443. Gunung Yang Membaca Langkah

Romance Completed 594

BAB 443 — GUNUNG YANG MEMBACA LANGKAH

Hari ketiga di pegunungan Shadowcresent.

Kabut pagi perlahan terangkat dari antara pepohonan.

Veyth masih berjalan.

Tidak cepat.

Tidak lambat.

Hanya terus maju.

Sepatu mereka sudah dipenuhi lumpur. Beberapa bagian pakaian mereka kotor akibat perjalanan panjang, sementara wajah Ace sudah menunjukkan ekspresi seseorang yang mulai mempertanyakan seluruh keputusan hidupnya.

Ace menghela napas.

"Berapa hari lagi?"

Kevin menjawab tanpa menoleh.

"Entahlah."

"Berapa malam?"

"Entahlah."

"Berapa kali kita dipindahkan?"

Rowan menjawab kali ini.

"Empat belas."

Ace terdiam.

"Lima belas."

Kevin mengoreksi.

Ace menatapnya.

"Kenapa kau menghitung?"

"Karena aku masih waras."

Ace mengangguk pelan.

"Berarti aku sudah kehilangan itu sejak kemarin."

Elarion menggeleng kecil.

Namun kali ini tidak ada yang benar-benar tertawa lama.

Mereka semua mulai memahami sesuatu.

Pegunungan Shadowcresent bukan sekadar tempat yang penuh jebakan.

Tempat ini bereaksi terhadap mereka.

Setiap pilihan yang mereka ambil meninggalkan jejak.

Setiap kesalahan memberi informasi kepada pertahanan wilayah tersebut.

Darrien berhenti.

"Ada sesuatu."

Elyon ikut berhenti.

"Apa?"

Darrien memandang tanah.

"Jangan bergerak dulu."

Semua menahan langkah.

Beberapa detik berlalu.

Tidak terjadi apa-apa.

Ace perlahan menatap Darrien.

"Kalau ternyata cuma daun..."

Darrien mengangkat satu jari.

Angin bergerak tipis.

Daun-daun di depan mereka bergeser.

Lalu terlihat sesuatu.

Tiga batu kecil.

Masing-masing memiliki tanda berbeda.

Rowan mendekat.

"Rune penanda."

Elarion berjongkok.

"Yang ini baru."

Kevin memperhatikan pola di sekelilingnya.

"Berarti perangkap?"

"Belum tentu."

Elyon menyentuh salah satu batu tanpa mengaktifkannya.

"Ini bukan perangkap."

Ia menatap jalur di depan.

"Ini pilihan."

Darrien mengangguk.

"Shadowcresent sedang menunggu kita memilih."

Ace memandang ketiga batu tersebut.

"Dan kalau kita salah?"

Tidak ada yang menjawab.

Ace menghela napas.

"Baik. Aku sudah tahu jawabannya."

Mereka tidak langsung memilih.

Kali ini mereka berdiskusi.

Jalur pertama memiliki residu energi yang sangat tipis.

Jalur kedua tampak lebih aman.

Jalur ketiga hampir tidak memiliki jejak sihir sama sekali.

Biasanya mereka akan memilih jalur dengan energi paling sedikit.

Namun sekarang mereka tahu...

Shadowcresent sudah mengetahui kebiasaan mereka.

Elarion menyadarinya lebih dulu.

"Kalau sistem ini benar-benar membaca respons kita..."

Ia menatap jalur kedua.

"...maka jalur yang terlihat paling aman mungkin justru pilihan yang diharapkan."

Kevin mengangguk.

"Jadi kita harus berhenti memilih berdasarkan pola lama."

Darrien menatap tiga jalur tersebut.

"Kita tidak mencari jalan yang aman."

Elyon tersenyum tipis.

"Kita mencari jalan yang paling masuk akal."

Mereka memilih jalur pertama.

Beberapa langkah berlalu.

Tidak ada apa-apa.

Lalu...

sebuah suara terdengar dari kejauhan.

Suara langkah kaki.

Ace langsung menoleh.

"Siapa?"

Tidak ada siapa-siapa.

Suara itu terdengar lagi.

Kali ini dari sisi lain.

Rowan mengerutkan kening.

"Ilusi suara?"

Elarion menggeleng.

"Bukan."

Darrien menutup mata.

Ia merasakan getaran tanah.

"Jejak lama."

Mereka semua terdiam.

Shadowcresent tidak menciptakan suara palsu.

Ia memutar jejak suara yang pernah tercipta di tempat itu.

Langkah kaki mereka sendiri.

Dari beberapa menit sebelumnya.

Ace memandang sekeliling.

"Jadi gunung ini memutar kembali suara kita?"

"Sepertinya."

Ace menatap tanah.

"Dia benar-benar menyimpan dendam."

Kevin menahan senyum.

"Gunung tidak punya dendam."

Ace menunjuk ke belakang.

"Kalau begitu kenapa rasanya seperti dia sengaja menggangguku?"

Tidak ada jawaban.

Namun untuk pertama kalinya...

mereka mulai memahami aturan sebenarnya.

Shadowcresent tidak selalu menyerang.

Kadang ia hanya mengembalikan pilihan mereka kepada mereka sendiri.

Mereka terus bergerak.

Dan semakin lama mereka berada di sana, semakin jelas satu hal.

Gunung itu bukan sekadar penghalang.

Ia adalah sistem pertahanan yang terus membaca mereka.

Mufasa menerima laporan dari salah satu penyihir vampir.

"Mereka berhasil melewati zona gema."

Mufasa menatap kristal komunikasi.

"Mereka semakin pintar."

"Haruskah kita meningkatkan tingkat kesulitan?"

Mufasa berpikir sejenak.

"Ya."

Ia menatap pegunungan.

"Tapi jangan terlalu cepat."

"Kenapa?"

Mufasa tersenyum tipis.

"Kalau mereka terus merasa ada kemajuan..."

Ia berhenti sebentar.

"...mereka akan terus maju."

Sang penjaga memahami maksudnya.

Bukan karena Mufasa ingin membantu mereka.

Justru sebaliknya.

Ia ingin melihat berapa lama mereka bisa bertahan sebelum akhirnya memilih untuk menyerah.

Namun jauh di dalam pikirannya...

Mufasa mulai memiliki keraguan.

Veyth sudah berada di pegunungan selama berhari-hari.

Dan mereka masih berjalan.

Masih mencari.

Masih belajar.

Masih mengejar satu nama.

Fiona.

Mufasa menghela napas.

"Benar-benar keras kepala."

Ia kembali menatap kristalnya.

"Kalau begini terus..."

"...entah siapa yang lebih dulu lelah."

Di kejauhan, Veyth terus bergerak.

Tanpa mengetahui bahwa pegunungan itu juga sedang belajar.

Dan tanpa mengetahui...

bahwa seseorang di dalam istana sudah mulai memperhatikan mereka.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience