagus.”

Rowan ikut mengangguk.

Kevin tetap diam, namun ekspresinya terlihat lebih santai.

Setelah semua kekacauan selama seminggu terakhir—

makan bersama dengan tenang terdengar seperti sesuatu yang sangat mereka butuhkan.

***

Tidak lama kemudian—

ruang makan Istana Lunaris kembali dipenuhi suasana hidup.

Berbagai makanan disajikan.

Sup hangat.

Sayuran lembut.

Nasi.

Beberapa lauk ringan.

Dan—

satu piring kecil berisi dessert.

Fiona langsung menatapnya.

Darrien menyadarinya.

“Kau boleh memakannya nanti.”

Fiona mengangguk patuh.

“Baik.”

Elyon memperhatikannya.

“Sepertinya kau memang sudah mulai pulih.”

Elarion mengangguk.

“Setidaknya energinya cukup untuk menatap dessert selama beberapa menit.”

Fiona langsung menoleh.

“Aku bisa mendengarnya.”

Ace tertawa.

Rowan ikut tertawa.

Bahkan sudut bibir Kevin sedikit terangkat.

Seraphine memperhatikan mereka semua.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari—

istana tidak lagi terasa seperti ruang darurat.

Rasanya kembali seperti rumah.

Fiona perlahan mengambil sendoknya.

Ia melihat sekeliling meja.

Semua orang ada di sana.

Darrien.

Elyon.

Elarion.

Ace.

Rowan.

Kevin.

Seraphine.

Zeith.

Fiona tersenyum.

Setelah semua yang terjadi—

mungkin makan siang sederhana seperti ini memang yang paling ia butuhkan.

Ia mengambil suapan pertama.

Kemudian—

matanya kembali melirik dessert.

Darrien menghela napas.

“Kau bahkan belum menghabiskan supmu.”

Fiona tersenyum polos.

“Aku cuma melihat.”

“Ya. Tentu saja.”

Tawa kecil kembali terdengar di sekitar meja.

Namun jauh di dalam istana—

Crystal Hall kembali memberikan denyut samar.

…tik.

Tidak ada seorang pun yang menyadarinya.

Bahkan Fiona.

Belum.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience