Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 362 — MIMPI YANG KEMBALI
Malam semakin larut.
Setelah semua orang kembali ke kamar masing-masing, istana akhirnya benar-benar sunyi.
Fiona berjalan menyusuri lorong bersama Darrien.
Tidak ada percakapan yang berarti.
Hari itu terlalu panjang.
Piknik.
Pasar.
Danau.
Percakapan.
Semuanya membuat tubuh mereka terasa lelah.
Ketika mereka tiba di depan kamar Darrien—
Fiona mengira mereka hanya akan berhenti sebentar.
Namun Darrien membuka pintu.
“Masuk.”
Fiona berkedip.
“Kenapa?”
Darrien menatapnya.
“Karena aku ingin memastikan sesuatu.”
Fiona langsung curiga.
“Memastikan apa?”
Darrien tidak menjawab.
Ia hanya berjalan masuk.
Fiona mengikutinya dengan ragu.
Begitu pintu tertutup—
sebuah lapisan tipis dark magic menyelimuti seluruh ruangan.
Tidak kuat.
Tidak mengancam.
Hanya sebuah penghalang lembut yang menutup suara dan menjaga privasi mereka.
Fiona melihat sekeliling.
“Darrien…”
“Tenang.”
Darrien mendekatinya.
Kemudian—
Darrien membawa Fiona ke atas tempat tidur.
Setelah berbaring, ia menarik Fiona ke dalam pelukannya dan membiarkannya bersandar nyaman di dadanya.
Fiona membeku.
“…”
Jantungnya langsung berdetak lebih cepat.
Ia bisa merasakan dada Darrien.
Merasakan napasnya.
Merasakan kedua lengannya yang memeluknya dengan tenang.
Fiona menelan ludah.
“Darrien…”
“Hm?”
“Apa yang kau lakukan?”
Darrien menjawab dengan suara tenang.
“Tidak melakukan apa-apa.”
“Lalu kenapa memelukku?”
Darrien mempererat pelukannya sedikit.
“Jangan khawatir.”
Ia menundukkan kepalanya.
“Aku tidak akan melakukan apa-apa.”
Fiona semakin bingung.
“Lalu?”
“Aku hanya ingin memelukmu sebentar.”
Fiona terdiam.
Darrien tersenyum kecil.
“Untuk memastikan kau tidak melarikan diri lagi.”
Fiona langsung memerah.
“Aku tidak selalu melarikan diri!”
Darrien tertawa pelan.
“Benarkah?”
Fiona mengangkat wajahnya.
“Ya.”
“Baiklah.”
Darrien kembali memeluknya.
“Kalau begitu, tetap di sini.”
Fiona mendengus kecil.
Namun ia tidak menolak.
Ia hanya berdiri dalam pelukannya.
Awalnya tubuhnya masih tegang.
Namun perlahan—
bahunya mulai rileks.
Tidak ada sesuatu yang terjadi.
Darrien benar-benar hanya memeluknya.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Fiona akhirnya menghela napas.
“…Kau aneh.”
“Hmm.”
“Kau bahkan tidak mengatakan apa-apa.”
“Aku sedang menikmati.”
“Menikmati apa?”
“Memelukmu.”
Fiona terdiam lagi.
Wajahnya kembali memerah.
“…Dasar.”
***
Beberapa menit berlalu.
Fiona tidak tahu kapan tepatnya—
napas Darrien berubah.
Awalnya masih teratur.
Kemudian semakin dalam.
Semakin lambat.
Fiona mengangkat kepala.
“Darrien?”
Tidak ada jawaban.
Ia melihat wajahnya.
Darrien sudah tertidur.
Fiona berkedip.
“…”
Ia menatapnya beberapa detik.
Kemudian—
tertawa kecil.
“Stupid Darrien.”
Pria itu benar-benar tertidur sambil memeluknya.
Fiona menggeleng.
Namun bukannya melepaskan diri—
ia justru membalas pelukannya.
Kepalanya bersandar pada dada Darrien.
“Kalau sudah mengantuk…”
Ia tersenyum kecil.
“…tidur saja.”
Beberapa saat kemudian—
Fiona juga menutup matanya.
Ruangan menjadi sunyi.
Dark magic yang mengelilingi kamar tetap berdenyut lembut.
Menjaga kedamaian mereka.
***
MIMPI
Darrien membuka mata.
Ia kembali berada di tempat yang sama.
Danau.
Pohon besar.
Angin lembut.
Permukaan air yang tenang.
Ia duduk di bawah pohon.
Namun kali ini—
ada sesuatu yang berbeda.
Ia merasakan sesuatu di sampingnya.
Seseorang.
Darrien menoleh.
Dan langsung terdiam.
Fiona.
Ia sedang tidur dengan tenang.
Tubuhnya bersandar pada bahu Darrien.
Kepalanya berada tepat di dekat lehernya.
Dan tangan Darrien—
sedang memeluknya.
Darrien mengerutkan kening.
“…”
Ia melihat sekeliling.
“Kenapa aku kembali ke sini?”
Ia masih mengingat dengan jelas.
Tadi ia berada di kamarnya.
Ia memeluk Fiona.
Kemudian—
tidur.
Namun sekarang—
ia berada di bawah pohon ini.
Bersama Fiona.
Darrien perlahan melihat tangannya.
Kemudian melihat pakaian yang dikenakannya.
Ia terdiam.
Pakaian itu berbeda.
Bukan pakaian yang ia kenakan sekarang.
Lebih formal.
Lebih tua.
Dengan detail yang bahkan terasa asing baginya.
Ia melihat Fiona.
Pakaiannya juga berbeda.
Bukan pakaian yang dikenakannya sekarang.
Darrien menyentuh kain di lengannya.
“…”
Perasaan aneh kembali muncul.
Ia kemudian menarik napas.
Dan saat itulah—
ia menyadari sesuatu.
Magicure.
Udara di sekitarnya terasa berbeda.
Jauh lebih murni.
Lebih padat.
Lebih hidup.
Bahkan angin yang bergerak di antara pepohonan terasa membawa magicure alami.
Darrien perlahan mengangkat tangannya.
Dark magic mengalir samar di telapak tangannya.
Ia menatapnya.
Kekuatan itu terasa…
familiar.
Terlalu familiar.
Namun Darrien tidak memaksakan pikirannya untuk mencari jawabannya.
Ia hanya memperhatikan.
Ia melihat danau.
Melihat pepohonan.
Merasakan udara.
Merasakan magicure.
Merasakan keberadaan Fiona di sampingnya.
Semua terasa nyata.
Namun sekaligus—
terlalu berbeda dari dunia yang ia kenal sekarang.
Darrien menutup tangannya.
Dark magic itu menghilang.
Ia kembali melihat pemandangan.
“Jadi…”
Ia bergumam pelan.
“Ini dunia yang pernah kulihat sebelumnya.”
Ia tidak tahu apakah ini mimpi.
Ingatan.
Atau sesuatu yang lain.
Namun kali ini—
ia tidak mencoba mencari jawabannya.
Ia hanya ingin memahami.
Bagaimana dunia ini bekerja.
Bagaimana magicure bergerak.
Bagaimana sihir terasa.
Bagaimana udara di sini begitu berbeda.
Dan kenapa—
tubuhnya merasa begitu nyaman di dalamnya.
Darrien menatap Fiona yang masih tertidur di bahunya.
Tangannya secara naluriah mempererat pelukan.
“Tidurlah.”
Fiona tidak menjawab.
Darrien kembali melihat danau.
Ia tidak mengatakan apa pun lagi.
Tidak mencoba memaksa ingatan.
Tidak mencoba mencari nama.
Tidak mencoba membuka masa lalu.
Untuk malam ini—
ia hanya mengamati.
Merasakan.
Dan membiarkan dunia kuno itu menunjukkan dirinya sedikit demi sedikit.
***
Di kejauhan—
angin bergerak melewati pepohonan.
Magicure murni mengalir di udara.
Dan untuk pertama kalinya—
Darrien mulai menyadari bahwa mimpi-mimpi itu mungkin bukan sekadar mimpi.
Namun ia belum tahu—
apa yang sebenarnya sedang ia lihat.
Dan untuk sekarang—
ia tidak perlu tahu.
Ia hanya akan menunggu.
Sampai jawabannya datang sendiri.
