230. Ketika Guru Mulai Serius

Romance Series 382

BAB 230

BOOM!

Gelombang energi kembali menghantam seluruh battlefield.

Barrier di sekeliling arena bergetar.

Fiona refleks melangkah mundur.

Ace dan Rowan langsung mengangkat tangan untuk melindungi wajah mereka dari debu yang beterbangan.

Elarion tetap berdiri tenang.

Matanya tidak pernah meninggalkan arena.

Di dalam battlefield—

Darrien masih berdiri.

Napasnya mulai berat.

Keringat membasahi wajahnya.

Tangannya terasa sedikit bergetar.

Namun matanya—

masih tajam.

Di depannya, Kevin berdiri dengan tenang.

Tidak ada perubahan pada napasnya.

Tidak ada tanda kelelahan.

Seolah-olah pertarungan tadi hanyalah pemanasan.

Darrien mengusap sudut bibirnya.

“Kau…”

Ia menarik napas.

“…benar-benar monster.”

Kevin mengangkat alis.

“Aku sudah mendengar itu sebelumnya.”

Darrien tertawa kecil.

“Dan kau bangga?”

“Tidak.”

Kevin mengambil posisi lagi.

“Aku hanya terbiasa.”

Darrien menggeleng.

Kemudian kembali mengambil posisi.

“Baiklah.”

Tatapannya menjadi serius.

“Sekali lagi.”

Kevin tersenyum tipis.

“Bagus.”

***

Di luar barrier—

Fiona memperhatikan setiap gerakan.

Ia mulai menyadari sesuatu.

Setiap kali Kevin meningkatkan kecepatannya—

Darrien tidak lagi panik.

Ia memang masih kesulitan.

Namun ia tidak kehilangan kendali.

Ia mengubah posisi.

Mengatur napas.

Membaca gerakan.

Kemudian menyerang ketika ada kesempatan.

Fiona tersenyum.

“Dia benar-benar berubah.”

Elarion mengangguk.

“Dalam beberapa hari terakhir.”

“Dia belajar lebih banyak daripada yang dia sadari.”

Fiona menatap arena.

“Dan aku juga…”

Elarion menoleh.

Fiona mengangkat tangannya.

Cahaya tipis muncul di telapak tangannya.

Sangat kecil.

Namun stabil.

Elarion memperhatikannya.

“Kau mulai memahami sesuatu?”

Fiona mengangguk.

“Sedikit.”

Ia melihat cahaya tersebut.

“Ketika aku melihat bagaimana Kevin bergerak…”

“Aku bisa merasakan perubahan aliran energi sebelum gerakannya terjadi.”

Elarion tersenyum.

“Jangan hanya melihat.”

“Rasakan.”

Fiona mengangguk.

Ia kembali memusatkan perhatian pada battlefield.

***

Di dalam arena—

Kevin bergerak.

Darrien menghindar.

Serangan berikutnya datang.

Darrien menangkis.

Kemudian—

ia melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.

Ia berhenti mengejar Kevin.

Sebaliknya—

ia menunggu.

Kevin muncul di sisi kanannya.

Darrien langsung berputar.

**BAM!**

Serangan Darrien mengenai lengan Kevin.

Kevin mundur.

Darrien tersenyum.

“Kena.”

Kevin melihat lengannya.

Kemudian menatap Darrien.

“Bagus.”

Darrien mengambil napas.

“Sekarang…”

Ia maju.

Kevin menunggu.

Darrien menyerang.

Kevin menangkis.

Darrien mengubah arah.

Kevin menghindar.

Darrien tidak memaksakan serangan.

Ia mundur.

Menunggu.

Kemudian menyerang lagi.

Pergerakan mereka menjadi semakin cepat.

Debu memenuhi arena.

Cahaya sihir beradu.

BAM!

BOOM!

WHOOSH!

Setiap benturan membuat barrier kembali bergetar.

Namun—

Darrien masih bertahan.

***

Ace menatap arena dengan mata membesar.

“Dia bertahan selama ini…”

Rowan mengangguk.

“Dan Kevin masih belum benar-benar serius.”

Ace terdiam.

“Kalau Kevin benar-benar serius…”

Rowan tidak menjawab.

Elarion akhirnya berkata,

“Jangan pikirkan itu.”

Keduanya menoleh.

Elarion masih melihat arena.

“Darrien belum perlu melawan Kevin dalam kondisi penuh.”

“Yang perlu dia lakukan adalah belajar.”

Fiona mengangguk.

“Dan dia sedang melakukannya.”

***

Di dalam arena—

Darrien kembali menyerang.

Namun kali ini—

Kevin tidak menghindar.

Ia menunggu.

Darrien mengerutkan kening.

“Apa?”

Kevin tersenyum.

“Kau mulai terlalu percaya diri.”

Darrien langsung menyadari sesuatu.

Terlambat.

Kevin menghilang.

Darrien berbalik.

Namun Kevin sudah berada tepat di belakangnya.

Tangannya berhenti hanya beberapa sentimeter dari leher Darrien.

Darrien membeku.

“…”

Kevin tidak menyerang.

Ia hanya berkata,

“Kalau ini pertarungan sungguhan…”

“kau sudah mati.”

Darrien menelan ludah.

Kemudian mengangguk.

“Aku tahu.”

Kevin menarik tangannya.

“Bagus.”

Darrien berbalik.

“Aku akan belajar.”

Kevin mengangguk.

Namun sebelum Darrien kembali mengambil posisi—

Kevin tiba-tiba melihat ke arah luar barrier.

Tatapannya berhenti pada Fiona.

Fiona berkedip.

“Kenapa?”

Kevin tidak langsung menjawab.

Ia memperhatikan cahaya tipis yang masih muncul di tangan Fiona.

Kemudian—

ia melihat Darrien.

Lalu kembali kepada Fiona.

Senyum kecil muncul di wajahnya.

“Menarik.”

Fiona mengerutkan kening.

“Apa?”

Kevin tidak menjawab.

Ia hanya kembali mengambil posisi.

Darrien menatapnya bingung.

“Kau melihat apa?”

Kevin tersenyum.

“Tidak ada.”

Namun nada suaranya membuat Darrien semakin curiga.

“…”

Fiona juga menatap tangannya sendiri.

Cahaya kecil itu perlahan menghilang.

Elarion memperhatikan Fiona.

Ekspresinya menjadi sedikit lebih serius.

Karena ia juga melihatnya.

Kevin bukan hanya memperhatikan Darrien.

Dia mulai memperhatikan **Fiona.**

Dan entah kenapa—

hal itu membuat Elarion merasa bahwa latihan hari ini mungkin akan berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih menarik.

Kevin kembali berbicara.

“Darrien.”

“Ya?”

“Besok…”

Kevin berhenti sebentar.

Kemudian tersenyum.

“Bawa Fiona masuk ke battlefield.”

Semua orang langsung terdiam.

Fiona membelalakkan mata.

Darrien menatap Kevin.

“Apa?”

Kevin hanya tersenyum.

“Besok kita naik satu tingkat lagi.”

Fiona:

“…”

Darrien:

“…”

Ace dan Rowan saling berpandangan.

Elarion terdiam.

Dan untuk pertama kalinya sejak latihan dimulai—

tidak seorang pun tertawa.

Karena mereka semua tahu—

**besok, latihan ini tidak lagi hanya tentang Darrien.**

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience